PRESIDEN PADA PERINGATAN NUZULUL QUR’AN: AGAMA MENGAJARKAN HIDUP BERDISIPLIN

PRESIDEN PADA PERINGATAN NUZULUL QUR’AN: AGAMA MENGAJARKAN HIDUP BERDISIPLIN

 

Jakarta, Merdeka

Agama dapat berbuat banyak untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya disiplin dalam kehidupan berbangsa. Sebab, semua agama mengajarkan hidup yang berdisiplin.

Penegasan tersebut dikemukakan Presiden Soeharto dalam sambutannya pada peringatan Nuzulul Quran di Masjid Istiqlal Jakarta, Selasa malam. Kepala Negara mengharapkan, agar seluruh umat beragama berlomba-lomba dalam memajukan serta meningkatkan kualitas kehidupan bangsa. Salah satu usaha yang perlu dilakukan bersama saat ini adalah peningkatan disiplin nasional.

“Setiap pemeluk agama dituntut untuk mematuhi norma-norma yang diajarkan agama. Karena itu, penegakan disiplin nasional dalam kehidupan bangsa kita yang religius ini sebenarnya mempunyai akar-akar yang kuat. Jadi, hal ini merupakan tantangan yang harus dijawab oleh para alim ulama, ruhaniawan dan semua pemuka agama bangsa Indonesia,” katanya. Dalam awal sambutannya Presiden Soeharto mengatakan, bagi kaum muslimin Nuzulul Qur’an mempunyai arti yang sangat penting.

Peristiwa besar itu menandai datangnya zaman baru, zaman kenabian Muhammad SAW yang diutus ke dunia untuk membawa pesan dan rahmat bagi seluruh umat manusia. Kepala Negara menjelaskan, Allah sendiri dalam Al Qur’an menegaskan bahwa Kitab ini diturunkan untuk membawa kecerahan dalam kehidupan manusia.

Mengangkat mereka dari lembah kegelapan ke alam yang terang penuh cahaya. “Bagi kaum muslimin Al Qur’an adalah pedoman hidup ia diturunkan, agar kehidupan kita memperoleh keselamatan di dunia dan di akhirat nanti,” tuturnya.

Dikatakan, Kitab Suci AI Quran mengandung ajaran-ajaran luhur, yang kalau diikuti dengan sepenuh hati, akan mengantarkan manusia ke kehidupan yang cerah. Oleh karena itu, setiap kali memperingati Nuzulul Qur’an, perlu direnungkan sedalam­ dalamnya bahwa ayat yang pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW itu justru mengandung perintah membaca, Iqra,

“Hal ini menyadarkan kita bahwa untuk menikmati kehidupan yang cerah, kita harus memulai dengan peningkatan kecerdasan dan ilmu pengetahuan.” kata Kepala Negara.

Ditegaskan bangsa Indonesia telah membulatkan tekad, bahwa kehidupan bersama yang cerah akan dicapai melalui pembangunan nasional. Pembangunan sebagai pengamalan Pancasila itu adalah pembangunan lahir bathin, pembangunan masyarakat maju yang berakhlak.

Karena itulah isyarat Al Qur’an agar manusia meningkatkan kecerdasan dan penguasaan ilmu pengetahuan, harus dirasakan sebagai dorongan untuk memperbesar sumbangan kaum muslimin dalam pembangunan bangsa.

Bagi kaum Muslimin Nuzulul Qur’an mempunyai arti penting. Peristiwa itu menandai datangnya zaman baru, zaman kenabian Muhammad SAW yang diutus ke dunia untuk membawa pesan dan rahmat bagi seluruh umat manusia. Presiden Soeharto

Optimis

Presiden menyadari sejak semula bahwa pembangunan bangsa bukanlah tugas yang ringan. Tantangan yang dihadapi tidak kecil. Berbagai hambatan juga harus dilalui.

”Namun, semuanya itu tidak membuat kita kecil hati. Sebagai kaum muslimin kita perlu terus menerus menghayati pesan Al Qur’an yang melarang kita berputus asa terhadap rahmat Tuhan. Dia memberikan kabar gembira kepada kita bahwa dibalik kesukaran akan selalu ada kemudahan. Dia mengajarkan kita untuk selalu bersikap optirnis,”katanya.

Sikap optimis dalam menghadapi berbagai tantangan dan hambatan memang sangat diperlukan .Betapapun besarnya tantangan dan hambatan yang dihadapi, tentunya tidak boleh membuat bangsa Indonesia kehilangan akal dan harapan.Hal itu hendaknya justru harus membuat kita lebih bekerja keras.

Diingatkan, salah satu tantangan besar yang dihadapi adalah kenyataan bahwa bangsa Indonesia berlomba dengan waktu yang terasa berlalu dengan cepat, bila tidak digunakan dengan tepat, maka bangsa ini akan ketinggalan, makin ditinggalkan oleh kemajuan zaman, akan makin tertinggal dari bangsa-bangsa lain yang sudah lebih maju. Adalah Al Qur’an sendiri yang mengingatkan, agar manusia menggunakan waktu sebaik-baiknya kalau manusia itu tidak ingin ditimpa kerugian.

“Memang Al Qur’an mengajarkan kepada kita untuk bekerja keras. Dia mengingatkan tugas kita tidak akan pernah selesai. Suatu pekerjaan akan selalu diikuti oleh pekerjaan lain. Dengan kata-kata yang jelas AI Qur’an menyadarkan kita bahwa bila kita berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan kita harus bersiap-siap menghadapi pekerjaan baru. Sebagai bangsa yang sedang membangun kita harus menyadari hal ini,” tutur Kepala Negara.

Menurut Presiden, pembangunan adalah ikhtiar terencana dan terarah untuk mengadakan perubahan dan peningkatan kualitas kehidupan bangsa. Pembangunan sama sekali bukan tugas suatu kelompok, suatu goIongan atau suatu lapisan masyarakat saja. Pembangunan adalah tugas dan kewajiban semua. Pembangunan dilakukan dengan melibatkan seluruh bangsa Indonesia.

 

Nasib

“Al Qur’an mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu umat kecuali umat itu mengadakan perubahan pada diri mereka sendiri. Karena itu kita semua harus mempertebal kesadaran mengenai tugas, fungsi dan peranan kita masing­ masing dalam membangun bangsa ini. Semuanya itu hendaknya kita lakukan dalam semangat kebersamaan. Hal ini sangat penting, sebab seperti yang tidak jemu-jemunya saya ingatkan, bangsa kita adalah bangsa yang sangat majemuk. Bangsa kita terdiri dari berbagai suku dan menganut berbagai agama,” katanya.

Kemajemukan, menurut Kepala Negara adalah kodrat yang harus disyukuri. Al Qur’an sendiri mengingatkan bahwa umat manusia itu terdiri dari bermacam-macam kelompok. Hal itu dimaksudkan justru, agar manusia berlomba-lomba dalam kebaikan. Dengan berlomba-lomba berbuat kebaikan itulah manusia akan mencapai kemajuan demi kemajuan, meraih kebahagiaan demi kebahagiaan.

Menurut Presiden, dalam kemajuan bangsa itu tentu wajar apabila ada perbedaan kepentingan. Namun tentunya harus bisa menempatkan kepentingan bersama atas kepentingan kelompok atau goIongan. Di sinilah terletak arti penting dari penegasan bahwa Pancasila adalah satu-satunya azas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

 

Disiplin dan Taqwa

Hikmah Nuzulul Qur’an dalam peringatan kali ini disampaikan oleh Dr. KHO. Gajahnata, Lektor Kepala Biologi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (UNSRI) Palembang.

Dalam ceramahnya berthema : “Dengan hikmah Nuzulul Qur’an kita tingkatkan disiplin dan kualitas bangsa menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila ,”KHO Gajahnata mengupas masalah disiplin yang terkandung di dalam Al Qur’an dikaitkan dengan masalah pembinaan disiplin dan kualitas bangsa.

Dikemukakan, dalam membina disiplin dan kualitas bangsa, langkahnya akan menjadi lebih mantap kalau dirujuk kepada AI Qur’an. Bahasa AI Quran mengenai disiplin adalah akhlak dan taqwa. Karena itu, meningkatkan disiplin berarti memperbaiki akhlak dan meningkatkan taqwa

Menteri Agama, H. Munawir Sjadzali dalam sambutannya menggaris bawahi masalah disiplin yang dikemukakan oleh penceramah KHO Gajahnata.

Selain dihadiri oleh Presiden dan Wakil Presiden, peringatan Nuzulul Qur’an juga dihadiri oleh para Menteri Kabinet Pembangunan.

 

 

Sumber : MERDEKA(04/05/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 472-474.

 


Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.