PRESIDEN PADA PERINGATAN HARI SUMPAH PEMUDA: KETERBUKAAN PENTING UNTUK PERKUAT PERSATUAN BATHIN

PRESIDEN PADA PERINGATAN HARI SUMPAH PEMUDA: KETERBUKAAN PENTING UNTUK PERKUAT PERSATUAN BATHIN

Presiden Soeharto mengatakan, yang kita perlukan bukanlah sekedar persatuan lahir melainkan persatuan yang tumbuh dari bathin.

Presiden mengatakan hal itu pada Peringatan Hari Sumpah Pemudake-52 di Balai Sidang Senayan, Jakarta Selasa siang, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Menko Kesra Soerono.

Dalam suasana upacara yang agakriuh itu, Kepala Negara menambahkan yang diperlukan untuk memperkuat persatuan bathin tersebut adalah saling percaya dan keterbukaan. Karena, Kepala Negara menambahkan, dengan saling percaya dan terbuka itu dapat kita adakan dialog nasional sehingga tercapai kesepakatan bersama mengenai masalah nasional.

“Karena itu setiap kali kita memperingati Sumpah Pemuda, marilah kita tidak jemu2nya mawas diri, bertanya kepada diri sendiri, bertanya kepada kelompok, apakah sebenarnya yang telah kita sumbangkan untuk makin mempererat kesatuan dan persatuan bangsa yang merupakan kekuatan pokok kita,” Presiden bertanya.

Hal itu menurut Presiden dapat kita terapkan secara kreatif dalam menjawab kebutuhan dan tantangan pembangunan masyarakat Indonesia modern.

Bulan Bahasa

Dalam peringatan hari Sumpah Pemuda yang dihadiri oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Madagaskar itu, Presiden juga mengatakan, bahwa wawasan nusantara yang memandang Indonesia sebagai kesatuan politik, ekonomi, sosial, budaya dan kesatuan pertahanan keamanan sesungguhnya telah dicetuskan lebih dari setengah abad yang lalu.

Kesatuan ini dikatakan oleh Presiden tidak hanya mutlak diperlukan untuk masa lampau tetapi tetap mutlak diperlukan memelihara keutuhan bangsa di masa sekarang dan yang akan datang.

Dalam kesempatan yang dihadiri oleh serombongan pemuda Malaysia itu Kepala Negara juga mengajak seluruh bangsa agar berbahasa Indonesia yang baik dan benar dalam bulan bahasa ini.

”Marilah kita pelihara bahasa ini dengan segala kecintaan dan rasa tanggungjawab yang besar,” ajak Presiden yang menambahkan harapan agar pemuda dapat menjadi pelopor dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Menteri P & K

Dalam kerangka ajakan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar itu. Menteri P dan K Daoed Joesoef dalam sambutannya mengemukakan, mutu dan disiplin penggunaan bahasa perlu ditingkatkan karena selain bahasa merupakan alat berkomunikasi yang tidak mungkin digantikan dengan alat apapun juga, bahasa Indonesia adalah bahasa nasional, bahasa persatuan dan kesatuan.

Menteri P dan K yang pada waktu naik mimbar dan turun mimbar terdengar suara riuh dari pemuda2 yang duduk di sekeliling balkon, mengemukakan tekad meningkatkan mutu dan disiplin penggunaan bahasa lndonesia kali ini diletakkan dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Ini berarti satu pesan bahwa melalui milik nasional yaitu bahasa Indonesia, kita harus dapat mengembangkan milik nasional kita lainnya, yaitu kecerdasan bangsa yang kita perlukan di dalam membangun masa depan negara, bangsa kita,” demikian Menteri P dan K.

Acara puncak peringatan Hari Sumpah Pemuda yang ke-52 ini berlangsung diselingi suara riuh. Hanya tujuh puluh persen tempat duduk yang ada di Balai Sidang Senayan terisi. Dengan acara tarian daerah Aceh, para pemuda sedikit demi sedikit meninggalkan tempat. Belum selesai acara tersebut, isi Balai Sidang itu tinggal lima­puluh persen. (DTS)

Jakarta, Sinar Harapan

Sumber: SINAR HARAPAN (28/10/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 643-644.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.