PRESIDEN PADA PERESMIAN PERLUASAN CILEGON LAGNGKAH KECIL, TETAPI PRESTASI BESAR

PRESIDEN PADA PERESMIAN PERLUASAN CILEGON LAGNGKAH KECIL, TETAPI PRESTASI BESAR

Ditinjau dari dimensi pembangunan jangka panjang, apa yang kita mulai hari ini dalam memajukan industri baja bembah mempakan langkah kecil. Namun ditinjau dari sudut gerak pembangunan industri baja dalam awal pembangunan sekaran ini, mempakan prestasi yang besar.

Presiden Soeharto mengemukakan hal itu dalam pidatonya pada peresmian Unit­unit Produksi Pabrik Baja "Krakatau Steel" di Cilegon, Jawa Barat Selasa kemarin. Dijelaskan baru mempakan langkah "kecil" sebab industri baja yang harus dibangun masih akan banyak, dikatakan mempakan prestasi ”besar” sebab dengan ini kita sudah dapat mengubah sendiri bahan baku setengah jadi dan barang jadi dari besi baja.

Pembangunan kita jelas memerlukan baja, kata Presiden, hampir tidak ada satu proyek pembangunan yang tidak memerlukan baja.

"Dapat dikatakan bahwa baja mempakan bagian dari hidup manusia dan masyarakat yang maju. Dimana-mana kita memerlukan barang bahan-bahan bangunan termasuk besi baja ini."

Manfaat

Meskipun bahan bakunya, bijih besi masih harus diimpor, dari pembangunan pabrik baja ini masih diperoleh kemanfaatan yang besar. Misalnya harga bijih besi di pasaran dunia yang relatif jauh lebih rendah daripada barang-barang baja jadi atau setengah jadi sehingga dengan menghasilkan sendiri, dapat menghemat devisa serta berangsur-angsur melepaskan ketergantungan dari luar.

Manfaat lain dari perluasan pabrik ini adalah bertambah cepatnya proses industrialisasi, serta akan menambahkan kekuatan penggerak dari kegiatan industri hilir yang mempunyai kaitan luas dengan berbagai macam industri lain nya.

"Manfaat selanjutnya adalah sebagai sarana untuk mengembangkan teknologi dan ketrampilan yang sangat banyak kita peroleh karena industri bajaitu merupakan industri kompleks," demikian Presiden.

Biaya

Unit yang diresmikan seluruhnya adalimabuah, terdiri dari Pabrik Billet Baja, yang menelan biaya DM 236 juta ditambah Rp 9,3 milyar, berkapasitas produksi sebesar

540.000 ton setahun; Pabrik Wire Rod dengan kapasitas 220.000 ton setahun yang membuat bahan baku untuk industri kawat dari billet buatan sendiri dengan biaya pembangunan DM 118 juta ditambah Rp 12.5 milyar; Pabrik Pipa Baja Spiral untuk ukuran 32 inci hingga 80 inci sebagai pelengkap dari pabrik lama yang hanya mampu membuat ukuran maksimal 32 inci, menelan biaya US$ 2,5 juta ditambah Rp.3,5 milyar; Pusat Tenaga Listrik Uap (PTLU) dengan kapasitas terpasang sebesar 400 MW menelan biaya DM 1022 juta di tambah Rp.32,5 milyar dan sebuah Pusat Penjernihan Air untuk seluruh kompleks yang menelan biaya DM 140 juta ditambah Rp.5,8 milyar.

Unit-unit itu menurut Presidir PT Krakatau Steel, Ir. Ari wibowo dalam laporannya merupakan proyek kerjasama dengan Jerman Barat yang dibangun oleh kontraktor utama Ferrostaal, Siemens dan Klockner masing-masing untuk pabrik baja, PLTU dan prasarana.

Sedangkan Pabrik Pipa Baja Spiral yang merupakan satu-satunya pabrik menggunakan proses pengelasan spiral di Indonesia, merupakan usaha joint venture Krakatau Steel (mayoritas 66 2/3%) dan sisanya dibagi rata antara partner-partner asing dan Belanda (Hoogovens) dan Philippines (lnternasional Pipe Industries).

Dengan selesainya pabrik wire rod, Ariwibowo menjelaskan, maka keperluan akan bahan ini untuk industri dalam negeri sudah tak perlu diimpor lagi, bahkan sudah berlebihan dan dapat dipasarkan di luar negeri sebagai komoditi ekspor.

Pabrik Slab

Unsur-unsur yang diresmikan ini, menurut Menteri Perindustrian A.R.Soehoed, merupakan unsur-unsur terakhir yang dirampungkan didalam tahap pertama daripada seluruh kompleks yang berlandaskan para suatu unsur produksi inti yang merupakan empat buah modal pembuat besi spons melalui proses reduksi langsung dengan memakai gas-alam dengan kapasitas tahunan sebesar 2 juta ton.

Diterangkan dalam program tahap pertama ini direncanakan hanya 25% atau kurang lebih 500.000 ton besi spons yang akan dilebur dalam pabrik billet untuk kemudian diolah menjadi berbagai macam produk seperti batangan beton, besi siku, wire-rod, pipa spiral dan sisa besi spon akan dijual kedalam negeri dan luar negeri.

Tahun 1979 ini adalah tahun terakhir daripada tahap pertama itu dan tahap kedua, Soehoed mengungkapkan, sudah dimulai pelaksanaan pembangunan pabrik slab berkapasitas 1 Juta ton setahun dan sebuah instalasi pembuatan lembaran besi tipis dengan kapasitas kurang lebih 450.000 ton setahun. Pabrik ini menurut rencana baru dapat menghasilkan pada 1983.

Dijelaskan bahwa kebutuhan Indonesia akan bahan besi pada akhir Pelita III diperkirakan akan melebihi 2 juta ton setahun. Pada waktu sekarang kebutuhan tersebut sudah melebihi 1 juta ton setahun, sedangkan kapasitas produksi nasional adalah baru kurang lebih 1 juta ton 50% diprodusir oleh PT Krakatau Steel sisanya oleh beberapa perusahaan baja swasta.

Selama ini pabrik baja Krakatau Steel yang mulai dibangun pada tahun 1961 atas kerjasama dengan Uni Soviet dan terbengkalai pada 1965 dengan meletusnya G 30 S/PKI untuk beberapa tahun lamanya, pada tahun 1977 mulai menghasilkan besi beton dan besi siku.

Kini ditambah dengan pabrik billet memproduksi billet ukuran standar 100 mm dan 110 mm persegi. Pabrik Wire Rod yang menghasilkan kawat berdiameter 5,5 mm sampai 12,5 mm dalam bentuk gulungan seberat 900 kg. Hadir pada peresmian adalah para menteri Kabinet Pembangunan Ill, Gubernur Jabar dan para Duta Besar negara sahabat. (DTS)

Jakarta, Kompas

Sumber: KOMPAS (10/10/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 468-470.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.