PRESIDEN PADA PERESMIAN MASJID “AL FALAH” JAMBI: KITA AKAN DIANGGAP PENDUSTA AGAMA BILA LALAI MEMPERBAIKI KEMISKINAN

PRESIDEN PADA PERESMIAN MASJID "AL FALAH" JAMBI: KITA AKAN DIANGGAP PENDUSTA AGAMA BILA LALAI MEMPERBAIKI KEMISKINAN

Presiden Soeharto menegaskan, bagi kaum muslimin usaha memperbaiki taraf kesejahteraan masyarakat merupakan salah satu kewajiban agama yang sangat penting.

"Kita akan dianggap sebagai pendusta agama apabila kita melalaikan usaha memperbaiki kehidupan saudara-saudara kita yang masih dilanda kemiskinan".

Presiden mengatakan hal demikian dalam sambutannya pacta peresmian Masjid "AI Falah" Jambi dan sekaligus peresmian penggunaan alur sungai Batang Hari, Senin kemarin di pekarangan masjid "AI Falah".

Pembangunan masjid dinilai sebagai saksi akan kebenaran tekad untuk mewujudkan keseimbangan dan keselarasan dalam pembangunan bangsa, antara pembangunan bidang fisik kebendaan dan pembangunan dalam bidang mental kerohanian.

Diharapkannya agar masjid tersebut difungsikan sebaik-baiknya, baik yang berhubungan dengan pelaksanaan ibadah maupun yang berhubungan dengan pembinaan jamaah.

Presiden mengajak pemuka-pemuka masyarakat Islam untuk lebih memperhatikan pembinaan jamaah kaum muslimin yang dilandasi dengan semangat ukhuwah antara sesama kaum muslimin.

Diingatkannya agar kaum muslimin selalu bersikap arif, agar perbedaan di antara mereka tidak berubah menjadi pertikaian yang membawa kepada perpecahan.

Hal ini kata Presiden, sengaja diingatkannya dalamkesempatan peresmian masjid Al Fatah, sebab di dalam masjid kita semua mestinya melupakan segala macam bentuk perbedaan di antara kita.

Di dalam masjid semuanya harus sama-sama mengagungkan Tuhan dan memikirkan kepentingan agama dan umat dalam arti yang seluas-luasnya.

"Kita harus berusaha agar semua kaum muslimin, apapun asal keturunannya, apapun pekerjaannya, apapun golongan politiknya, merasa bahwa masjid adalah tempat dimana dia bisa dengan tenteram menambah pengetahuan dalam rangka meningkatkan kesadaran agamanya," kata Presiden.

Lebih lanjut Presiden mengatakan, kita semua mengharapkan agar fungsi masjid sebagai sarana peningkatan pengetahuan umat, benar-benar ditangani sebaik-baiknya.

Dipesankan pula oleh Kepala Negara agar kepada ummat diberikan keterangan yang berhubungan dengan masalah-masalah yang kita hadapi bersama, terutama masalah pembangunan masyarakat.

Sebagai khalifah yang dijadikan Tuhan di muka bumi ini, terkandung panggilan agar kita memanfaatkan kekayaan bumi ini sebaik-baiknya dan bagi kebaikan manusia Artinya, kita harus memanfaatkan karunia Tuhan berupa kekayaan alam ini secara wajar, yaitu mengambil manfaat tanpa merusak, menggali dan mengolahnya tanpa mengganggu kelestarian alam dan keseimbangan lingkungan hidup.

Sesuai petunjuk Kitab Suci Al-Qur’ an, Presiden menjelaskan bahwa kerusakan yang timbul di bumi dan di lautan adalah akibat ulah tangan manusia sendiri.

Dalam kaitan itu semua, Presiden melihat sangat mulia apabila masjid menjadi salah satu pusat pengobar semangat pembangunan masyarakat.

"Adalah harapan saya, dan saya percaya harapan semua masyarakat di daerah ini agar masjid "Al Falah" ini dapat menjadi pelopor bagi masjid-masjid lainnya untuk terus menerus menyerukan gerakan pembangunan," kata Kepala Negara.

Terbesar di Jambi

Masjid "Al Falah" yang dibangun di atas tanah bekas pusat Kerajaan Melayu yang kemudian dijadikan benteng oleh Belanda itu mempakan yang terbesar di Jambi. Masjid tersebut dibangun di atas areal tanah seluas k.l. 27 hektar dengan luas bangunan utama 6.400 meter persegi sedang biaya untuk 15 tahap pembangunan selama 9 tahun lebih sebesar Rp. 812.540.000,-. Daya tampungnya 10.000 orang dan di samping itu masjid dilengkapi dengan pusat studi Islam.

Pada upacara peresmian masjid tersebut, selain 2 orang Menteri yang termasuk anggota rombongan Presiden dan Ny. Tien Soeharto, juga ikut hadir 3 orang bekas Gubernur Jambi yaitu Edy Sahara, Jamaludin Tambunan, Abdul Manaf danjanda Gubernur R.M. Admadibrata.

Pengerukan yang Pertama

Padakesempatan yang sama, Presiden dalam pidatonya menyinggung pengerukan alur sungai Batang Hari yang dinilai sangat penting, karena akan membuka kesempatan baru yang lebih besar untuk mempercepat kemajuan ekonomi Propinsi Jambi dan sekaligus kesejahteraan masyarakatnya.

Pengerukan ini, kata Presiden mempakan pengemkan sungai Batang Hari yang pertama dilakukan selama ini. Lumpur yang sudah selesai dikeruk sekitar 12 juta meter kubik.

Dalam hubungan dengan pengerukan ini, diingatkan oleh Presiden agar masyarakat Jambi menjaga agar alur pelayaran jangan menjadi dangkal kembali karena ketidak pengertian atau kesembronoan.

Panjang alur sungai yang dikeruk 17.000 meter, lebar 140 meter, kedalaman 8,5 meter, yang seluruhnya dikerjakan selama 20 bulan dengan menggunakan 2 kapal keruk yaitu "Musi 30" dan "Kapuas 30" yang seluruh pekerjaan menelan biaya Rp. 4 milyar lebih. (DTS)

Jambi, Pelita

Sumber: PELITA (30/09/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 899-901.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.