Presiden pada HPN 1998 ‘PERS JANGAN MUDAH DISALAH GUNAKAN’

Presiden pada HPN 1998

‘PERS JANGAN MUDAH DISALAH GUNAKAN’[1]

 

Jakarta, Republika

PRESIDEN SOEHARTO di Hari Pers Nasional, kemarin, mengritik pers nasional. Menurut Pak Harto, pers nasional perlu hati-hati agar tak mudah disalah gunakan untuk kepentingan perseorangan atau kelompok yang menimbulkan kerugian bagi rakyat banyak.

“Hal ini perlu saya tekankan, karena pers Indonesia masa kini berada dalam keadaan mendua.” kata Presiden pada puncak Peringatan Hari Pers Nasional ke-52 tahun 1998 di Istana Negara, Senin pagi.

Menurut Kepala Negara, dalam era informasi saat ini kekuatan bukan hanya menggunakan alat-alat fisik seperti militer dan persenjataan semata, melainkan juga melalui alat kekuasaan non fisik yang berintikan informasi. Bahkan, menurut Presiden, kekuatan informasi itu cukup besar dan berpengaruh.

Karena itu pers nasional diminta untuk menggunakan potensi yang dimilikinya dengan hati-hati dan penuh tanggung jawab.

“Terutama untuk saat ini, ketika masyarakat Indonesia sedang menghadapi keadaan yang sulit dan mudah terpancing isu serta informasi yang menyesatkan atau analisis yang tidak bertanggungjawab.” tandas Kepala Negara.

Hadir pada acara ini, selain para pimpinan media cetak dan elektronik, para pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat dan Daerah serta para tokoh pers nasional, juga sejumlah menteri kabinet Menpen Hartono, Menparpostel Joop Ave, Mendikbud Wardiman Djojonegoro, dan Menag Tarmizi Taher.

Dalam kaitan itu, Presiden menekankan perlunya segenap insan pers nasional makin berhati-hati. Presiden berpendapat, di saat bangsa Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi, arus informasi yang bermutu rendah makin banyak beredar di masyarakat. Malah, tidak jarang informasi salah itu dipicu menjadi lebih deras oleh media nasional, tanpa terlebih dahulu menyelidiki kebenarannya, serta tanpa memperhitungkan akibatnya.

“Dengan demikian, disengaja atau tidak, pers nasional telah ikut mengembangkan suasana yang tidak menguntungkan bagi usaha perbaikan.” tutur Kepala Negara.

Menurut Pak Harto, banyak contoh kasus yang terjadi belum lama ini, yang menunjukkan bagaimana masyarakat mudah sekali diterpa keresahan, sehingga mengabaikan akal sehat dan terpancing informasi media yang tidak proporsional mengenai keadaan ekonomi.

Perilaku seperti itu, menurut Kepala Negara, pada akhirnya merugikan semua orang, termasuk pers sendiri. Masyarakat lama kelamaan akan kehilangan kepercayaan kepada pers yang sering membuat informasi yang simpang siur. Presiden juga mengingatkan mengenai pandangan penegakkan etik jurnalistik oleh seluruh jajaran pers nasional. Presiden menekankan perlunya penumpasan kode etik untuk tv dan radio. Media televisi dan radio yang banyak berperan dalam merangsang reaksi dan tindakan cepat masyarakat dalam menanggapi informasi tentang krisis ekonomi, perlu memiliki kode yang lebih etik yang lebih sesuai dengan ciri-ciri khas media tersebut.

Sumber : REPUBLIKA (10/02/1998)

____________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 809-810.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.