PRESIDEN PADA HARI JADI TMII: LEMAH, BANGSA YANG TIDAK MEMILIKI KESADARAN BUDAYA

PRESIDEN PADA HARI JADI TMII: LEMAH, BANGSA YANG TIDAK MEMILIKI KESADARAN BUDAYA

Bangsa yang tidak memiliki kesadaran budaya, adalah bangsa yang miskin rohani dan akan menjadi lemah. Karena itu kita semua wajib memelihara warisan budaya bangsa Indonesia lebih-lebih karena dalam warisan itu terkandung ajaran dan tuntutan hidup yang mulia dan luhur.

Demikian Presiden Soeharto pada peringatan enam tahun berdirinya Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Senin sore kemarin, yang dilangsungkan di alun-alun Pancasila TMII di Pondok Gede, Jakarta Timur. Bersamaan dengan peringatan itu, diresmikan pula “baluarti relief perjuangan bangsa Indonesia sebelum dan sesudah Proklamasi Kemerdekaan” dan “soko tujuh”.

Baluarti relief tersebut terletak di Utara dan Selatan TMII, dengan luas masing­masing sekitar 200 meter persegi, terbuat dari beton bertulang hasil karya pemahat pimpinan But Muchtar. Sedang “soko tujuh” atau bangunan dengan tujuh tiang ini, terletak di halaman museum, dimaksudkan untuk “mencari ketenangan” bagi pengunjung yang beristirahat.

Selanjutnya Presiden Soeharto mengatakan, apabila tidak waspada dalam melaksanakan pembangunan masyarakat modern yang sedang dilakukan sekarang maka tidak mustahil akan banyak warisan budaya bangsa Indonesia yang akan lenyap, dilanda arus perubahan dan perkembangan zaman.

Hal ini merupakan kerugian yang tidak ternilai. Karena itu harus diusahakan memelihara nilai-nilai budaya tersebut. Pembangunan TMII ini, justru untuk melestarikan berbagai budaya masyarakat Indonesia yang khusus dan khas tersebut. Sejak semula disadari hal itu, dan karenanya TMII tidaklah dibangun sekedar untuk tempat hiburan. Demikian antara lain Presiden Soeharto.

Upacara tersebut berlangsung dalam udara sore yang diselubungi awan gelap. Kadang-kadang disela hujan yang turun rintik-rintik. Tapi sekitar 500 undangan memakai baju batik berbagai corak, tetap tenang duduk di bawah tenda. Selain Ny. Tien Soeharto, Wakil Presiden dan Ny. Nelly Adam Malik serta para menteri, turut hadir para kepala perwakilan asing di Jakarta.

Sebelum Presiden Soeharto, memberikan sambutan Ketua Yayasan “Harapan Kita” Ny. Tien Soeharto, Gubernur DK.I Tjokropranolo dan Menteri P & K Daoed Joesoef.

Jalan Lingkungan dalam TMil sepanjang 9 km, telah dilapisi aspal “hot-mix” dan dalam tahun 1980 TMII surplus Rp 93 juta, kata Ketua Umum Panitia Peringatan Soekamdani S. Gitosardjono. Didampingi Ny. Tien Soeharto, Presiden menandatangani prasasti “baluarti relief perjuangan” dan prasasti “soko tujuh”. Sepasang merpati, satu putih dan satu diwamai merah, dilepaskan ke alam bebas.

Bersamaan dengan itu, 1981 ekor burung lainnya berterbangan ke alam bebas, dan balon yang membawa tabir baluarti membubung ke udara yang mendung.

Setelah pembacaan doa oleh Menteri Agama H.Alamsyah, Presiden Soeharto dan undangan meninjau baluarti, kemudian menuju ruang pameran lukisan tunggal Sri Hadi. Peninjauan pameran diawali Presiden Soeharto, dengan menggoreskan kuas di atas kanvas yang kemudian dilanjutkan oleh Sri Hadi dengan lukisan perjuangan. (DTS)

Jakarta, Kompas

Sumber: KOMPAS (21/04/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 599-600.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.