PRESIDEN : NEGARA BERKEMBANG HARUS BEKERJASAMA DI BIDANG EKONOMI

PRESIDEN : NEGARA BERKEMBANG HARUS BEKERJASAMA DI BIDANG EKONOMI[1]

 

Windhoek, Antara

Presiden Soeharto menegaskan, Indonesia dan Namibia serta negara-negara berkembang lainnya perlu meningkatkan kerjasama di bidang pembangunan ekonomi sosial, karena penduduknya masih hidup dalam suasana kurang pangan, sandang dan papan.

“Dengan kerja sama itu, kita dapat memanfaatkan peluang-peluang dalam zaman ekonomi terbuka dan perdagangan bebas yang akan segera kita masuki.”  Kata Presiden di Windoek, Namibia, Selasa malam.

Pada jamuan kenegaraan yang diselenggarakan Presiden Namibia Sam Nujoma untuk menghormati Presiden Soeharto yang tiba di Windhoek pukul 15:00 waktu setempat atau pukul 20:00 WIB, Kepala Negara menyebutkan, negara-negara berkembang menghadapi musuh yang sama yaitu kemelaratan, kemiskinan, ketidakadilan dan kesenjangan ekonomi.

“Dengan bertukar informasi, pandangan dan pengalaman, maka kedua bangsa dapat menggali berbagai potensi dan peluang yang terbuka, yang selama ini belum kita ketahui.” kata Presiden yang didampingi Mensesneg Moerdiono, Menlu Ali ALatas, Dubes Keliling Nana Sutresna dan Ditjen Politik Nugroho Wisnumurti.

Khusus mengenai hubungan bilateral, kata Presiden, telah terdapat landasan hukum yang kukuh yaitu Perjanjian Kerja sama Ekonomi dan Teluk, serta pertukaran nota tentang Pembentukan Komisi Bersama yang ditandatangani para pejabat saat Presiden Nujoma ke Jakarta Agustus 1997.

Kepada Presiden Nujoma yang didampingi istrinya Ny. Theopoldene Nujoma, Presiden Soeharto juga menyinggung arti penting kunjungan pertamanya itu ke Namibia, yaitu untuk meletakkan pondasi yang kukuh bagi hubungan bilateral.

“Di masa lalu, rakyat dan Pemerintah Indonesia secara konsisten selalu mendukung perjuangan pembebasan rakyat Namibia melawan kekuatan kolonial. Kami di Indonesia paling mengerti makna hak-hak asasi, harga diri dan kemandirian karena selama 350 tahun merasakan pahit getirnya di bawah kekuasaan penjajah.” tegas Presiden.

Karena itulah Indonesia mengagumi perjuangan rakyat Namibia untuk meraih kemerdekaan melalui perjuangan tanpa mengenal lelah. Perjuangan itu berhasil dengan gemilang yaitu lahirnya negara Namibia yang bebas dan merdeka.

“Kita sama-sama anti penjajah dalam segala wujudnya dan memegang teguh prinsip-prinsip hidup berdampingan secara damai. Kita percaya bahwa hubungan antarban gsa harus berlandaskan proses saling menghormati kedaulatan, tidak mencampuri urusan dalam negeri dan saling bekerja sama.” kata Presiden.

Kedua Kepala Negara hari Rabu di Istana Presiden Sam Nujoma akan mengadakan pembicaraan empat mata, terutama untuk meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan.

Pesawat MD11 Garuda Indonesia terbang non stop 12 jam lima menit dari Bandara Halim Perdana Kusuma menuju Bandara Windhoek, Namibia. Presiden dan rombongan, Kamis pagi akan melanjutkan perjalanan ke Afrika Selatan untuk melakukan kunjungan kenegaraan selama tiga hari.

Sumber : ANTARA (18/11/1997)

______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 454-455.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.