PRESIDEN MOHON DOA RESTU SELURUH RAKYAT UNTUK MELANJUTKAN TUGAS KENEGARAAN

PRESIDEN MOHON DOA RESTU SELURUH RAKYAT UNTUK MELANJUTKAN TUGAS KENEGARAAN[1]

 

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto mohon doa restu seluruh rakyat Indonesia untuk melanjutkan sepenuh-penuhnya tugas kenegaraan yang dipercayakan di atas pundaknya, setelah hari-hari berkabung selama satu minggu wafatnya Ibu Negara, Ibu Tien Soeharto.

“Setelah hari-hari berkabung selama satu minggu terakhir ini, saya mohon doa restu seluruh rakyat Indonesia untuk melanjutkan sepenuh-penuhnya tugas kenegaraan yang dipercayakan di atas pundak saya.” demikian ungkapan terima kasih dan permohonan doa restu Kepala Negara berkaitan dengan wafatnya Ibu Tien, yang disiarkan melalui TVRI dan RRI, Jumat malam.

Presiden mengatakan,

“Sejak hari Minggu pagi, tanggal 28 April 1996, ada sesuatu yang hilang di tengah-tengah keluarga kami, sesuatu yang tidak ternilai harganya bagi kami.”

Dengan suara tersendat Presiden melanjutkan,

“Keluarga besar kami kehilangan seorang istri pendamping setia, seorang ibu tercinta, seorang eyang dan seorang eyang buyut yang penuh kasih. Keluarga besar kami telah kehilangan seseorang tempat kami mencurahkan segala kasih sayang. Kami kehilangan seseorang yang melimpahkan segala kasih sayangnya kepada kami semua.”

Almarhumah lbu Tien telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Ketika mengucapkan kata-kata tersebut suara Presiden terhenti sesaat. Keluarga, demikian Presiden, telah memakamkan lbu Tien sesuai syariat agama Islam yang dipeluknya dan sesuai pula dengan adat yang mempengaruhi hidupnya sebagai orang Jawa.

“Kami sekeluarga diliputi duka cita yang sangat dalam.” kata Presiden.

Beban Batin

Beban batin yang sangat berat ini, ujar Presiden dengan suara bergetar, terasa menjadi lebih ringan oleh limpahan rasa belasungkawa dan simpati dari berbagai kalangan, golongan dan lapisan masyarakat luas yang ditunjukkan kepada Presiden dan seluruh keluarganya.

Presiden mengatakan, merasakan ketulusan hati bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara, para remaja, putra dan putri, juga anak-anak yang telah datang ke rumah di Jalan Cendana serta mengantar perjalanan akhir almarhumah dari tempat tinggal di Jalan Cendana sampai lapangan terbang Halim Perdana Kusuma di Jakarta, dari lapangan terbang Solo sampai kediaman di Kalitan, dari kediaman di Kalitan sampai tempat pemakaman Astana Giri bangun. Doa terbaik melalui tadarus dan tahlilan serta cara-cara kepercayaan agama lain, tutur Presiden, terus dipanjatkan di mana-mana, mulai nafas terakhir almarhumah sampai sekarang. Keluarga yang ditinggal almarhumah juga didoakan agar diberi-NYA kekuatan lahir batin dan tawakal serta dapat melanjutkan amal dan cita-cita luhur yang telah dirintis oleh almarhumah dalam mengabdi kepada kemanusiaan.

Untuk segala budi baik dan kehormatan yang diberikan kepada almarhumah tersebut, Presiden sekeluarga hanya dapat menyampaikan rasa-terima kasih yang sedalam-dalamnya dan rasa penghargaan yang setinggi-tingginya. Semua amal baik itu, diharapkan Presiden, diterima oleh Allah SWT sebagai ibadah dan mendapatkan balasan yang berlipat ganda.

Memaafkan

Kepala Negara mohon keikhlasan masyarakat untuk memaafkan almarhumah atas segala perbuatan, tutur kata atau tindak tanduk dalam pergaulan semasa hidupnya yang kurang berkenan di hati, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Keluarga Pak Harto juga mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekurangan dalam penerimaan atau penyambutan para tamu selama berlangsungnya rangkaian acara pemakaman sampai malam-malam tadarus dan tahlilan di kediaman, di Kalitan, Solo dan Jalan Cendana, Jakarta.

“Sekiranya berkenan, kami mohon Bapak-bapak dan Ibu-ibu serta Saudara­ saudara tetap berdoa kiranya dosa-dosa almarhumah diampuni dan amal perbuatannya diterima oleh Yang Maha Kuasa. Doa itu akan makin melapangkan jalan arwah almarhumah dalam menghadap Al Khalik.” kata Presiden.

Sumber : SUARA KARYA (04/05/1996)

______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 214-216.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.