PRESIDEN MINTA UTAMAKAN KESATUAN DAN PERSATUAN

PRESIDEN MINTA UTAMAKAN KESATUAN DAN PERSATUAN[1]

 

Jakarta, Media Indonesia

Presiden Soeharto berpesan, dalam menghadapi situasi saat ini upaya untuk membina kesatuan dan persatuan hendaknya menjadi program prioritas. Jika hal ini terlenakan, Bangsa Indonesia bisa mengalami kesukaran besar karena memang cukup potensial untuk rusak.

Pesan Kepala Negara tersebut disampaikan ketika menerima para pemimpin Kristiani di kediaman Jalan Cendana, Jakarta, kemarin.

Mereka adalah Ketua Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Soelarso Soepater, Meisak (Persekutuan Injil Indonesia), Sentot (Persekutuan Gereja Baptis Indonesia), Samuel Budi (Dewan Pantekosta Indonesia), Titus Kamadi (anggota PGI), dan Jan Kawaiu (Ditjen Bimas Kristen Protestan). Dalam kesempatan itu Presiden didampingi Menteri Agama Tarmizi Taher.

“Tadi, kami menghaturkan bahwa dalam situasi seperti ini perbedaan-perbedaan berdasarkan agama tidak menjadi penting, karena persoalan ini harus dihadapi bersama-sama sebagai bangsa.” kata Soelarso.

Secara eksplisit, kata Ketua PGI itu, Presiden Soeharto tidak memberi komentar mengenai hal tersebut. Presiden hanya mengangguk-angguk.

“Dan kami sudah bisa menafsirkan anggukan Beliau. Hanya pada akhir, Presiden kemudian berpesan kepada kami sebagai wakil-wakil dari umat Kristen untuk mewaspadai hal-hal yang jika perkembangan menjadi kurang terkontrol bisa menimbulkan hal-hal yang menyangkut SARA. Jadi Beliau menekankan upaya-upaya untuk membina persatuan dan kesatuan dapat dijadikan program prioritas. Karena jika hal itu terlupakan, bangsa kita bisa mengalami kesukaran yang besar karena potensi untuk rusak itu cukup besar.” tambah Soelarso.

Lebih lanjut dia mengatakan,

“Para pemimpin umat Kristiani menghadap Presiden untuk menyampaikan dukungan moral sebagai umat dari lembaga-lembaga keagamaan Kristen terhadap pemerintah.”

Doa nasional

Di samping itu, kepada Presiden, juga dilaporkan kegiatan Gerakan Doa Nasional yang akan diselenggarakan pada 12-15 Februari mendatang. Gerakan doa ini juga akan dilakukan dengan gerakan doa puasa oleh sebagian umat.

“Kemudian kami mewujudkan doa itu bersama-sama sebagai kelompok kecil mendoakan kesehatan Bapak Presiden, sehingga Beliau sebagai Kepala Pemerintahan dapat melaksanakan tugas apalagi dalam mengatasi saat yang demikian berat yang dialami oleh bangsa Indonesia.” tambahnya.

Jadi, tambah Soelarso Soepater, itu sebagai kegiatan untuk bersama-sama mengungkapkan dukungan moral dari umat Kristen tentang apa yang dialami bangsa dan negara, khususnya di dalam menghadapi krisis moneter yang sudah dirasakan semua pihak.

Ditambahkan, dalam kesempatan itu Presiden menjelaskan panjang lebar analisis mengenai sebab-sebab krisis kali ini. Menurut Kepala Negara krisis ini bersumber pada tiga hal, yakni faktor yang agak berbau gambling. Kedua, penggunaan kredit dari kalangan swasta mungkin kurang cermat perhitungannya dengan mengambil jalur kredit jangka pendek untuk investasi jangka panjang yang menyebabkan konsekuensi berat. Dan ketiga, meningginya nilai mata uang asing dan merendahnya kurs rupiah yang memacetkan jalannya proses industri di dalam negeri.

Dalam kesempatan menghadap Kepala Negara kemarin, pimpinan gereja-gereja Kristen menyerahkan bantuan kepada pemerintah untuk mengatasi krisis ekonomi yang sedang terjadi berupa 2 kg emas dan uang sebesar Rp.5,115 juta. Sumbangan ini dikumpulkan dari segenap umat Kristiani.

Seperti diketahui, Presiden Soeharto sudah berkali-kali mengingatkan mengenai perlunya memperkuat kesatuan dan persatuan bangsa. Sebagai sebuah bangsa yang majemuk, bangsa Indonesia sebenarnya sangat potensial terjadi disintegrasi. Presiden selalu meminta para pemuka agama untuk memberikan bimbingan kepada umatnya masing-masing mengenai kerukunan antar umat beragama serta senantiasa menjaga kesatuan dan persatuan bangsa.

Sumber : MEDIA INDONESIA (29/01/1998)

_________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 8-9.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.