PRESIDEN MINTA UMMAT BERAGAMA TINGKATKAN PENGHAYATANNYA

PRESIDEN MINTA UMMAT BERAGAMA TINGKATKAN PENGHAYATANNYA[1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto minta seluruh ummat beragama untuk meningkatkan penghayatan dan pengamalan agamanya masing-masing agar tidak terombang-ambing akibat derasnya perubahan dunia.

“Apabila kita sampai tidak dapat mempertahankan jati diri sebagai bangsa, maka kita akan hanyut oleh derasnya arus perubahan dunia.” kata Presiden di Balai Sidang Jakarta, Kamis.

Ketika memberikan sambutan pada malam Dharma Canti Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1918 ummat Hindu, Kepala Negara mengatakan bangsa Indonesia kini memang sedang melakukan pembangunan di segala bidang.

“Tanpa bimbingan nilai-nilai luhur agama dan budaya ini maka kemajuan ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi malahan dapat memerosotkan martabat kemanusiaan.” tegas Presiden.

Landasan etik, moral dan spiritual ini sangat penting bagi bangsa Indonesia yang hidup dalam zaman yang sedang mengalami proses perubahan yang teramat pesat.

Pada acara yang dihadiri pula Ibu Tien Soeharto, Wakil Presiden serta Ibu Try Sutrisno serta Menteri Agama Tarmizi Taher, Kepala Negara menyebutkan bahwa akibat kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi maka dunia makin hari makin terasa menyatu.

“Sekat-sekat yang membatasi hubungan antar-bangsa dan antar-negara terasa kian kabur. Ummat manusia seolah-olah hidup dalam satu masyarakat besar, masyarakat ummat manusia.” kata Presiden kepada belasan ribu ummat Hindu.

Era industrialisasi dan perdagangan bebas yang mulai dimasuki bangsa Indonesia telah membawa perubahan sikap dan pola hidup yang berdampak pada perubahan budaya.

Namun, sebaliknya, makin maju perkembangan ekonomi, makin banyak iptek yang dikuasai, serta makin luasnya pendidikan telah menambah kesadaran bahwa bangsa ini harus makin banyak menggali nilai-nilai luhur agama dari agama dan budayanya sendiri.

Sementara itu, ketika menyinggung masalah kehidupan ummat beragama di tanah air, Presiden kembali mengatakan bahwa negara menjarnin sepenuhnya kebebasan memeluk agama serta menjalankan ibadah menurut agama masing-masing umat.

“Sebab, bagi kita, kebebasan beragama itu adalah salah satu hak manusia yang paling asasi, yang bersumber dari Tuhan sendiri. Kebebasan beragama bukan hadiah negara, bukan hadiah pemerintah, dan bukan pula hadiah dari golongan mana pun.” tegas Presiden.

Ketika berbicara tentang penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara maka berbagai pertentangan ideologi yang menjadi sebab terjadinya berbagai gejolak dapat diatasi bangsa Indonesia.

Sebelumnya, Ketua Umum Panitia Nasional Dharma Canti, Ida Bagus Sarga, melaporkan tema perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1918 adalah

“Dengan mawas diri kita perkokoh kebersamaan dalam kehidupan masyarakat majemuk demi terwujudnya persatuan dan kesatuan, kesejahteraan dan keadilan”.

Sarga menyebutkan, ummat Hindu pada tahun ini diharapkan meningkatkan kesadarannya untuk beramal bagi kepentingan umum.

Sumber : ANTARA (15/04/1996)

________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 614-615.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.