PRESIDEN MINTA “TANGISAN” RAKYAT KECIL DIPERHATIKAN

PRESIDEN MINTA “TANGISAN” RAKYAT KECIL DIPERHATIKAN

Presiden Soeharto mengharapkan, agar pemuda dan para cendekiawan lebih mernperhatikan “tangisan” rakyat kecil, yang ekonominya lemah.

Ini bisa diatasi, kalau koperasi tumbuh dengan baik, sebab rakyat yang belum mampu memerlukan uluran tangan dari mereka yang mau membantu.

Wartawan Merdeka melaporkan, dalam acara temu wicara dengan warga koperasi dan mahasiswa Ikopin (Institut Manajemen Koperasi Indonesia) di kampus Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat seusai acara peresmian Kamis pagi, Presiden kembali mengingatkan bahwa pemerintah tidak akan bisa berbuat banyak, bilamana masyarakat sendiri tidak mau bergerak. Bila mana pemuda-pemuda apalagi cendekiawannya acuh tak acuh memperhatikan rakyat lemah.

Karena itu kata Presiden, harus jadi tekad kita semua merasa terpanggil untuk betul-betul membangun koperasi sehingga rakyat, kita akan benar-benar bisa hidup sejahtera lewat usaha-usaha dalam koperasi.

Para cendekiawan dan mereka yang punya ilmu oleh Presiden disertakan. jangan hanya mau memimpin koperasi primer di kota-kota, tapi hendaknya juga harus mau terjun ke desa-desa, sebab KUD ada di desa-desa.

Dengan demikian menurut, Presiden, pengabdian mereka kalau tidak akan mungkin memperoleh pendapatan yang tinggi di dunia, tapi kebaikan terhadap rakyat rakyat kecil itu akan dapat pahala dari Tuhan Yang Maha Kuasa di akhirat nanti.

Diingatkan bahwa koperasi sudah menjadi program nasional bahkan amanat Undang Undang Dasar 1945 dan MPR sendiri sebagai pemegang kedaulatan rakyat lelah pula memutuskan lewat GBHN agar koperasi benar-benar bisa dikembangkan.

Dikatakan bahwa pendiri-pendiri republik memang sudah mengharapkan, supaya perekonomian didasarkan pada usaha bersama dan kekeluargaan. Bentuk usaha yang paling cocok untuk itu adalah koperasi.

“Tapi kenapa koperasi hingga sekarang belum berjalan baik?” tambah Presiden dengan nada tanya.

Dijawabnya sendiri mungkin karena koperasi ini digerakkan oleh pengusaha pengusaha ekonomi lemah sehingga dengan sendirinya banyak minat perhatian maupun sumbangan untuk memotongnya. Oleh karena itu, jangan justru mengharapkan imbalan uang dari koperasi.

Diakui bahwa dalam keadaan sekarang koperasi belum mampu memberikan imbalan yang besar kepada para sarjana yang mengaturnya, lain dengan perusahaan swasta yang usahanya didasarkan pada untung rugi.

“Kalau keuntungan besar tentu para sarjana dan ilmuwan itu memperoleh gaji yang besar.”

Namun menurut dia, bila dalam perkembangan selanjutnya koperasi menjadi kuat, maka koperasi akan mampu pula memberikan imbalan.

Sebelumnya, Presiden Soeharto telah menyerahkan secara langsung tanda penghargaan pemerintah kepada wakil-wakil koperasi terbaik.

Koperasi Unit Desa (KUD) “Sri Rahayu” dari Jawa Tengah terpilih sebagai koperasi terbaik dari kelompoknya, Koperasi Tambang Batu bara “Ombilin”, Sumbar terpilih sebagai yang terbaik dari kelompok fungsional dan koperasi “Suka Makmur” terbaik di antara jenis koperasi lain-lain.

Sedangkan koperasi pegawai kotamadya Bandung ditetapkan sebagai koperasi teladan. (RA)

 

 

Jakarta, Merdeka

Sumber : MERDEKA (13/07/1984)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 969-970.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.