PRESIDEN MINTA RAKYAT BERSIAP HADAPI PACEKLIK

PRESIDEN MINTA RAKYAT BERSIAP HADAPI PACEKLIK[1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto minta masyarakat untuk bersiap-siap menghadapi masa paceklik, karena hujan diperkirakan baru datang sekitar November hingga Desember.

“Presiden minta masyarakat bersiap-siap karena masa paceklik itu datang bersamaan dengan bulan Puasa dan Lebaran.” kata Mentan Sjarifudiin Baharsjah kepada pers di Jalan Cendana, Rabu.

Sjarifuddin yang datang bersama Menperindag T Ariwibowo dan Kepala Bulog Beddu Amang untuk melaporkan penanganan kemarau itu mengatakan, untuk mengatasi terlalu lamanya kemarau maka akan disiapkan hujan buatan yang diharapkan rlangsung bulan Oktober.

Ia menyebutkan, karena masa paceklik akan berlangsung hingga Januari-Februari 1998, maka stok pangan baik yang dimiliki masyarakat maupun Bulog bisa terkuras habis.

Sementara itu, Kepala Bulog Beddu Amang mengatakan dalam pertemuan itu, Kepala Negara memang menanyakan jumlah stok beras yang dikuasai Bulog. Kepada Presiden, dilaporkan bahwa stok sekarang 2,9 juta ton.

“Jumlah itu cukup hingga musim panen mendatang. Namun Presiden minta agar penyebaran pangan terutama bagi daerah-daerah terpencil mendapat prioritas.” kata Beddu.

Namun ia mengatakan sampai saat ini, belum ada rencana untuk mengimpor beras. Sementara itu, Menperindag Tunky mengemukakan, Kepala Negara menginginkan agar selama masa packelik itu tidak terdapat hambatan bagi pengadaan dan penyaluran berbagai kebutuhan rakyat seperti beras, gula, minyak goreng, kacang kedele serta terigu.

Dalam kesempatan ini, Tunky juga menjelaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap jumlah persediaan semen, tersedia stok yang cukup besar.

“Harganya tergantung pada distributor. Kalau ada distributor yang kurang baik maka pabrik harus menertibkannya. Kalau ada distributor yang kurang baik, maka pabrik bisa langsung mengirimkan semen kepada retailer (pengecer, red).” katanya.

Dia juga berkata,

“Saudara-saudara (media massa,red) perlu melakukan pemantauan”.

Sementara itu, Beddu Amang minta masyarakat untuk tidak khawatir terhadap persediaan minyak goreng, karena PTN-PTN sudah mempunyai unit pengolahan/refinery guna mengolah minyak sawit mentah (CPO) menjadi olein, bahan baku minyak goreng.

Sebelumnya dikabarkan, Mentan menolak permintaan Bulog agar PTN-PTN meningkatkan pemasokan olein dari 10.000 ton/ bulan menjadi 20.000 ton/ bulan. Sambil tersenyum mendengarkan keterangan Beddu, Mentan mengatakan, kapasitas refinery PTN-PTN adalah 35.000 ton/ bulan.

Sumber : ANTARA (27/08/1997)

______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 418-419.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.