PRESIDEN MINTA PERS TAK GUNAKAN KERANGKA PIKIR PERS ASING

PRESIDEN MINTA PERS TAK GUNAKAN KERANGKA PIKIR PERS ASING[1]

 

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto minta perhatian terhadap sebagian pers nasional, yang makin sering menggunakan kerangka pikir pers asing dalam meliput peristiwa di dalam negeri Indonesia, padahal kerangka pikir dan nilai-nilai itu bagaikan kacamata yang mewarnai persepsi dalam memandang perkembangan diri dan sekeliling diri sendiri.

“Kalau kacanya berwarna maka peristiwa dalam negeri yang jernih sekalipun akan terlihat berwarna.” kata Kepala Negara dengan nada prihatin pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ke-51 di Istana Negara, Rabu (12/2).

Selain para pemimpin redaksi dan tokoh pers, acara kemarin dihadiri Mensesneg Moerdiono, Mendikbud Wardiman Djojonegoro, Meneg Kependudukan/Kepala BKKBN Haryono Suyono dan Menag Tarmizi Taher.

“Saya minta perhatian mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam kerangka pikir pers asing dalam meliput peristiwa dalam negeri Indonesia.” ujar Presiden yang didampingi Menpen Harmoko.

Menurut Presiden, penggunaan kacamata asing seperti itu akhir-akhir ini mendorong meningkatnya dramatisasi peristiwa, pengambilan kesimpulan yang tergesa-gesa atau ketidakseimbangan dalam pemberitaan mengenai perkembangan dalam negeri sendiri. Lebih jauh, lanjutnya, liputan yang dibuat dengan kacamata asing tidak mempertimbangkan nilai-nilai yang dianut masyarakat awam.

“Dengan pemakaian ‘kacamata’ yang tidak cocok itu dapat dimengerti mengapa masyarakat awam banyak yang jadi gelisah dan resah menghadapi perkembangan perubahan.” ucap Presiden.

Menilik perkembangan seperti itu maka dalam menghadapi abad 21 yang hanya tinggal tiga tahun lagi, Presiden minta agar jajaran pers nasional makin membudayakan dan meningkatkan pelaksanaan kode etik jurnalistik kewartawanan. Pembudayaan itu sangat penting agar generasi muda wartawan Indonesia yang tidak mengecap pengalaman sebagai wartawan pejuang dapat meneruskan perjuangan pers nasional untuk mencapai cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan etik profesi kewartawanan yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila, diharapkan jajaran pers nasional dapat berkembang secara profesional dengan tetap menjaga jati dirinya ke masadepan.

Tak Diistimewakan

Ditegaskan, pers bukanlah lembaga yang diistimewakan yang menduduki tempat sebagai kekuasaan tersendiri. Pers tidak mempunyai kedudukan yang istimewa, apalagi setingkat dengan lembaga kenegaraan yang dibentuk melalui pemilihan umum dan dengan cara-cara serta wewenang konstitusional.

“Janganlah kita lupa bahwa pers kita mempunyai kedudukan yang khusus selama ini karena jati dirinya sebagai pers nasional yang tercermin pada peran kejuangannya.” kata Presiden.

Presiden mengingatkan latar belakang itu untuk dipahami kembali pada peringatan HPN sekarang ini. Dikatakan, HPN bukan semata-mata hari profesi tetapi juga hari kejuangan.

Peringatan ini mengingatkan bahwa pers Indonesia tidak terpisah dari tatanan masyarakat dan sistem kenegaraan tempat dia hidup.

“Hari pers kita peringati karena peran kejuangannya dalam kehidupan yang demokratis.” ujar Presiden.

Kepala Negara mengatakan tidak banyak negara yang merayakan hari persnya secara nasional. Dan kalau tidak keliru, lanjut Presiden, tidak banyak pula negara yang mempunyai hari pers nasional, apalagi yang diakui secara resmi. Dalam era informasi, kata Presiden, pers memainkan peranan yang sangat penting sebagai wahana pengembangan dan penegakan nilai Pancasila. Pers termasuk media massa elektronika perlu menyaring nilai-nilai mana yang perlu ditonjolkan untuk diterapkan dan mana yang tidak dapat dibiarkan masuk begitu saja dengan bebas. Andai katapun ada nilai yang tidak sesuai yang masuk maka pers dapat membangkitkan kewaspadaan nasional tentang bahayanya serta menunjukkan bagaimana menangkalnya.

Indonesia dinilai Presiden, merupakan penjaga gerbang ideologi dan falsafah bangsa dan negara. Berdasarkan pengamatan, lanjut Presiden, pers Indonesia telah menunjukkan kesadaran yang cukup tinggi mengenai tanggungjawab ini.

Kewaspadaan

Banyak praktek perilaku atau kebiasaan yang mengandung nilai-nilai yang jelas tidak sesuai dengan Pancasila, mendapat tantangan keras dari pers nasional. Pers juga mengingatkan semua pihak mengenai tantangan dan ancaman yang patut diwaspadai serta peluang-peluang yang terbuka menjelang bangsa ini memasuki zaman perdagangan bebas.

Kendati demikian, Presiden mengajak pers meningkatkan lagi peran kewaspadaan. Khususnya, mengenai nilai-nilai dan perilaku yang menyelinap ke tengah-tengah masyarakat, yang tidak kurang pula di antaranya masuk melalui media massa. Arus informasi apa pun biasanya diikuti pula oleh nilai-nilai baru yang melekat dan ikut menumpang masuk, tanpa disadari. Nilai-nilai seperti ini kadang-kadang bukan saja dikenali secara jernih tetapi sering pula dipergunakan atau terselip dalam informasi media massa nasional sehingga tersebar makin luas ke tengah-tengah masyarakat awam.

Hambatan

Sebelumnya Menpen dalam sambutannya menyebutkan, informasi yang masuk tidak selalu bermuatan nilai-nilai positif bagi masyarakat. Pers nasional untuk itu perlu meningkatkan kearifan dan ketajaman analisa sebelum menyajikan berita. Terkadang pers menghadapi hambatan dan rintangan dalam merealisasikan sebagai kekuatan pembaruan. Hambatan ini disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Masalah wawasan, daya nalar maupun potensi SDM selalu menjadi tumpuan dan prioritas pemecahan masalah. Disadari bahwa pembangunan nasional berlangsung dalam situasi dunia yang masih mengandung berbagai gejolak dan kerawanan

Selesai rnenyampaikan pidato, Presiden menerima ucapan selamat Idul Fitri dari hadirin dan para wartawan yang sehari-hari meliput acara kepresidenan. Setelah itu didampingi Mensesneg dan Menpen, Presiden beramah-tamah dengan tokoh pers, antara lain Ketua Dewan Kehormatan PWI yang juga Pemimpin Redaksi Suara Karya Sjamsul Basri, Ketua Pelaksana Harian Dewan Pers Jacob Oetama, yang juga Pemimpin Umum Kompas, Ketua LKBN Antara Handjojo Nitimihardjo dan Ketua PWI Pusat Sofyan Lubis.

Sumber : SUARA KARYA (13/02/1997)

________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 660-663.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.