PRESIDEN MINTA KOPERASI PESANTREN JADI BASIS EKONOMI DESA

PRESIDEN MINTA KOPERASI PESANTREN JADI BASIS EKONOMI DESA[1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto meminta kerjasama yang terjalin antara koperasi pesantren di Indonesia dengan pelaku ekonomi di pedesaan, seperti Koperasi Unit Desa (KUD), agar terus ditingkatkan.

Kerjasama itu dalam upaya semakin memanfaatkan potensi pesantren, yaitu selain sebagai pusat pengajaran agama Islam, juga menjadi basis pertumbuhan ekonomi desa, kata Ketua Umum Induk Koperasi Pondok Pesantren (lnkopontren) KH Nur Iskandar SQ kepada wartawan seusai menghadap Kepala Negara di Jakarta, Jumat.

Dalam pengarahannya kepada sekitar 70 pengurus Inkopontren yang ikut mendampingi Nur Iskandar, Presiden Soeharto menyambut baik usaha Inkopontren untuk mendorong produktivitas dan semangat kewirausahaan di kalangan masyarakat pesantren melalui koperasinya.

Mengutip pernyataan Kepala Negara, Kiai Nur mengatakan bahwa Inkopontren diharapkan terus meningkatkan usahanya dengan meningkatkan kerjasama dengan sentra perekonomian pedesaan.

Kiai Nur Iskandar yang juga pimpinan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah mengemukakan, pada pertemuan dengan Presiden Soeharto, pihaknya melaporkan perkembangan terakhir Inkopontren.

Dikatakannya, Inkopontren yang didirikan pada 7 Desember 1994, kini telah memiliki unit koperasi di sekitar 8.378 pesantren di seluruh Indonesia.

“Dari jumlah itu, sebanyak 1.060 unit koperasi sudah mempunyai badan hukum resmi.” katanya dan menambahkan bahwa hal itu berkat dorongan dan bimbingan Departemen Koperasi.

Selain itu, jelasnya, Inkopontren juga telah merintis berbagai binaan usaha bagi unit koperasi pesantren di seluruh Indonesia yang berbentuk kegiatan produktif seperti peternakan bebek, perikanan, konfeksi, makanan olahan dan industri rumah tangga.

“Kini binaan usaha itu terus kami tingkatkan dan mulai melangkah kepada kegiatan yang lebih besar seperti pertokoan, waserba, wartel, usaha properti, dan pabrik mie.” katanya.

Produk-produk yang baru saja dan akan diluncurkan pihak Inkopontren, antara lain, mie instant Barokah, air mineral Barokah, bihun Barokah dan tepung beras Barokah, katanya.

“Semua produk kami itu merupakan kebutuhan sehari-hari yang dapat dikonsumsi bukan saja oleh para santri, tetapi juga masyarakat luas tanpa meragukan lagi kehalalannya.”

Sumber : ANTARA (17/01/1997)

___________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 221-222.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.