Presiden : MESIN EKONOMI DIDINGINKAN

Presiden :

MESIN EKONOMI DIDINGINKAN[1]

 

Jakarta, Bisnis Indonesia

Presiden Soeharto mengatakan pemerintah telah mengambil berbagai langkah untuk mendinginkan mesin perekonomian, agar pada saatnya nanti dapat dipacu lebih kencang lagi. Dalam pidato akhir tahunnya Minggu malam, Presiden Soeharto mengemukakan masalah yang dihadapi dalam bidang ekonomi bukan bagaimana memacu pertumbuhannya, tapi justru menjaga jangan sampai laju pertumbuhan itu membuat perekonomian nasional memanas.

“Pada 1995 ini, laju pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan melampaui 7,1%, yaitu di atas angka rata-rata pertumbuhan ekonomi yang direncanakan dalam Repelita VI. Laju inflasi sebesar 8,64%, namun tingkat inflasi itu harus diwaspadai.” Kata Presiden.

Presiden mengemukakan dinamika politik terasa tinggi, gagasan-gagasan baru muncul dan suasana keterbukaan makin berkembang.

“Yang perlu kita jaga bersama adalah agar semuanya tadi jangan sampai terlepas dari kendali.”

Untuk itu Presiden mengajak untuk berpegang teguh pada Pancasila, UUD 1945 dan GBHN serta menjunjung tinggi kepentingan nasional dan persatuan.

Secara menyeluruh, ujarnya, dalam tahun ini bangsa Indonesia mencapai banyak kemajuan dalam berbagai bidang, baik di dalam maupun luar negeri.

Dalam bidang luar negeri, Indonesia telah dapat menyelesaikan tugas dan menyerahkan kepemimpinan Gerakan Non Blok kepada Kolombia.

“Kita bersyukur bahwa segala rintisan yang sudah kita lakukan dalam rangka memberikan semangat baru kepada Gerakan ini bukan saja telah diterima baik, tetapi juga akan dilanjutkan di masa datang.”

Ada tiga rintisan yang dilakukan Indonesia selama mengemban kepemimpinan gerakan ini : Pertama, meningkatkan kerja sama Selatan-Selatan. Kedua, menghidupkan kembali dialog Utara-Selatan. Ketiga, usul untuk penghapusan utang negara Selatan yang paling terbelakang.

Indonesia, catat Presiden, juga aktif dalam dialog kerja sama ekonomi di kawasan Asia Pasifik, di samping terus memperkuat kerja sama tradisional Indonesia dalam wadah ASEAN.

Dengan ASEAN dan APEC, maka ruang gerak perekonomian Indonesia bertambah luas, khususnya untuk meningkatkan ekspor non migas.

“Selambat-lambatnya tahun 2010 pasar negara-negara industri maju harus dibuka lebar bagi barang-barang ekspor Indonesia dan negara-negara yang sedang membangun lainnya.”

Tahun Bahari & Dirgantara

Sementara itu, pada pidato menyambut 1996 yang disampaikan beberapa jam setelah pidato pertama (tepat saat pergantian tahun) Presiden mencanangkan 1996 sebagai Tahun Bahari dan Dirgantara.

“Marilah kita bersama-sama merebut hati bangsa-bangsa lain agar makin terpikat mengunjungi Indonesia. Marilah kita bekerja keras untuk menguasai lautan dan dirgantara kita.” Kepala Negara mengatakan.

Pencanangan Tahun Bahari dan Dirgantara bertujuan antara lain memacu upaya rakyat dan pemerintah untuk mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan asing ke Indonesia.

“Karena di samping menghasilkan devisa maka kegiatan kepariwisataan juga penting untuk mempererat hubungan persahabatan antar negara.”

Sumber : Bisnis Indonesia (02/01/1996)

________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 254-255.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.