PRESIDEN MERESMIKAN PEMBUKAAN MTQ DI MANADO

PRESIDEN MERESMIKAN PEMBUKAAN MTQ DI MANADO [1]

Manado, Kompas

Musabaqoh Tilawatil Qur ‘an (MTQ) ke-10 diresmikan pembukaannya oleh Presiden Soeharto dalam upacara di Stadion “Klabat” Manado.

Upacara pembukaan itu di hadiri oleh peserta dari’27 Kontingen berasal dari semua propinsi di Indonesia, serta para dubes negara-negara sahabat, Menteri Dalam Negeri Amirmachmud, Menteri Agama Prof Dr. Mukti Ali, Ny. Tien Soeharto, Ketua DPR Malaysia, Muspida Propinsi Sulawesi Utara dan lain-lain.

Pembukaan MTQ ke-10 itu ditandai dengan penekanan tombol oleh Kepala Negara, yang diikuti oleh pelepasan kembang – kembang api. Pengibaran bendera MTQ dilakukan 15 pelajar sekolah menengah, dengan didahului Mars MTQ oleh para murid sekolah se-Kotamadya Manado. Hymne MTQ yang dinyanyikan oleh lebih dari seribu murid sekolah di Manado mengiringi pengerekan bendera MTQ. Kemudian anggota-anggota “Dharma Wanita” Manado dalam sebuah koor menyanyikan lagu “Tuhan” ciptaan Ir. Iwan Abdurrachman dari “Trio Bimbo” dihadapan Kepala Negara serta 30.000 hadirin yang memenuhi stadion “Klabat”.

Kemudian dipertunjukkan display tarian masal rebana yang dibawakan 1043 murid sekolah, meliputi tarian selamat datang/penghormatan, tari sesuci mengambil air wudhu untuk sembahyang dan tari keagungan.

Qori Haji Ismael Hashem dari Malaysia kemudian membacakan Surah Al Anfaal dari mimbar Tilawah. Acara pembukaan itu diakhlri dengan pembacaan doa.

MTQ ke-10 diikuti 186 Qori dan Qoriah dari seluruh Indonesia, 136 official, 300 peninjau, 2000 anggota rombongan kesenian dan 22 dewan hakim.

Bangsa yang Beragama

Presiden Soeharto pada pidato pembukaan MTQ itu menekankan perlunya syiar agama untuk terus dikembangkan. “Umat beragama mesti lebih tergugah untuk melakasanakan pengembangan Pancasila yang lebih memasyarakat,” kata Presiden yang mengingatkan, masyarakat yang kita tuju adalah masyarakat religius sosialistis.

Kepala Negara menambahkan, perbedaan pendapat diantara kita adalah lumrah dan wajar. Namun perbedaan itu jangan untuk dipertentangkan, tapi ditemukan secara musyawarah. “Musyawarah dan mufakat berarti, perbedaan pendapat dibicarakan dan dipecahkan dengan semangat kekeluargaan. Tiada mutlak-mutlakan dan tiada yang merasa menang atau kalah. Dalam musyawarah yang menang adalah akal sehat dan kepentingan bersama. Yang dibutuhkan oleh pemuka bangsa dan masyarakat dewasa ini adalah kearifan membaca semangat untuk memahami apa yang menjadi kepentingan bersama dan kepentingan umum,” kata Presiden.

Presiden mengingatkan pula, suatu generasi akan menjadi besar jika generasi itu tetap berakar pada kebudayaan bangsanya. Dalam membangun bangsa, jangan melupakan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang religius. Dalam hal ini kita selamanya bersyukur bahwa bangsa kita memiliki pandangan hidup yang berakar pada kepribadian bangsa yaitu Pancasila. Pancasila itulah yang mengikat dan mengilhami kita. Dan MTQ merupakan ujud nyata dari Sila Ketuhanan.

Kenikmatan Orde Baru

Menteri Agama Prof. Mukti Ali yang berbicara sebelum Kepala Negara menyampaikan pidatonya, mengatakan hasil yang dicapai dalam masa pembangunan Orde Baru ini adalah kenikmatan hidup beragama.

“Kita merasa nikmat hidup beragama dewasa ini,” kata Mukti Ali. Menurut Menteri, Orde Baru menghasilkan suatu kehidupan beragama yang berkembang dengan semarak dan kehidupan agama yang rukun antara berbagai kelompok agama. Tidak curiga-mencurigai, bahkan saling percaya-mempercayai dan hormat­menghormati. (DTS)

Sumber: KOMPAS (21/07/1977)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 533-534.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.