PRESIDEN MERESMIKAN 6 JEMBATAN DI JAMBI

PRESIDEN MERESMIKAN 6 JEMBATAN DI JAMBI

Presiden Soeharto Selasa siang meresmikan jembatan Sarolangun dan dari tempat itu -secara simbolis- Kepala Negara juga meresmikan lima jembatan vital lainnya di propinsi Jambi.

Jembatan Sarolangun yang menyeberangi sungai Tembesi, serta jembatan2 Sei Peneradan, Mangupeh dan Penetai yang diresmikan itu terletak dijalan nasional yang menghubungkan ibukota propinsi Jambi dengan Sarolangun terns ke propinsi Sumatera Selatan dan Lampung.

Jembatan Sarolangun itu sendiri kata Presiden mernpakan bagian dari usaha kita untuk meningkatkan jalan lintas Sumatera, antara Muarabungo (Jambi) dan Lubuklinggau (Sumsel).

Dalam pidato peresmiannya Kepala Negara mengatakan dengan selesainya pembangunan jembatan ini maka terbuka kesempatan bagi berkembangnya daerah ini, lebih2 mengingat bahwa kabupaten Sarolangun (lebih dikenal dengan sebutan kabupaten Sarolangun Bangko, karena ibukotanya Bangko-red.)

Dengan selesainya jembatan itu dan dengan lancarnya lalulintas angkutan darat, maka jelas daerah ini akan dapat lebih mengembangkan dirinya, kata Presiden seraya mengharapkan kesejahteraan bertambah baik.

Transmigrasi

Presiden mengatakan dengan tetap memantapkan stabilitas ekonomi maka dalam Repelita III sekarang ini kita hams terus mempercepat pertumbuhan ekonomi dan serentak dengan itu kita juga harus memeratakan pembangunan menuju terwujudnya keadilan.

Untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi itu mutlak diperlukan adanya jaringan lalulintas jalan dan angkutan yang dengan lancar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat kita yang makin meningkat.

Secara khusus Presiden menunjuk dengan makin lancarnya jaringan komunikasi dengan daerah2 di Sumatera ini – Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, maka akan dapat memperlancar pelaksanaan transmigrasi yang sangat penting peranannya bagi suksesnya pembangunan kita.

"Justru itulah kunjungan saya ke daerah-daerah ini juga sekaligus saya gunakan untuk mengadakan peninjauan proyek-proyek pembukaan tanah untuk transmigrasi” kata Presiden.

Presiden mengingatkan bahwa cita2 kita adalah bagaimana agar semua tempat diseluruh wilayah tanah air dapat kita capai dengan mudah, bukan hanya diantara kota besar saja akan tetapi sampai ke pelosok-pelosok itulah justru terletak sumber alam kita yang penting gudangnya pangan dan tempat tinggal sebagian besar masyarakat kita, kata Kepala Negara.

Persatuan dan Kesatuan

Ia menekankan dengan membuka jalan yang menembus pelosok-pelosok tadi, dengan membebaskan masyarakat dari belenggu isolasi, maka berarti kita maju selangkah lagi dalam perjoangan besar untuk meratakan pembangunan.

Dengan makin luasnya jaringan jalan dan perhubungan maka, makin terasa kesatuan dan persatuan Indonesia. Ini berarti bahwa pembangunan fisik memberikan sumbangan yang penting bagi pembangunan mental spirituil.

Dalam arti itulah kita mengatakan bahwa pembangunan ekonomi sekaligus kita manfaatkan untuk pembangunan semua segi dari pembinaan bangsa kita.

”Mustahil kita berbicara mengenai persatuan Indonesia, mustahil berbicara tentang ketahanan nasional, mustahil kita berbicara tentang Wawasan Nusantara, jika hubungan satu dengan yang lain diantara kita di tanah air inimasih tetap sulit”, katanya.

Ia menambahkan, karena demikian penting arti ekonomi dan politik bagi pembangunan bangsa kita, maka dalam Repelita III sekarang ini kita akan melanjutkan perluasan jaringan jalan.

Dilain pihak kita menyadari bahwa dana2 yang tersedia masih tetap terbatas, terutama jika kita ingat betapa banyak sektor2 pembangunan lainnya yang harus kita garap. Karena itu, katanya kita harus terus berusaha agar dengan dana yang ada kita tetap dapat memiliki jaringan jalan yang memenuhi kebutuhan.

Dana

Pada awal amanatnya itu Presiden mengatakan sejak Repelita I sampai Repelita III sekarang ini tidak sedikit jembatan dan jalan-jalan yang telah kita perbaiki. Tidak dapat disangkal bahwa berkat perbaikan jalan dan jembantan itu ekonomi kita telah dapat tumbuh sehingga mencapai tingkat kemajuan seperti sekarang ini.

Namun diingatkan kita jangan sekali-kali cepat merasa puas dengan apa yang kita capai sampai sekarang. Malahan kita juga masih harus membangun yang baru, agar ekonomi kita makin cepat pertumbuhannya, sehingga kemakmuran dan kesejahteraan yang berkeadilan juga makin cepat kita rasakan secara merata.

Jembatan Sarolangun sepanjang 150 meter merupakan proyek khusus yang dibangun mulai tahun 1977/78 oleh kontraktor PT Hutama Karya dengan menggunakan konstruksi Calender Hamilton. Menurut laporan pada permulaan tahun 1978 biaya pembangunan jembatan ini sampai selesai sebesar Rp 579 juta lebih.

Dua jembatan lainnya yang saat itu merupakan proyek khusus adalah jembatan Muara Tebo dan Muara Tembasi.

Pilar2 jembatan Sarolangun yang terletak di Kabupaten Sarko ini pernah patah tanggal 14 Agustus 1974 sehingga memutuskan bagian jembatan di arah kota Sarolangun sepanjang 40 meter.

Menuju Aceh

Sebelum meresmikan jembatan Sarolangun dengan menggunakan helikopter dari Palembang, Selasa pagi, Presiden Soeharto telah meninjau dari udara proyek transmigrasi Supat Betung dan Sekayu di Sumatera Selatan.

Di Sarolangun, Menteri PU Purnomosidi menyampaikan laporan pembangunan jembatan ini dan kemudian Kepala Negara menandatangani prasasti peresmiannya.

Selanjutnya Kepala Negara meninjau proyek transmigrasi Pamenang sebelum menuju Jambi untuk istiraha untuk seterusnya melanjutkan kunjungan kerja ke Aceh Rabu pagi, dengan menggunakan pesawat Hercules.

Di Aceh, Presiden Soeharto akan meresmikan Pabrik Gula Mini Silihnara dan akan bertermu dengan masyarakat Aceh di Bireuan. Dalam perjalanan kembali ke Banda Aceh, dengan menggunaan helikopter Kepala Negara akan meninjau jalan sepanjang 80 km menuju ibukota propinsi Aceh tersebut.

Menurut rencana Kepala Negara dan rombongan akan kembali ke Jakarta hari Rabu itu juga. (DTS)

Sarolangun, Jambi, Sinar Harapan

Sumber: SINAR HARAPAN (16/10/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 183-186.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.