PRESIDEN MENGENAI SOAL PINJAMAN DARI LUAR NEGERI

PRESIDEN MENGENAI SOAL PINJAMAN DARI LUAR NEGERI [1]

 

Banda Aceh, Antara

Presiden Soeharto membantah tuduhan yang mengatakan, Orde Baru adalah orde yang selalu memperbesar pinjaman untuk memberatkan beban generasi yang akan datang.

Presiden mengemukakan hal ini di depan 350 ulama di pendopo gubernuran Aceh, Banda Aceh, hari Senin malam.

“Kita tidak ingin meninggalkan keadaan yang lebih buruk kepada generasi yang akan datang. Kita telah mempertimbangkan masak2 pencarian pinjaman itu”, kata Presiden.

Pinjaman itu digunakan untuk membiayai pembangunan yang bisa menghasilkan sehingga dapat mengembalikan hutang2 tersebut di samping pinjamanhanya dilakukan berdasarkan studi ketatalaksanaan, demikian kata Presiden.

Menurut Presiden, generasi yang akan datang tidak perlu mencari2 dana untuk mengembalikan pinjaman itu. Mereka tinggal mengelola proyek2 yang elibiayai dengan pinjaman2 itu. Sebagai contoh dikemukakannya, proyek LNG yang menelan biaya 1,5 milyar dollar AS akan bisa dikembalikan dalam jangka waktu tujuh tahun sehingga penghasilan sisanya dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.

Pemerintah, kata Presiden, selalu menjaga jangan sampai jumlah pinjaman melebihi 20 persen dari devisa negara.

Pinjaman sekarang ini baru sejumlah kurang dari satu milyar dollar AS, sedangkan penghasilan ekspor telah mencapai delapan milyar dollar AS.

Pemerataan Hasil Pembangunan

Presiden selanjutnya menyatakan, bahwa tuduhan yang mengatakan pembangunan sekarang ini hanya menguntungkan orang2 yang kaya dan mempermiskin yang miskin adalah tidak benar.

Diikutsertakannya modal perorangan baik pribumi maupun non-pribumi, kata Presiden, adalah untuk membantu perkembangan ekonomi, menciptakan lapangan kerja dan menjaga jangan sampai modal tersebut lari ke luar negeri.

Ia menilai keadaan sekarang ini barn bersifat sementara. Pada waktunya nanti keadilan dalam pemilikan modal akan diatur oleh pemerintah melalui pasar modal dimana perorangan bisa membeli saham2 pernsahaan. Agar supaya rakyat kecil bisa memiliki saham tersebut, maka pemerintah menentukan pemecahan saham dalam jumlah Rp 10 ribuan.

Tentang pendapatan per kapita, Presiden mengemukakan, pemerintah Orde Baru dalam sembilan tahun terakhir ini telah berhasil meningkatkan pendapatan per kapita dari 80 dollar AS menjadi 150 dolar AS per tahun.

Bahkan menurut Bank Dunia pada akhir tahun 1975 pendapatan per kapita orang Indonesia telah mencapai 180 dollar AS.

Sekalipun demikian, Presiden mengakui bahwa pendapatan per kapita rakyat Indonesia masih rendah dibanding dengan negara2 tetangganya karena terlampau besarnya jumlah penduduk.

Energi

Menyinggung masalah energi, Presiden mengatakan, kita tidak perlu khawatir kehabisan bahan untuk membangkitkan tenaga.

“Kalau minyak habis kita masih mempunyai batubara di samping endapan uranium yang cukup besar. Jika kedua bahan tersebut habis kita masih memiliki matahari,” katanya sambil tertawa.

Saya telah memerintahkan beberapa sarjana untuk memanfaatkan sinar matahari yang bisa menghasilkan uap untuk membangkitkan generator dan menghasilkan listrik, katanya. Secara bergurau Presiden mengatakan, matahari pasti akan ada sampai hari kiamat nanti. Para ulama yang mendengarkan pun tertawa terbahak2.

Bidang Pendidikan

Presiden Soeharto selanjutnya mengatakan, ia tidak bisa mengerti kalau sekarang ada gerakan anti kebodohan karena pemerintah telah membangun lebih kurang 20.000 SD sejak Pelita I dan akan membangun lagi 15.000 SD tahun ini di samping

memperbaiki 15.000 SD pemerintah dan madrasah. Menurut Presiden, sekalipun demikian jumlah SD yang telah dan akan dibangun itu hanya akan mampu menampung 85 persen dari jumlah anak2 usia sekolah. Selama ini pemerintah telah pula mengangkat 200.000 orang guru baru, demikian Presiden.

Dalam pidato di depan para ulama yang berlangsung kira2 selama satu jam itu Presiden berbicara tanpa menggunakan teks pidato. (DTS)

Sumber: ANTARA (05/04/1977)

 

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 462-463.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.