PRESIDEN : MAKANAN TIWUL SEBAIKNYA DIMASYARAKATKAN

PRESIDEN : MAKANAN TIWUL SEBAIKNYA DIMASYARAKATKAN[1]

 

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto mengatakan makanan tiwul kering (gogik) sebaiknya dimasyarakatkan karena memang merupakan makanan pokok bagi penduduk di daerah kering. Meskipun, menurut Kepala Negara, tiwul kering bukan menciptakan makanan pokok penduduk yang mengalami kelaparan.

Hanya saja, menurut Presiden, untuk membuat tiwul kering perlu bahan baku singkong yang cukup banyak. Demikian dijelaskan Menteri Sosial Inten Soewono seusai menghadap Presiden di kediaman Jalan Cendana, Rabu (7/1). Kepada Kepala Negara, Mensos melaporkan telah dikirimkannya bantuan Yayasan Dharmais 12,5 ton gogik ke Kabupaten Jayawijaya yang terkena kekeringan. Selain Kabupaten Jayawijaya, tiga kabupaten mengalami kekeringan yaitu Merauke, Puncak Jaya dan Timika

Presiden mengemukakan agar dijajahi kemungkinan bantuan gogik kepada penduduk di daerah kering tersebut diambilkan dari Lampung. Bisa saja bantuan tiwul ini diambilkan dari Wonosari dan Wonogiri tetapi tentu tidak cukup karena tiwul menjadi makanan pokok mereka. Oleh karena itu disarankan sekiranya ekspor singkong dari Lampung tidak terlalu besar maka bisa dialihkan menjadi tiwul kering.

Proses Pembuatan

Untuk itu, kata Presiden, masyarakat Lampung perlu diajari bagaimana proses mengolah singkong menjadi tiwul kering. Pertama singkong dijemur dan setelah kering dibuat menjadi tepung. Kemudian tepung singkong dimasak menjadi tiwul. Dalam keadaan basah tiwul itu lalu dikeringkan sampai menjadi gogik.

Gogik dapat dibuat pada masa musim kering. Hanya saja jika dalam waktu 2-3 hari tiwul basah yang dijemur tetap tidak kering maka dan akan berjamur.

Di samping tahan lama, bisa mencapai 6-7 bulan, tiwul kering memiliki bobot ringan sehingga mudah diangkut. Berbeda dengan beras, makanan ini tidak cepat mengenyangkan penduduk. Kalaupun sudah kenyang, dalam waktu relatif sebentar mereka akan lapar lagi.

Sementara umbi memang makanan utama mereka tetapi tidak tahan lama. Seandainya pun pemerintah pusat mampu menyediakan umbi dalam jumlah banyak, akan tetapi tidak dapat dijamin apakah umbi itu dapat diterima dalam keadaan baik.

“Hal ini perlu juga jadi pemikiran dari kami sehingga memang gogik ini salah satu alternatif yang bisa dilakukan. Namun kami tetap mengadakan pengkajian.” katanya.

Bencana kekeringan di Jayawijaya mengakibatkan korban 143.604 orang. Dari jumlah ini, berdasarkan data Kanwil Depsos, sebanyak 673 orang meninggal. (N-1)

Sumber : SUARA KARYA (08/01/1998)

______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 686-687.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.