PRESIDEN: KUMPULKAN DANA UMAT ISLAM

PRESIDEN: KUMPULKAN DANA UMAT ISLAM

Presiden Soeharto mengetuk hati masyarakat Islam Indonesia untuk dengan sukarela memberikan iuran guna pengumpulan dana yang diperlukan bagi pembangunan rumah sakit ataupun proyek masyarakat lainnya.

Ketukan hati ini dikemukakan Presiden hari Sabtu ketika meresmikan tiga pavilyun Rumah Sakit Islam Jakarta di Cempaka Putih bantuan Presiden. Peresmian ini ditandai dengan penanda tangan prasasti oleh Presiden disaksikan Ny Tien Soeharto, Menteri Sekretaris Negara Sudharmono, Menteri Agama Alamsyah, Duta Besar Belanda Lafalette. Tiga pavilyun itu masing-masing diberi nama Pavilyun Padi, Pavilyun Melati dan Pavilyun Matahari dengan sumbangan Presiden sebesar Rp 167 juta.

Diberikan contoh oleh Presiden, jumlah ummat Islam Indonesia yang 90 prosen dari 140 penduduk, misalnya yang mampu 10 juta orang dan setiap orang setahun bersedia menyumbang Rp 100saja, berarti akan terkumpul Rp 1 milyar.

"Kalau jumlah dana ini untuk membangun rumah sakit seperti Rumah Sakit Islam ini, dua tahun akan selesai", kata Presiden.

Dengan demikian, menurut Presiden tidak sulit bagi ummat Islam Indonesia dalam membangun proyek-proyek yang diperlukan masyarakat. Islam sendiri maupun untuk masyarakat lainnya.

Tapi, kata Presiden, hal ini tergantung pula kepada cara pengerahan dana yang dilakukan oleh umat Islam itu sendiri.

"Hal ini merupakan tantangan bagi umat Islam, apakah pengumpulan dana ini akan bisa berhasil atau tidak," kata Presiden.

Presiden mengeluarkan hal itu dalam uraiannya mengenai pemerataan pembangunan yang sedang dilaksanakan oleh pemerintah dengan proyek- proyek Inpres yang tidak sedikit jumlahnya, misalnya untuk Inpres SD saja meliputi mencapai

60.000 belum Inpres lainnya seperti Inpres obat-obatan, Inpres Kesehatan dan sebagainya. Ditambah lagi untuk tiap kabupaten akan dibangun sebuah rumah sakit, demikian pula untuk propinsi.

Walaupun demikian, menurut Presiden, belum cukup dan membutuhkan beaya yang tidak sedikit.

Ketua Yayasan RSIJ, dokter Kusnadi, mengatakan bahwa gedung perawatan bantuan Presiden ini merupakan tempat perawatan bagi masyarakat kebanyakan, terutama yang berpenghasilan rendah dengan pelayanan yang sama dengan yang lain. RSIJ merupakan RS tipe III yang memungkinkan mengadakan segenap macam operasi, kecuali operasi jantung. Untuk inipun sedang dipersiapkan.

Bung Hatta

Sebelum ke RSIJ, Presiden terlebih dulu meresmikan pemakaian proyek unit perawatan intensif (ICU) dan unit perawatan intensif untuk penyakit jantung (ICCU) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta dengan bantuan Presiden sebesar Rp 2,4 milyar.

Selesai peresmian dengan menandatangani prasasti. Presiden dengan Ny. Tien Soeharto; Menteri Sudharmono dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef mengadakan peninjauan keliling disertai Direktur RSCM Dr. Rukmono. Proyek-proyek yang diresmikan itu meliputi proyek radiodiagnostik, ruang operasi sentral di mana Presiden menyaksikan operasi jantung sedang dilakukan, fasilitas sterilisasi alat-alat medik sentral dan peralatan angiokardiografi.

Dalam kesempatan di RSCM ini, Presiden Soeharto bersama Ny. Tien Soeharto menengok Bung Hatta yang sedang dirawat di Pavilyun Cenderawasih (RSCM). (DTS)

Jakarta, Merdeka

Sumber: MERDEKA (23/07/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 398-399.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.