PRESIDEN: KONGLOMERAT TAK MUNGKIN MENGUASAI PEREKONOMIAN NEGARA

PRESIDEN: KONGLOMERAT TAK MUNGKIN MENGUASAI PEREKONOMIAN NEGARA[1]

 

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto mengatakan pemerintah memanfaatkan konglomerat untuk membangun perekonomian nasional, namun kehadiran mereka tidak mungkin menguasai perekonomian negara dan tidak perlu dikhawatirkan. “Saya katakan nggak mungkin, karena pemerintah sudah mengaturnya,” kata Kepala Negara ketika berdialog dengan 70 orang pengurus Induk Koperasi Unit Desa (Inkud) di Tapos, Bogor, Minggu.

Presiden yang pagi itu disertai Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil, Subiakto Tjakrawerdaya mengemukakan, konglomerat dilibatkan dalam pembangunan perekonomian nasional karena ketidakmampuan negara. Kalau kita menunggu, kapan mampunya. Menurut Presiden, kita akan ketinggalan sepur (kereta api-red) dengan negara lain. Karena kehadiran konglomerat tidak diharamkan oleh UUD 45, pemerintah memanfaatkan dengan strategi sementara.

Pemanfaatan konglomerat itu, kata kepala Negara, dilakukan dengan berbagai kebijaksanaan sesuaijiwa dan semangat pasal33 UUD 45. Ditegaskan bahwa itu merupakan langkah untuk mewujudkan pemerataan, pengawasan pemerintah tidak perlu langsung tetapi melalui kebijaksanaan dan peraturan.

Menyingggung mengenai pabrik yang dirniliki oleh konglomerat, menurut Presiden, tidak akan memungkinkan mereka lari dari Indonesia. Karena pabriknya di Indonesia dan modal mereka ditanamkan di sini. Apalagi sudah bisa memanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.

Kebijaksanaan itu bukan berarti membiarkan mereka begitu saja. Pemerintah telah mengambillangkah pemerataan dengan menjual saham ke bursa dan koperasi. Sedangkan BUMN sudah menjadi milik negara, artinya menjadi milik rakyat. Hal itu bukan hanya dilakukan kepada koperasi tapi juga kepada pengusaha lemah baik yang terakit maupun tidak.

Sedangkan yang tidak berkait dengan industri, wajib mencari perusahaan sekitarnya dan menjual sahamnya kepada koperasi. Ini untuk menunjukkan bahwa jangan sampai rakyat melupakan lembaga pelaku ekonomi menengah ke bawah sehingga meski kecil mereka merasa turut handarbeni. Kalau sudah memiliki sikap ini mereka merasa hangrungkebi. Pemerintah, kata Presiden akan terus berusaha menyadarkan para konglomerat.

“Kalau tidak mau, ya akan disadarkan ,”kata Presiden.

Para konglomerat itu dapat saja menjual sahamnya ke bursa saham, tetapi bila semua saham dijual ke bursa, hanya akan dibeli oleh orang-orang yang memiliki uang saja. Karena itu Presiden mengingatkan kembali bahwa konglomerat hendaknya juga menjual sahamnya kepada pengusaha lemah termasuk koperasi.

Presiden menjelaskan kepada konglomerat, beberapa waktu lalu bahwa mereka dulunya tidak memiliki apa-apa, tapi dapat berkembang seperti sekarang karena diberi kesempatan dan dapat memanfaatkannya.

Oleh karena itu, Presiden mengingatkan agar mereka jangan mempunyai perasaan bahwa sekarang yang dimiliki konglomerat merupakan basil usaha sendiri. “Sampai saya katakan, kasarnya modalnya hanya kathok kolor, dan itu saya katakan kepada Liem Bian Koen (Sofyan Wanandi, Red). Modalnya hanya jaket kuning karena kesempatan itu, keuletan, pengalaman dan keahlian mereka dapat seperti sekarang. Sejak jaman Belanda memang diberi kesempatan dan hidup mereka hanya di situ. Sementara itu kita masih memiliki kesempatan luas, bisa menjadi pegawai negeri atau tentara,”kata Presiden. (N-1)

Sumber : SUARAKARYA(28 /06/1993)

________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 487-488.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.