PRESIDEN : KITA MENOLAK CARA YANG TIDAK DEMOKRATIS

PRESIDEN : KITA MENOLAK CARA YANG TIDAK DEMOKRATIS[1]

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Presiden Soeharto mengemukakan bahwa pengalaman menunjukkan, perubahan sosial yang diselenggarakan secara terencana memberikan manfaat yang lebih besar bagi bangsa dan negara secara menyeluruh di bandingkan dengan perubahan yang dilakukan melalui gejolak-gejolak, betapapun kecilnya gejolak-gejolak itu.

“Kita tidak menyetujui sikap pihak mana pun yang berkehendak melakukan penekanan dengan cara yang tidak demokratis untuk memaksakan kehendaknya.” tegas Kepala Negara ketika membuka Musyawarah Besar Nasional Angkatan 45 ke 10 ; Selasa pagi di Auditorium Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, Jakarta.

Kehidupan berdemokrasi, lanjut Presiden Soeharto, memang memerlukan kesabaran. Untuk memecahkan suatu masalah banyak alternatif yang dapat dipilih. Tidak ada penyelesaian yang mutlak benar atau mutlak salah.

“Yang kita perlukan adalah rumusan penyelesaian yang kita sepakati bersama dan kita laksanakan bersama pula. Karena itu, kita bukan saja harus bersedia mendengarkan pendapat orang lain, tetapi juga harus mengembangkan kemampuan untuk meyakinkan orang lain terhadap pendapat tadi.” tutur Presiden.

Menurut Kepala Negara, Angkatan 45 sudah menunaikan dengan baik tugas dan tanggung jawabnya sebagai generasi pembebas dan generasi penerus sudah mulai melaksanakan dengan baik peran sejarahnya yang tidak kalah beratnya.

Tentu saja belum seluruh masalah dapat diselesaikan. Sewaktu-waktu di sana sini muncul gejolak-gejolak. Sebagian penyebabnya adalah karena masih kurangnya lapangan kerja, sebagian lagi merupakan reaksi emosional dari massa. Sebagian lainnya karena digerakkan oleh unsur-unsur yang hendak memaksakan kehendaknya.

Dengan menyadari berbagai kekurangan yang masih ada, demikian Kepala Negara, namun dalam garis besarnya arah perjuangan kita sebagai bangsa telah benar.

“Hari ini keadaan kita lebih baik dari hari kemarin. Kita percaya bahwa keadaan besok pasti lebih baik dari hari ini. Angkatan 45 kita harapkan kearifan dan sumbangan pikirannya untuk ikut menjaga agar perjalanan bangsa tetap ke arah terwujudnya cita­-cita masyarakat adil makmur dan makmur berdasarkan Pancasila.”

Berbeda

Dalam hubungan itu, Presiden Soeharto mengingatkan perlu disadari bahwa abad ke-21 yang segera akan dimasuki mempunyai banyak perbedaan dengan abad ke-20 yang akan ditinggalkan.

Bagaimana wujudnya yang pasti belum tampak jelas. Masih banyak pembenahan yang harus dilakukan untuk mengambil manfaat sebaik-baiknya dari perkembangan masa datang. Juga masih banyak pembenahan yang harus dilakukan agar tatanan baru yang akan terbentuk nanti tidak membawa kerugian yang besar terhadap bidang­-bidang yang kita belum sepenuhnya siap.

Untuk itu, demikian Kepala Negara, kita terus mendorong agar masyarakat menjadi masyarakat yang lebih terbuka. Kita melancarkan upaya-upaya untuk menyebarluaskan, memantau dan mengkaji pelaksanaan hak asasi manusia yang sesungguhnya merupakan pelaksanaan dari sila kemanusiaan yang adil dan beradab dari Pancasila.

“Kita terus berusaha untuk makin memantapkan kehidupan demokrasi, khususnya demokrasi yang disemangati oleh moral Pancasila.” kata Presiden.

Di bagian lain Presiden Soeharto mengatakan kepentingan nasional untuk merdeka bertentangan dengan kepentingan negara bekas penjajah, yang pada saat itu menganggap masih mempunyai hak dan kemampuan untuk menundukkan bangsa kita. Tidak ada perundingan dan tidak ada diplomasi yang dapat meyakinkan mereka untuk mengakui kemerdekaan yang sudah diproklamasikan, Hanya perjuangan bersenjata yang gigih dan tidak mengenal menyerah yang akhirnya dapat meyakinkan mereka bahwa tekad kita untuk merdeka tidak dapat ditawar-tawar lagi. Dukungan kekuatan yang efektif itulah yang memaksa penjajah ke meja perundingan.

Dikatakan, generasi 45 sering mendapat kritik, kurang menghargai peranan diplomasi dan terlalu mementingkan peranan perjuangan bersenjata. Kita tidak dapat menyesalkan timbulnya kesan itu, katanya, karena memang peranan perjuangan bersenjata dalam kemerdekaan tidaklah kecil. Namun kita juga tidak boleh mengecilkan peranan para pejuang nasional yang bergerak dalam bidang diplomasi. Merekalah yang berhasil menggalang dukungan pendapat umum dunia yang juga merupakan kondisi yang diperlukan untuk merumuskan penyelesaian mendasar dari konflik kita dengan negara bekas penjajah.

Demi kebenaran sejarah, tutur Kepala Negara, memang sudah saatnya hal itu diluruskan kembali. Dengan jujur kita perlu mengakui diplomasi maupun perjuangan bersenjata mempunyai andil masing-masing dalam keseluruhan perjuangan kemerdekaan. Kaum muda akan memperoleh pemahaman yang lebih lengkap jika kedua sisi perjuangan nasional ini disajikan seimbang kepada mereka.

Selanjutnya, demikian Presiden Soeharto, selain memberikan dukungan kekuatan dan kredibilitas bagi perjuangan nasional di masa lampau, sebagai generasi pembebas, kita juga telah berhasil membangun dan membangkitkan kekuatan kekuatan nasional yang akan melanjutkan perjuangan di masa datang.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (11/12/1996)

______________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 154-156.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.