PRESIDEN : KITA MEMERLUKAN KERJA SAMA YANG ERAT

PRESIDEN : KITA MEMERLUKAN KERJA SAMA YANG ERAT[1]

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Presiden Soeharto mengemukakan, saling pengertian dan kerukunan saja ternyata belumlah cukup, betapapun pentingnya hal itu. Sebagai bangsa yang menghadapi tantangan masa depan yang sama kita memerlukan kerja sama yang erat antara seluruh golongan dan Japi san tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras dan asal golongannya.

Presiden mengemukakan hal itu pada peresmian pembukaan Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, serta Seminar Nasional Budaya Bangsa di Plaza Monumen Persahabatan KTT Non Blok Taman Mini Indonesia Indah Jumat (10/11) petang. Seminar tersebut diselenggarakan bersama oleh Ikatan Cendiakawan Muslim Indonesia (ICMI), Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), Keluarga Cendiakawan Budhis Indonesia (KCBI) dan Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI). Seminar berlangsung hingga 13 November.

Menurut Kepala Negara, walaupun di sana-sini masih terdapat masalah setempat yang masih memerlukan perhatian kita, namun secara menyeluruh kita telah membuktikan bahwa kerukunan antar umat beragama dapat diwujudkan dalam kenyataan.

Perbedaan dalam anutan agama tidak perlu menjadi hambatan dengan menunaikan tugas dan tanggungjawab kita sebagai warga negara. Hanya dengan cara inilah kita akan dapat mempunyai kekuatan nasional yang dapat diandalkan untuk menjawab tantangan dan memanfaatkan peluang yang terbuka.

“Saya menghargai prakarsa yang amat bersejarah dari pimpinan lima organisasi cendikiawan umat beragan1yang menye1enggarakan Seminar Nasional Budaya Bangsa sekarang ini. Dengan tetap menimba motivasi rohaniah dari ajaran agama yang dianut masing-masing, pimpinan lima organisasi cendekiawan ini menyusun agenda masa depan yang akan diseminarkan dalam beberapa hari ini.” kata Presiden.

Presiden mengatakan, jika kita perhatikan kehadiran agama-agama besar dunia di Tanah Air ini, terlihat telah memberikan sumban gan penting bagi proses pembangunan kebudayaan bangsa. Agama-agama telah menjadi bagian menyeluruh dari kebudayaan daerah setempat, ternyata menjadi penghubung bagi berbagai kebudayaan daerah yang sebagian besar masyarakatnya menganut agama yang sama.

Dengan perkataan lain, kata Kepala Negara, agama-agama bukan saja telah menghindarkan berkembangnya rasa kedaerahan yang sempit, tetapi secara tidak langsungjuga ikut meletakkan dasar-dasar kebudayaan nasional yang meliputi seluruh Indonesia.

Dipersegar

Sementara itu, PanglimaABRI Jenderal TNI Feisal Tanjung mengatakan, upaya memperkukuh kerukunan intern dan antara umat beragama masih menuntut kerja keras berbagai pihak. Bahkan harus terus-menerus dipersegar, sehingga sentimen keagamaan yang dapat meluap pada sentimen suku ras dan antar goIongan tidak mudah menyulut kekisruhan dan kekerasan.

Pangab mengatakan hal itu dalam makalahnya pada Seminar Nasional Budaya Bangsa yang dibacakan Kepala Staf Sosial Politik ABRI , Letjen TNI M Ma’ruf Sabtu pagi.

“Masalah SARA memerlukan kewaspadaan pembinaan dan kearifan tersendiri secara terus-menerus, karena masalah ini bukan merupakan gejala klasik tetapi masalah kontemporer yang setiap saat menjadi actual.” ujarnya.

Ia mencontohkan  kasus Quebec (Kanada) merupakan contoh yang kiranya mampu mempersegar komitmen dan kewaspadaan kita semua terhadap kerawanan SARA demi persatuan dan kesatuan dalam rangka integrasi dan integritas nasional. Kunci keberhasilan perjuangan nasional dalam keanekaragaman agama dan suku yang dimiliki Indonesia  adalah  persatuan  dan  kewaspadaan yang berwawasan kebangsaan yang memadukan seluruh masyarakat Indonesia dalam rasa satu sebagai bangsa Indonesia.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (11/11/1995)

__________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 751-752.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.