PRESIDEN: KEUNTUNGAN PERTANIAN HARUS JATUH KE TANGAN PETANI

PRESIDEN: KEUNTUNGAN PERTANIAN HARUS JATUH KE TANGAN PETANI[1]

 

Jakarta, Kompas

PRESIDEN SOEHARTO menegaskan, sebagian terbesar keuntungan kegiatan pertanian harus jatuh kepada kaum tani sendiri dan tidak jatuh ke tangan pihak lain. Untuk itu pemerintah mengembangkan koperasi unit desa (KUD) dan membuka kredit usaha tani (KUT) dengan bunga rendah.

“Kita berharap agar KUD dapat benar-benar menjadi motor penggerak pembangunan pertanian di pedesaan. Usahakan agar jangan sampai KUD malah menjadi penghalang atau penghambat kemajuan di pedesaan. Apabila hal yang demikian tadi sampai terjadi, hal ini berarti ada yang tidak benar dalam pengurusan KUD, ” tutur Presiden.

Penegasan Kepala Negara tersebut dikemukakan Kamis (21/1), pada penyerahan penghargaan kepada parajuara Iomba intensifikasi pertanian tingkat nasional tahun 1991/1992. Hadir pada acara ini antara lain Ny. Tien Soeharto, Wapres dan Ny. EN Sudharmono.

Dalam kesempatan itu secara khusus Presiden Soeharto menyampaikan ucapan selamat kepada Satuan Pembina Bimas Dati I Jawa Tengah yang telah berhasil mempertahankan Tingkat Karya Bimbingan Intensifikasi untuk ketiga kalinya. “Untuk mencapai prestasi itu, jelas bukan hal yang mudah,” kata Presiden.

Selanjutnya Kepala Negara mengingatkan, setiap pimpinan daerah harus memberikan perhatian khusus kepada peningkatan mutu intensifikasi. Pimpinan daerah juga harus memimpin sendiri kegiatan-kegiatan untuk menyukseskan program intensifikasi. Pimpinan organisasi Bimas, kata Presiden Soeharto, harus memiliki keyakinan bahwapembangunan pertanian akan berhasil,jika mendapat dukungan dan kerja sama dengan kalangan luas.

Kerja Sama

Presiden juga menekankan arti pentingnya kerja sama kelompok tani bagi kehidupan dan pembangunan bangsa Indonesia. Kerja sama dalam kelompok tani, misalnya, merupakan salah satu upaya dalam membudayakan semangat bekerja sama berdasarkan asas musyawarah untuk mufakat yang lebih terarah dan terencana.

“Dengan semangat itu masyarakat tani tidak hanya sekadar menjadi pelaksana program pembangunan pertanian. Melainkan juga menjadi pelaku yang aktif dan sadar dalam ikut merencanakan, melaksanakan dan menilai sendiri hasil-hasil pembangunan pertanian,” ia menjelaskan.

Selanjutnya Kepala Negara juga menekankan arti pentingnya peranan pertanian dalam keseluruhan pembangunan. Tanpa pembangunan pertanian yang berhasil, kata Presiden, tidak mungkin kita membangun industri. Tanpa pembangunan pertanian yang berhasil, tidak mungkin menjadi bangsa yang maju dan hidup dalam kemakmuran yang berkeadilan sosial dalam masyarakat Pancasila yang dicita-citakan bersama.

Penghargaan

Menteri Pertanian Ir Wardojo dalam laporannya menyebutkan, petani yang akan menerima penghargaan dari Kepala Negara adalah para pemenang Iomba intensifikasi pertanian 1991-1992. Dalam hal ini ada delapan perlombaan intensifikasi yaitu intensifikasi khusus pola tanam, supra insus 1992, tebu rakyat intensifikasi, intensifikasi kedelai 1992, intensifikasi ayam bukan ras 1992, intensifikasi mina padi, intensifikasi tambak dan perlombaan tingkat karya bimbingan intensifikasi. Seusai penyerahan hadiah, Kepala Negara, Ny.Tien Soeharto, Wapres danNy. EN Sudharmono makan siang bersama para petani penerima penghargaan. (os/rat/Ant)

Sumber: KOMPAS (22/01/1993)

________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 825-826.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.