PRESIDEN : KESULITAN EKONOMI HADAPI DENGAN SABAR DAN TABAH

PRESIDEN : KESULITAN EKONOMI HADAPI DENGAN SABAR DAN TABAH[1]

 

 

Denpasar, Suara Pembaruan

Kesulitan ekonomi yang dialami dewasa ini harus dihadapi dengan sabar dan tabah. Dilihat dari segi agama, kesulitan ekonomi yang sedang kita derita itu dapat dipandang sebagai cobaan yang datang dari Tuhan Yang Maha Tahu.

“Adakah manusia akan mampu bersabar menghadapi cobaan tadi, ataukah akan berputus asa, semuanya tergantung kepada diri kita sendiri.” kata Presiden Soeharto ketika menyampaikan amanat pada acara Dharma Santi Nasional Nyepi di Denpasar, Minggu (26/4) malam.

Hadir bersama Kepala Negara antara lain. Menteri Agama Prof. Dr. M Quraish Shihab, Mensesneg Saadillah Mursjid, Mensos Nyonya Siti Hardiyanti Rukmana, Menkes ProfDr dr FaridA Moeloek dan mantan Mentamben, IB Sudjana.

Sebelum disampaikan amanat oleh Presiden, ucapan selamat datang disampaikan Gubernur Bali Ida Bagus Oka dan Dharma Wacana mengenai makna perayaan Nyepi oleh Ketua Umum Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Letjen (purn) Putu Soekreta Soerata.

Presiden mengatakan, kita semua sedang berusaha dengan segala daya dan upaya untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang menimpa kita semua. Sebagai manusia, kita akan berusaha tanpa kenal lelah, sedang sebagai umat beragama, hendaknya jangan terhenti mohon pertolongan kepada Tuhan.

“Tujuannya, supaya kita semua dikaruniai kesejahteraan dan kedamaian serta terhindar dari kesulitan dan malapetaka.” ujar Kepala Negara.

Dikatakan, “Perayaan Dharma Santi yang berpuncak pada ‘Catur Brata Penyepian’, sungguh mempunyai makna yang dalam, jika dikaitkan dengan suasana yang tengah kita hadapi saat ini. Inti dari keseluruhan acara ini tidak lain adalah perenungan batin, akal pikiran dari hati nurani agar mampu mengatasi tantangan hidup yang berasal dari godaan panca indera.”

“Saya percaya bahwa umat Hindu yang berhasil menjalani Brata Penyepian itu akan memiliki semangat baru dan tekad baru untuk meraih cita-cita masa depan yang lebih gemilang,” kata Presiden seraya mengajak umat Hindu sebagai bagian yang tidak terpisahkan  dari bangsa Indonesia yang majemuk untuk bekerja lebih giat meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Mendalami

Kepada generasi muda umat Hindu, Presiden berpesan supaya mendalami ajaran agama Hindu dengan sungguh-sungguh. Sebab, generasi muda tentu akan hidup lebih lama dari generasi tua yang hidup sekarang ini. Terlebih lagi hidup di awal abad ke 21, dengan segala tantangan dan peluangnya.

Presiden mengatakan, dalam abad baru ini peradaban bangsa-bangsa akan bertemu satu dengan lainnya dalam masyarakat global dengan peradaban yang baru pula. Karena itu, kita ingin supaya tiap-tiap agama memberikan sumbangan bagi pembentukan peradaban masa depan.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (27/04/1998)

_________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 730-731.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.