PRESIDEN : KERJA TIDAK SEMATA-MATA UNSUR EKONOMI

PRESIDEN : KERJA TIDAK SEMATA-MATA UNSUR EKONOMI

 

 

Presiden Soeharto menegaskan, meletakkan masalah produktivitas di luar konteks masyarakat tampaknya keliru dan mungkin menimbulkan masalah-masalah yang justru menggagalkan usaha-usaha produktivitas secara tepat dalam konteks masyarakat, khususnya masyarakat yang sedang membangun.

Kepala Negara mengatakan hal itu di depan peserta Kongres Produktivitas Dunia ke-5 dengan 350 peserta dari 25 negara Senin pagi di Istana Negara.

Pembangunan, kata Presiden Soeharto, merupakan proses perubahan menuju kemajuan karena itu tepat sekali kongres yang bertemakan “Produktivitas Sebagai Kekuatan Penggerak Pembangunan Nasional dan Pembangunan Dunia”.

Di Indonesia pembangunan mempunyai nilai-nilai yang kami anggap luhur, yaitu memanusiakan manusia. Kerja, menurut Presiden selanjutnya, tidak dianggap semata-mata sebagai unsur ekonomi, melainkan juga unsur kemanusiaan.

“Kerja kami pandang sebagai kesempatan untuk menaikkan harkat manusia, memberi kepercayaan pada diri sendiri dan mempertebal harga diri.”

Presiden menyatakan, Kongres Produktivitas se-Dunia ini dapat berperan banyak bagi terwujudnya dunia yang lebih maju, lebih sejahtera dan lebih adil dari apa yang dirasakan sekarang.

Umat manusia, dewasa ini berada dalam tahap awal dari satu era informasi dan komunikasi. Karenanya hubungan dan tali temali antar bangsa bertambah erat.

“Jakarta Declaration”

Sebelumnya, Menteri Tenaga Kerja Sudomo memberikan laporan bahwa kongres akan berlangsung dari 14 sampai 16 April di Hotel Indonesia.

Dalam kongres ini untuk pertama kali akan dibagikan productivity prize kepada empat tokoh yang mempunyai reputasi tingkat dunia. Juga akan dibahas kemungkinan didirikannya sebuah productivity academy dan pada penutupan kongres akan diumumkan satu rumusan produktivitas yang akan disebut “Jakarta Declaration“. (RA)

 

 

Jakarta, Sinar Harapan

Sumber : SINAR HARAPAN (14/04/1986)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 480-481.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.