PRESIDEN KEPADA DEWAN KOMISARIS PERTAMINA: NAIKKAN PRODUKSI MINYAK BUMI

PRESIDEN KEPADA DEWAN KOMISARIS PERTAMINA: NAIKKAN PRODUKSI MINYAK BUMI

Presiden Soeharto memberi petunjuk kepada Dewan Komisaris Pertamina supaya menaikkan produksi minyak bumi Indonesia yang sekarang ini masih sekitar 1,5 juta barrel/hari.

Dewan Komisaris Pertamina yang beranggotakan Menteri Pertambangan dan Energi Subroto (Ketua), Menko Ekuin/Ketua Bappenas Widjojo Nitisastro, Menteri Keuangan Ali Wardhana dan Menteri Hankan/Pangab, menerima petunjuk tersebut sewaktu mereka bertemu dengan Presiden di Bina Graha, Kamis kemarin.

Dalam pertemuan itu juga hadir Menteri Perdagangan dan Koperasi Radius Prawiro, Menteri Ristek B.J. Habibie, Menteri PAN Sumarlin, Menteri Perindustrian A.R. Soehoed, Menteri Sekretaris Negara Sudharmono, Direktur Utama Pertamina Piet Haryono, Pj. Ketua BKPM Ismael Saleh, serta Ketua Dewan Komisaris PT. Caltex Indonesia J. Tahya.

Menteri Pertambangan dan Energi Subroto/Ketua Dewan Komisaris Pertamina mengatakan, petunjuk Presiden untuk menaikkan produksi minyak bumi Indonesia itu berhubungan dengan makin berkurangnya penyediaan minyak bumi di pasaran dunia sebagai akibat perang antara Irak dan Iran sekarang ini.

Di samping itu, katanya diperkirakan dalam jangka panjang minyak bumi masih tetap merajai sumber bahan bakar masyarakat dunia, sekalipun ada usaha-usaha mencari bahan pengganti seperti batu bara, panas bumi, tenaga nuklir dan sebagainya.

Menyadari kedudukan minyak bumi yang masih dominan tersebut, Menteri Subroto mengatakan, untuk masa mendatang diperkirakan kebutuhan akan minyak bumi masih tetap tinggi malah bisa naik lagi apabila ekonomi dunia yang sedang reses sekarang ini segera akan mengalami perbaikan.

Cara Menaikkan

Atas pertanyaan Menteri Subroto mengatakan, usaha menaikkan produksi minyak bumi Indonesia akan dilakukan dengan meningkatkan usaha-usaha eksplorasi dan eksploitasi.

Dalam jangka pendek usaha tersebut dilakukan dengan meningkatkan produksi dari sumur-sumur minyak yang sudah menghasilkan. Pertama-tama akan dilakukan di sumur-sumur minyak yang ada di Duri, Riau, daerah ketja perusahaan PT. Caltex Indonesia.

Dalam hubungan ini, Ketua Dewan Direksi PT. Caltex Indonesia J. Tahya dan Direktur Utama Pertamina Piet Haryono mengatakan, dengan menggunakan teknologi tertentu. Usaha menaikkan produksi dari sumur minyak yang sudah menghasilkan memang dapat dilakukan tanpa merusak keadaan di lapangan minyaknya.

J. Tahya mengatakan, perusahaan minyak Amerika, Texaco dan Standard Oil of California, sebagai pemegang saham perusahaan minyak PT. Caltex Indonesia sudah pemah mencoba suatu teknologi di sumur-sumur minyak di Duri, sekitar tahun 1967. Hasilnya memang tinggi, bisa sampai dua tiga kali produksi sebelumnya.

Menteri Pertambangan dan Energi Subroto mengatakan, proyek pertama peningkatan produksi minyak bumi di Duri, Riau itu akan segera menimbulkan kegiatan ekonomi tambahan di Indonesia dan di daerah Riau sendiri.

Menteri mengatakan, teknologi yang akan diterapkan adalah teknologi yang banyak menggunakan pipa-pipa dan ketel-ketel uap panas, karena itu proyek nanti banyak membutuhkan barang-barang tersebut. Tenaga kerja pun nanti banyak dibutuhkan, katanya.

J. Tahya mengatakan, sekarang ini produksi minyak bumi dari sumur-sumur minyak di Duri, 39.000 barrel sehari. Sedang produksi PT. Caltex Indonesia secara keseluruhan dari daerah produksinya di Riau adalah 760.000 barrel sehari.

Tahun 1981 Jadi Kenyataan

Ia mengharapkan tahun 1981 nanti peningkatan produksi minyak di daerah Duri sudah bisa jadi kenyataan.

Di samping daerah Duri, baik Menteri Pertambangan dan Energi maupun Dirut Pertamina dan T. Jahya, belum bisa memastikan lapangan minyak mana lagi yang akan dinaikkan produksinya.

“Teknologi untuk menaikan produksi minyak dari sumur yang sudah menghasilkan adalah macam-macam,” kata Piet Haryono.

Di Duri, sesuai dengan sifat kandungan minyak buminya yang agak padat seperti madu, teknologi yang digunakan adalah menyemprotkan semacam gas panas sehingga minyak buminya lebih cair sehingga dapat lebih mudah disedot.

Di tempat-tempat lain, bisa dengan menyemprotkan air ke sumur minyak yang bersangkutan, supaya minyaknya naik hingga mudah dipompa, katanya. Berbicara tentang eksplorasi, Menteri Pertambangan dan Energi mengatakan, sebaiknya negara-negara yang ingin mendapat minyak dari Indonesia mau bekerjasama.

Ia mengatakan, Indonesia akan dengan tangan terbuka menerima tawaran kerjasama dari negara-negara anggota ASEAN. Dan kalau usaha eksplorasi tersebut menghasilkan, yang pertama-tama mendapat bagian minyaknya tentulah negara-negara itu, kata Menteri.

Dengan membentangkan peta, Menteri mengatakan, Indonesia masih banyak memiliki wilayah-wilayah (istilah Menteri cekungan-cekungan) minyak yang belum digarap, dari daerah Aceh sampai Irja.

Ia mengatakan, produksi Indonesia, sekarang ini sebanyak 1,5 juta barrel sehari, sebenarnya masih kecil bila dibandingkan dengan produksi minyak dunia dewasa ini yang mencapai 60 juta barrel sehari, yang terdiri dari produksi negara-negara OPEC 27 juta barrel, negara negara di luar OPEC 23 juta barrel, dan negara negara sosialis 10 juta barrel. (DTS).

Jakarta, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (17/10/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 822-824.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.