PRESIDEN : KAWASAN SEKITAR GAWAT, PERKOKOH KETAHANAN NASIONAL

PRESIDEN : KAWASAN SEKITAR GAWAT, PERKOKOH KETAHANAN NASIONAL

Presiden Soeharto menekankan pentingnya usaha untuk terus memperkokoh ketahanan nasional sehubungan dengan keadaan yang berkembang cepat di kawasan di luar ASEAN.

“Keadaan yang berkembang cepat di sekitar kawasan kita itu, hendaknya makin meyakinkan kita, betapa pentingnya kita terus memperkokoh ketahanan nasional”, demikian Kepala Negara menegaskan dalam pidatonya ketika melantik tiga orang duta besar luar biasa dan berkuasa penuh RI di Istana Negara Sabtu pagi.

Ketiga duta besar baru itu adalah Mayjen Josef oeskita untuk Republik Federasi Jerman, Laksamana Muda TNI (Purn) Hmjono Nimpuno untuk Austria dan R.M. Mohammad Hasan untuk Republik Demokrasi Jerman.

Cara yang paling tepat untuk memperkokoh ketahanan nasional itu, menurut Presiden, adalah dengan mempercepat jalannya pembangunan sehingga seluruh rakyat dapat segera menikmati secara adil kemajuan, kemakmuran dan kesejahteraan.

Presiden menyatakan keyakinannya, sikap seperti itu akan terus dikembangkan dilingkungan negara2 ASEAN, sehingga ketahanan regional Asia Tenggara dapat dipupuk terus.

Harus Tahan Diri

Presiden menyatakan kawasan di sekitar ASEAN berkembang dengan cepat dan tampak makin menegangkan dalam minggu2 terakhir ini.

Keadaan itu, menurut Presiden, akan bertambah gawat jika semua pihak yang terlibat tidak dapat menahan diri.

Tentang sikap Indonesia, ia menegaskan bahwa sejak semula bangsa Indonesia berpendapat bahwa bangsa2 hendaklah saling hormat menghormati kedaulatan dan wilayah masing2, bersahabat dan tidak mencampuri urusan rumah tangga bangsa lain.

Sikap seperti itu akan menghilangkan curiga mencurigai dan saling bermusuhan sehingga dapat dikembangkan suasana saling mempercayai dan kerjasama.

Kepada para duta besar baru itu Kepala Negara mengingatkan bahwa dalam tahun2 mendatang ini tampaknya dunia masih tetap akan diliputi oleh perkembangan2 baru, baik di lapangan politik, ekonomi maupun pertahanan.

Dijelaskannya, dunia masih penuh dengan berbagai benih ketegangan dan konflik, penuh dengan lalu lalangnya kepentingan dan ambisi demikian banyak bangsa, serta saling berebutan pengaruh diantara kekuatan besar, sehingga benturan2 acapkali tak bisa dihindarkan.

Dalam keadaan dunia yang tetap, penuh dengan segala macam kemungkinan itu, kata Presiden lebih Ianjut, bagi bangsa lndonesia yang penting adalah mengembangkan kemampuan dan kesanggupan nasional untuk mengambil sikap dan langkah yang tepat agar kepentingan nasional dapat dilindungi dan keselamatan nasional dapat dijaga.

Cari Pasaran

Kepala Negara juga minta agar para duta besar baru itu agar membantu perluasan pasaran2 baru bagi produksi Indonesia sehubungan dengan diumumkannya Kenop 15 yang tujuan utamanya adalah untuk menggalakkan ekspor Indonesia.

Ia minta semua duta besar RI di luar negeri menemukan setiap peluang untuk melemparkan barang2 Indonesia di luar negeri. Usaha mencari pasaran baru itu sejalan dengan usaha pemerintah terus meningkatkan produksi dalam negeri.

Presiden memperkirakan nilai ekspor Indonesia akan naik dalam tahun2 mendatang tetapi menurut dia tetap diperlukan kewaspadaan dan keuletan.

“Sebab kelengahan kita dalam hal ini, akan dapat berakibat yang buruk bagi kelangsungan pembangunan kita, yang akhirnya berarti kesulitan bagi rakyat banyak”, katanya.

Josef Moeskita sebelum menjadi duta besar adalah Ditjen Perdagangan Dalam Negeri, Haryono Nimpuno sebelumnya adalah Ditjen Perhubungan Laut, sedangkan R.M. Moch. Hasan sebelumnya adalah Konjen RI di San Fransisco.

Terima Surat2 Kepercayaan

Sebelum upacara pelantikan itu Presiden di Istana Merdeka menerima surat2 kepercayaan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Demokrasi Rakyat Laos, Vanthong Seng Muong.

Dalam pidatonya Kepala Negara minta agar hubungan kerjasama antara RI dan Laos terus ditingkatkan dalam masa2 mendatang. Duta besar baru Laos itu berkedudukan di Bangkok. (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (24/02/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 27-29.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.