PRESIDEN : KAMPUS DIBANGUN UNTUK MENDIDIK

PRESIDEN : KAMPUS DIBANGUN UNTUK MENDIDIK[1]

 

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Presiden Soeharto mengatakan kampus dibangun untuk mendidik dan mempersiapkan pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Aksi unjuk rasa akan mengganggu proses belajar mengajar di kampus.

Hal itu dikatakan Kepala Negara ketika menerima Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Tyasno Sudarto dan yang digantikannya Mayjen TNI Mardiyanto di Bina Graha Jakarta, Jumat (17/4). Mereka melaporkan serah terima jabatan Pangdam IV Diponegoro tanggal 13 April yang lalu.

“Jangan sampai kampus tidak bisa melaksanakan fungsinya dengan baik,” kata Tyasno Sudarto, mengutip Kepala Negara.

Mengenai tindakan yang akan diambil menghadapi unjuk rasa mahasiswa di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Pangdam mengatakan akan bertindak dengan persuasif.

“Kita mengajak mahasiswa untuk mengembalikan fungsi kampus ini sebaik­ baiknya. Mahasiswa juga tentu ingin belajar dengan baik, menuntut ilmunya dengan baik.” katanya.

Mengenai dialog, Pangdam mengatakan dari dulu sudah dilaksanakan dialog untuk menghilangkan kesalahpahaman, walaupun sifatnya informal.

“Dialog kan tidak perlu formal. Dengan datang ke kantor, ke rumah, bisa saja. Saya akan meneruskan kebijaksanaan Pak Mardiyanto.” katanya.

Kapuspen ABRI Brigjen TNI A Wahab Mokodongan mengatakan, dalam melakukan aksinya terkadang mahasiswa agak sedikit ke luar ke jalan karena kampusnya terlalu penuh. Selagi tidak mengganggu ketertiban, tidak ada masalah.

“Namun, ABRI tetap memutuskan bahwa tidak ada kegiatan unjuk rasa mahasiswa yang boleh ke jalan.” kata Brigjen AW Mokodongan, Kamis (16//4) di Mabes ABRI, Jakarta.

Dikatakan, selama mahasiswa masih melakukan aksinya di dalam kampus, silahkan saja.

“Kita mencoba untuk mau percaya. Tolong kita dipercaya, jangan dicurigai. Kita juga tidak curiga, tetapi dengan catatan kalau perpindahan dari satu fakultas ke fakultas lain, lakukan itu dengan tertib. Tapi pada saat pelaksanaan unjuk rasanya sendiri, jangan ada dijalan.” ujarnya.

Silakan saja mahasiswa suatu perguruan tinggi bergabung dengan perguruan tinggi lainnya, tambahnya, menanggapi bergabungnya beberapa mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi beberapa waktu lalu. Namun dikatakan, saat ini sangat sulit untuk membuktikan satu persatu apakah mahasiswa itu betul-betul murni sebagai wakil dari universitasnya.

“Kalau memang betul-betul murni, ABRI tidak akan mampu menahan mereka. Kalau seluruh mahasiswa dari satu universitas bergerak menuju universitas yang lainnya, siapa yang bisa menahan. Tetapi jika hanya beberapa orang, yakin nggak Anda bahwa mereka itu sudah betul-betul mendapat mandat dari mahasiswa lainnya.” katanya.

Ditegaskan, kalau mahasiswa sudah mulai keluar, ABRI akan menahan supaya mereka tidak keluar.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (18/04/1998)

___________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 792-793.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.