PRESIDEN: KALAU ADA YANG MELANGGAR KONSTITUSI HARUS “DIGEBUK”

PRESIDEN: KALAU ADA YANG MELANGGAR KONSTITUSI HARUS “DIGEBUK”[1]

 

Solo, Antara

Presiden Soeharto menegaskan, apabila ada yang melanggar konstitusi atau hukum harus “digebuk” dan tidak usah ragu-ragu untuk mengambil tindakan kepada mereka. Penegasan itu disampaikan Presiden Soeharto dalam Temu Wicara dengan para calon jemaah haji (Calhaj), usai meresmikan Asrama Haji di Donohudan, Kabupaten Boyolali, Jumat.

“Saya ini hanya melaksanakan dan mengemban kepercayaan dari rakyat, apa yang diperintahkan dan ditetapkan melalui DPR untuk dilaksanakan. Kalau memang dianggap tidak becus, silakan untuk menarik melewati sidang istimewa MPR.” ungkap Presiden.

Presiden mengatakan dirinya tidak akan keberatan atau tidak akan mempertahankan jabatannya sama sekali kalau rakyat menghendaki, dan akan diterima dengan baik demi kepentingan rakyat dan negara.

“Namun, harus dilakukan secara konstitusional, kalau tidak melewati ini, saya katakan, ya saya gebuk, karena melanggar konstitusi kita, dan saya juga dengar ada ini ada itu. Kalau sampai melanggar hukum, saya gebuk betul serta tidak akan ragu-­ragu mengambil tindakan terhadap mereka itu.” tegas Presiden.

Untuk menjaga stabilitas yang aman dan mantap, kata Kepala Negara, ini merupakan tanggungjawab bersama, baik pemerintah, masyarakat maupun para ulama dan semua harus waspada pada kelompok -kelompok yang sudah tidak mau menerima Pancasila dan UUD 1945.

Kepala Negara mengatakan kalau stabilitas nasional sudah terganggu, jelas pembangunan akan terganggu dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi juga tidak berkembang dan selanjutnya untuk mencapai kesejahteraan mengalami hambatan.

“Kalau hanya mencapai keadilan saja, saya katakan mudah. Tapi kalau mencapai kemakmuran semua rakyat ini yang sulit, karena harus membangun, dan ini tidak bisa dilaksanakan sekaligus, tetapi secara bertahap.” kata Kepala Negara .

“Akhir-akhir ini ada ‘slentingan’ yang ingin merubah negara Pancasila. Itu semua akan merusak, karena itu kalau kita tidak mau, ya harus dihadapi dan tidak perlu ragu-­ragu untuk menghadapi itu semuanya.” kata Presiden.

Menyinggung masalah Pemilu yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali untuk memilih wakil-wakil rakyat yang duduk di legislatif, Presiden meminta untuk dilaksanakan sebaik-baiknya.

Kepala Negara mengatakan, apabila ada yang tidak melaksanakan dengan baik, jangan terus menyalahkan orang lain, karena itu salahnya sendiri.

“Misalnya ada yang mau Golput, itu nanti akan rugi sendiri dan menyesal, karena basil Pemilu itu sudah tidak bisa diubah lewat undang-undang. Karena itu agar rakyat menggunakan haknya sebaik-baiknya untuk memilih wakilnya yang duduk di DPR/MPR.” tegas  Presiden.

005/SMR-002/SMR-001/B!DN06/28/02/97 17:57/RU1)

Sumber: ANTARA (28/02/1997)

___________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 483-484.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.