PRESIDEN: JELASKAN BAHAYA GUNUNG BERAPI PADA MASYARAKAT

PRESIDEN: JELASKAN BAHAYA GUNUNG BERAPI PADA MASYARAKAT

 

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto memerintahkan Menteri Pertambangan dan Energi Ginandjar Kartasasmita agar memberikan penjelasan yang seluas-luasnya kepada masyarakat tentang bahaya letusan gunung berapi serta tanah longsor.

Perintah itu dijelaskan Ginandjar kepada wartawan setelah bersama Mensesneg Moerdiono melaporkan kepada Presiden Soeharto di Bina Graha, Sabtu tentang perkembangan harga minyak mentah serta penanggulangan Gunung Kelud yang terjadi tanggal 10 Februari 1990.

Ginandjar mengatakan, permintaan Kepala Negara bagi penyebarluasan bahaya gunung berapi serta bahaya longsor disampaikan karena ada beberapa gunung perlu diwaspadai seperti G Merapi di Jateng, G Semeru di Jatim, serta G Galunggung di Jawa Barat.

Ia mengatakan, bahaya yang dihadapi rakyat di sekitar G Kelud dalam waktu dekat adalah hujan lebat yang bisa mengakibatkan turunnya lahar dalamjumlah besar.

“Saya melaporkan ada beberapa gunung lain yang perlu diwaspadai yaitu Gunung Merapi, Semeru serta Galunggung. Ketiga gunung ini sedang diamati bukan karena bahaya letusan tapi banjir lahar dingin yang dapat mengganggu masyarakat sekitarnya,” kata Ginandjar.

Ginandjar mengatakan, ramalan tentang letusan gunung berapi merupakan suatu dilema. Di satu pihak, ramalan itu diperlukan untuk memberitahukan kepada masyarakat tentang kemungkinan letusan gunung berapi sehingga bisa dihindari jatuhnya korban.

Namun, di lain pihak jika ramalan itu meleset maka masyarakat bisa saja tidak mempercayai lagi ramalan-ramalan tersebut walaupun sebenarnya gunung berapi yang bersangkutan akan segera meletus.

“Kalau belum tetjadi (letusannya, red), tentu orang-orang tidak akan mau disuruh pindah,” kata Ginandjar ketika menjelaskan dilema yang dihadapi petugas Direktorat Geologi.

Kepada Kepala Negara, ia juga melaporkan tentang kemungkinan bahaya tanah longsor di beberapa daerah. Ia mengharapkan masyarakat tidak tinggal di daerah-daerah berbahaya itu sekalipun lahannya subur.

 

 

Sumber : ANTARA (17/02/1990)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XII (1990), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 611-612.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.