PRESIDEN : JAUHI SIKAP DAN PERILAKU EMOSIONAL

PRESIDEN : JAUHI SIKAP DAN PERILAKU EMOSIONAL[1]

 

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto mengajak seluruh masyarakat Indonesia menjauhi sikap dan perilaku emosional dan mampu berpikir lebih jernih guna mencegah terjadinya lagi berbagai gejolak seperti yang terjadi pada tahun 1996.

Dalam pidato akhir tahun yang disiarkan RRI dan TVRI pada tutup tahun 1996 Selasa malam (31/12), Presiden menekankan,

“Di masa mendatang kita harus mencegah terulangnya berbagai gejolak seperti yang terjadi dalam tahun ini. Kita harus mampu menempatkan kepentingan bersama, kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan.”

Kepala Negara menengarai, berbagai gejolak itu ada yang dilatarbelakangi sebab sosial, budaya, politik, ekonomi serta agama.

“Kita bersyukur bahwa gejolak itu dapat kita atasi dengan sebaik-baiknya. Kita menyadari bahwa sekecil apapun gejolak yang terjadi di tengah masyarakat, jika tidak segera diatasi akan membawa akibat yang merugikan kepentingan bangsa kita secara keseluruhan.” kata Presiden.

Sikap positif, kata Kepala Negara, amat diperlukan karena harus disadari bahwa tidak mudah memelihara stabilitas nasional dalam sebuah negara kepulauan dengan tingkat kemajemukan tinggi seperti Indonesia. Masyarakat yang mejemuk memiliki bibit kerawanan yang kalau tidak ditangani dengan sungguh-sungguh dapat menimbulkan berbagai gejolak.

“Kejadian di masa lalu, baik yang menyenangkan maupun kejadian yang menyedihkan hendaknya kita terima dengan lapang dada untuk kita petik hikmahnya.” kata Presiden.

Hal yang baik perlu terus ditingkatkan. Sementara itu hal yang kurang baik harus diperbaiki oleh masyarakat.

Sekalipun selama tahun 1996 terjadi berbagai gejolak, Kepala Negara menyampaikan rasa gembiranya karena masyarakat bersama pemerintah mampu mempertahankan stabilitas nasional yang mantap dan dinamis.

Kepada seluruh bangsa Indonesia, Presiden mengatakan pemerintah akan terus mendorong keterbukaan dan kegiatan lain untuk meningkatkan mutu kehidupan demokrasi.

Di bidang politik misalnya, telah muncul berbagai gagasan yang lebih menyegarkan kehidupan demokrasi di tanah air. Gagasan itu patut disambut dengan hati terbuka, karena pembangunan pada akhirnya memang disadari meningkat kan daya kritis masyarakat.

“Namun kita harus tetap memperhatikan rambu agar gagasan dan aspirasi baru itu jangan sampai lepas dari kendali. Untuk itu, kita tetap harus berpegang teguh pada Pancasila, UUD’45 serta GBHN.” kata Presiden.

Khusus mengenai masalah kekuatan sosial politik, Kepala Negara menyambut gembira bahwa berbagai kekuatan Sospol dan organisasi kemasyarakatan lain telah melakukan kegiatan konsolidasi organisasi.

“Kita semua berkepentingan agar organisasi kekuatan sosial politik dan organisasi kemasyarakatan itu kukuh dan berfungsi dengan baik. Lebih-lebih karena pada tahun depan kita akan menyelenggarakan pemilihan umum.” kata Presiden.

Kepala Negara juga menyinggung peran serta Indonesia dalam menangani berbagai krisis dunia, seperti Bosnia, mendorong proses perdamaian di Timur Tengah serta membantu penyelesaian konflik di Philipina Selatan.

Mengenai situasi perekonomian nasional, Kepala Negara mengatakan, ekonomi domestik telah mencapai berbagai kemajuan penting.

“Pertumbuhan ekonomi pada tahun ini tetap tinggi, yaitu sekitar 7,8 persen, sedikit melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 1995 yaitu 8,2 persen. Laju inflasi dapat ditekan hingga kira-kira hanya 6,7 persen, lebih rendah jika dibanding kan dengan laju inflasi tahun lalu yang 8,6 persen.” kata Presiden.

Tingkat investasi, menurut Presiden, juga menggembirakan karena dalam rangka PMDN telah disetujui 810 proyek baru bernilai Rp 100,7 triliun dan PMA 959 proyek bernilai 29,9 milyar dolar AS.

“Dasar ekonomi nasional kita cukup mantap, walaupun terjadi defisit transaksi berjalan.” kata Kepala Negara.

Sekalipun pembangunan ekonomi telah menghasilkan berbagai hal positif, Kepala Negara mengingatkan masyarakat bahwa perekonomian dunia pada tahun 1997 mengandung berbagai kemungkinan yang sulit diramalkan.

Oleh karena itu yang paling penting adalah kebulatan tekad seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali untuk bekerja keras dan bahu membahu, yaitu pemerintah dengan masyarakat dan di antara berbagai kalangan masyarakat.

“Sendiri-sendiri kita bisa lemah, bersama-sama kita akan kuat. Kita memiliki potensi dan kemampuan serta pengalaman dalam menghadapi masalah nasional serta Internasional.” kata Kepala Negara.

Presiden mengatakan, berbagai kemajuan di bidang ekonomi itu termasuk sektor pertanian dan pariwisata telah membawa dampak sangat positif dalam pembangunan bidang lain.

“Meskipun demikian kita tetap menyadari masih adanya kelemahan dan kekurangan yang harus kita atasi. Kita harus mengatasi kesenjangan pembangunan antar sektor, antar wilayah atau antar golongan ekonomi.” tambah Presiden.

Dicontohkannya, berbagai kesenjangan itu harus ditanggulangi dengan memacu upaya pemerataan di segala bidang, antara lain dengan melanjutkan proses pengentasan kaum miskin.

Sumber: SUARA KARYA (02/01/1997)

_________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 15-17.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.