PRESIDEN: JARANG ADA ANALISIS YANG IKUT SELESAIKAN MASALAH

PRESIDEN: JARANG ADA ANALISIS YANG IKUT SELESAIKAN MASALAH[1]

 

 

Medan, Antara

Presiden Soeharto mengatakan pemerintah sampai sekarang jarang sekali menemukan analisis-analisis mengenai berbagai permasalahan yang muncul di tanah air ini yang dapat membantu menjernihkan dan menyelesaikan berbagai persoalan kemasyarakatan.

“Tidak sedikit merupakan analisis cepat, bahkan spekulasi yang tidak kuat dasarnya, yang tidak didukung fakta yang kuat,” kata Presiden di Medan, selasa ketika membuka Kongres Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIS) ke-7.

Kepala Negara yang didampingi Mensesneg Moerdiono dan Gubernur Sumatera Utara Raja Inal Siregar kemudian berkata

“Dasar ilmiah yang disebut­-sebut itu banyak pula yang berasal dari penelitian masyarakat bangsa lain, yang tentunya berbeda dengan masyarakat kita sendiri.”

Analisis semacam itu belum dapat sepenuhnya membantu pengambilan keputusan, bahkan mungkin saja dapat memperkeruh suasana karena mendapat penonjolan yang berlebihan dalam media massa, tambah Kepala Negara.

“Meskipun saya bukan seorang ilmuwan, apalagi ilmuwan sosial, saya sering juga mengamati para pengamat perkembangan sosial. Hasil pengamatan saya itu sering pula menimbulkan aneka ragam pertanyaan dalam diri saya mengenai profesionalisme itu,” kata Presiden.

Alasan yang dikemukakan Kepala negara adalah akhir-akhir ini terdengar berbagai analisis para pengamat mengenai peristiwa-peristiwa khususnya gejolak di berbagai tempat.

“Saya menaruh perhatian besar terhadap analisis seperti itu. Karena saya ingin mempelajari apa yang sebenarnya terjadi, apa akar permasalahannya, apa faktor-faktor yang menentukannya dan yang lebih penting lagi apa yang dapat dilakukan pemerintah agar hal-hal itu tidak terjadi lagi,” tegas Presiden.

Kepala Negara kemudian mengatakan “Barangkali lebih dari para pengamat itu, saya sangat prihatin sampai lubuk hati yang paling dalam. Sebab, peristiwa seperti itu menimbulkan banyak korban dan merugikan rakyat banyak. Segala jerih payah dan cucuran keringat serta pengorbanan kita selama bertahun-tahun dalam PJP I dapat terhapus oleh peristiwa yang hanya berlangsung sekejap.”

 

Kemajuan Pesat

Ketika berbicara tentang arti penting ilmu sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara , Kepala Negara menyebutkan sekalipun masyarakat telah mengalami berbagai kemajuan pesat, ternyata timbul persoalan-persoalan sosial yang tidak terduga sebelumnya.

Hal itu menunjukkan bahwa analisis dampak sosial semakin perlu dipikirkan sebelum memulai sebuah rencana pekerjaan yang telah dirancang dengan susah payah tidak akan mencapai manfaat yang optimal apabila masalah sosial budaya dilupakan.

“Sayang sekali analisis sosial yang kita dengar selalu datang setelah sesuatu peristiwa terjadi, dengan dampak yang tidak jarang kurang positif. Yang kita perlukan adalah analisis sosial yang dapat menghindarkan terjadinya hal-hal yang merugikan masyarakat, bangsa dan negara kita,” kata Presiden.

Karena itulah , kepada para ilmuwan sosial yang datang dari seluruh tanah air itu, Presiden menyampaikan harapannya agar mereka dapat membahas masalah profesionalisme di kalangan ilmu-ilmu sosial, bagaimana kriteria dan baku mutu profesionalismenya serta menentukan letak perbedaan dengan ilmuwan dari profesi lainnya seperti dengan orang politik yang profesional.

“Sikap dan sifat profesional tidak dapat dibangun hanya dengan pendidikan belaka, melainkan pula harus merupakan bagian dari kebudayaan. Untuk itu, nilai­-nilai profesional perlu dikaitkan dengan nilai-nilai bangsa, agar profesional Indonesia tidak terlepas dari nilai Pancasila dan tidak bisa terlepas dari jati diri bangsa,” ujar Presiden.

Kepala Negara mengingatkan, walaupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan teknis memungkinkan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa ini, seorang profesional Indonesia haruslah tetap berpegang teguh pada Pancasila.

Perbuatan-perbuatan yang dimungkinkan akibat kemajuan Iptek namun bertentangan nilai-nilai luhur itu antara lain adalah manipulasi informasi, mengutak­-atik gen serta melakukan kloning, kata Presiden.

TIEUOl/C/PU-05/18/03/97   11:50/RPS5.

Sumber: ANTARA (29/03/1997)

__________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 784-785.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.