PRESIDEN: JANGAN PAKSAKAN PEMBANGUNAN MONUMEN YOGYA KEMBALI

PRESIDEN: JANGAN PAKSAKAN PEMBANGUNAN MONUMEN YOGYA KEMBALI

 

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto meminta pembangunan “Monumen Yogya Kembali” agar jangan dipaksakan harus selesai seluruhnya pada tanggal 29 Juni tahun 1989 karena adanya keterbatasan dana.

Harapan Presiden tersebut disampaikan ketika menerirna panitia pembangunan ”Monumen Yogya Kembali” pimpinan Sugiarto serta beberapa pendamping antara lain Mensos Haryati Subadio, Menteri PU, Radinal Mochtar di Bina Graha, Sabtu, kata Koordinator Tim Pengarah Ir. Sunaryono Danudjo.

Sunaryono Danudjo yang jabatan sehari-harinya adalah Dirjen Cipta Karya Departemen PU mengatakan pembangunan monumen ini diperkirakan menelan biaya Rp 6,3 miliar sedang yang sudah digunakan adalah Rp 2 miliar.

“Panitia berusaha menyelesaikannya pada tanggal 29 Juni 1989”.

“Tapi Presiden memberi petunjuk bahwa mengingat keterbatasan dana maka tidak perlu menyelesaikan tuntas namun diusahakan dapat diresmikan tanggal tersebut. Kemudian pembangunannya dilanjutkan kembali,” kata Sunaryono sambil menyebutkan Presiden mengambil perbandingan pembangunan Mesjid Istiqlal.

Monumen ini yang dibangun di atas area 4,5 ha berlantai tiga dengan luas bangunan 6370 m2 adalah untuk mengenang peristiwa bersejarah direbutnya kembali kota ini oleh para pejuang pada tanggal 29 Juli, 39 tahun silam setelah diduduki Belanda.

Pada bangunan berbentuk kerucut ini, di lantai pertamanya terdapat museum, perpustakaan, serta ruang pertemuan. Kemudian di lantai dua terdapat diorama, sedang lantai tiga merupakan tempat hening (graha garba).

Dana pembangunan monumen ini berasal dari masyarakat, tanpa adanya bantuan pemerintah, Inpres, ataupun Banpres. Sekarang pembangunannya berada pada tahap kedua yang sudah selesai 90 persen.

 

 

Sumber : ANTARA (23/04/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 635.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.