PRESIDEN : JANGAN LUPAKAN STRATEGI HADAPI KESULITAN

PRESIDEN : JANGAN LUPAKAN STRATEGI HADAPI KESULITAN[1]

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Presiden Soeharto menyatakan, kesulitan dan tantangan sangat besar yang datang bertubi-tubi, seperti pembakaran lahan dan hutan, musim kemarau yang panjang dan kering, gempa bumi, serta guncangan ekonomi dan moneter yang saat ini masih kita hadapi, jangan sampai membuat kita kehilangan semangat untuk membangun.

“Kesulitan dan tantangan sangat berat itu juga jangan membuat kita melupakan strategi dan tujuan-tujuan pembangunan jangka panjang yang telah kita tetapkan.” kata Presiden pada pembukaan Kongres Kedirgantaraan Nasional terutama dan Peringatan Hari Ulang Tahun Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional Republik Indonesia (DEPANRI) ke-43, Selasa (3/2) pagi di Istana Negara, Jakarta.

Dikatakan, dalam ukuran-ukuran pembangunan suatu bangsa, masa-masa sulit ini tetap merupakan bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia.

“Benar, bahwa bagian yang sulit dari pembangunan bangsa kita itu harus kita atasi sebaik-baiknya dan dengan rasa tanggung jawab yang sebesar-besarnya. Namun, kita tidak boleh melupakan strategi dan tujuan-tujuan jangka panjang.” ujar kepala negara RI ini.

“Hal ini dilakukan dengan terus mengatasi kesulitan-kesulitan yang berada di hadapan kita dewasa ini,” katanya.

“Kita tidak boleh lupa untuk menata diri sebaik­-baiknya dan bersiap-siap untuk melanjutkan pembangunan jangka panjang tadi. Bangsa yang mempunyai cita-cita besar, tidak boleh kecut hatinya menghadapi tantangan. Cita-cita besar hanya dapat diwujudkan jika kita berhasil dengan selamat menjawab tantangan-tantangan dan lulus dari ujian-ujian yang kita hadapi. Dengan memahami persoalan-persoalan yang kita hadapi dewasa ini dan juga memahami tujuan-tujuan jangka panjang kita di masa depan, maka kita akan menyadari pentingnya arti kongres Kedirgantaraan Nasional bagi kehidupan dan pembangunan bangsa kita.”

Pemanfaatan Kedirgantaraan

Pada bagian lain dikatakan, dewasa ini hampir semua bangsa di dunia memanfaatkan kegiatan di bidang kedirgantaraan. Pada masa mendatang, akan makin banyak lagi diperlukan kegiatan kedirgantaraan.

“Dewasa ini, kita menyaksikan terus meningkatnya angkutan udara dan bertambah luasnya pemanfaatan satelit untuk kepentingan komunikasi dan informasi. Di masa-masa yang akan datang, peranan angkutan udara dan satelit untuk kepentingan komunikasi dan informasi akan bertambah luas lagi. Demikian pula pemanfaatan pesawat udara dan satelit untuk memantau sumber daya alam dan lingkungan.” ujarnya.

Ditambahkan, telah lama kita menyadari benar pentingnya peranan kegiatan kedirgantaraan bagi pembangunan. Itulah sebabnya telah lama pula kita membentuk dan mengembangkan lembaga-lembaga kedirgantaraan nasional, seperti DEPANRI, LAPAN dan Bakosurtanal.

“Kita juga terus berusaha keras untuk meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia Indonesia di bidang kedirgantaraan. Kita bersyukur bahwa bangsa kita sekarang telah dapat mengoperasikan satelit, mengembangkan pabrik pesawat terbang dan mengoperasikan Stasiun Bumi Penginderaan Jauh.” papar Presiden.

Dikatakan, kemajuan-kemajuan yang kita capai, tuntutan kebutuhan dan kondisi geografis Tanah Air telah mendorong MPR memasukkan pembangunan kedirgantaraan dalam GBHN 1993.

Menurutnya, ini berarti pembangunan kedirgantaraan telah menjadi bagian yang penting dari strategi nasional kita untuk mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu terwujudnya masyarakat adil dan makmur berdasarkan pancasila dan Undang­ Undang Dasar 1945.

Pembangunan kedirgantaraan kita mengalami kemajuan pesat, tegasnya. Kita telah berhasil menerbangkan pesawat N-250 yang dirancang dan dibuat oleh putra­ putri bangsa Indonesia sendiri. Jasa angkutan udara bertambah maju. Kita dapat mengoperasikan satelit Palapa C-1 dan C-2.

Pemanfaatan data penginderaan jauh meningkat serta kita bertambah maju dalam membuat prakiraan iklim dan cuaca. Dunia usaha kita juga telah mampu mengoperasikan satelit sendiri dalam rangka menyediakan jasa di bidang komunikasi dan informasi.

Di gelanggang Internasional, tambahnya kita berjuang keras untuk mewujudkan perjanjian Internasional yang dapat melindungi kepentingan nasional kita. Kita meratifikasi perjanjian-perjanjian Internasional yang mempunyai nilai strategis bagi pembangunan kedirgantaraan nasional.

Meskipun demikian, lanjutnya, kita menyadari bahwa kemajuan-kemajuan yang kita capai tadi masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai dunia, khususnya di bidang teknologi antariksa. Kita tidak perlu merasa kecewa, yang penting kita memiliki tekad yang kuat untuk meningkatkan pembangunan kedirgantaraan, yang akan kita laksanakan dengan berpedoman pada konsepsi dan kebijaksanaan yang tepat dengan jangkauan jauh ke depan.

Dijelaskan, tiga tahun yang lalu, sidang paripurna pertama DEPANRI telah menetapkan pokok-pokok kegiatan kedirgantaraan serta sasaran yang ingin kita capai dalam kurun waktu PJP II.

Dalam sidang itu, katanya, juga diputuskan bahwa di samping meningkatkan kegiatan ilmiah dan teknis, kita perlu menyiapkan konsepsi dan kebijaksanaan sebagai pedoman untuk lebih memantapkan pembangunan kedirgantaraan.

“Saya mendapat laporan, melalui tim antar departemen telah diambil tindakan­-tindakan lanjutan untuk putusan-putusan sidang paripurna DEPANRI tersebut. Tim antar departemen itu juga telah menyiapkan konsepsi dan kebijaksanaan kedirgantaraan sebagai pedoman dalam pembangunan kedirgantaraan di tahun-tahun yang akan datang. Konsepsi dan kebijaksanaan-kebijaksanaan ini akan menjadi bahan utama pembahasan dalam kongres.” tutur Mandataris MPR ini.

Dalam pembahasan nanti, Presiden meminta agar seluruh peserta berpedoman kepada kepentingan nasional dan memperhatikan apa saja yang diperlukan untuk mendorong pembangunan nasional, serta menuju terwujudnya masyarakat adil dan makmur dan menekankan pentingnya kedirgantaraan sebagai ruang gerak, sarana pemersatu dan sumber daya alam serta letak geografis Tanah Air bagi kehidupan bangsa.

Di samping itu, Presiden juga meminta peserta memperhatikan pengakuan bangsa Indonesia terhadap perjanjian Internasional, dan pendayagunaan nasional maupun untuk kepentingan umat manusia.

“Semuanya ini kita laksanakan dengan prinsip penggunaan secara damai dan untuk maksud damai.” katanya.

Pendayagunaan dirgantara dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian dan memberi peluang bagi dunia usaha swasta sebagai mitra pemerintah dalam pembangunan kedirgantaraan nasional.

“Pelaksanaan keseluruhannya, tetap dalam batas-batas kemampuan ekonomi nasional dalam masa-masa yang sulit sekarang ini.” ujar Presiden.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (03/02/1998)

____________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 13-16.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.