PRESIDEN : JANGAN KELIRU

PRESIDEN : JANGAN KELIRU [1]

Se-olah2 dengan basil minyak semua masalah pembangunan selesai

 

Jakarta, Suara Karya

Kenaikan produksi minyak yang tiap tahun semakin meningkat itu, telah berhasil menunjang Pemerintah dalam usahanya menghimpun devisa. Namun kita semua harus berhati-hati dan menghubungkannya, dalam kerangka masalah2 yang lebih bulat dan seimbang bila mau membandingkan Indonesia dengan negara negara minyak Timur Tengah.

Hal ini dikemukakan Presiden Soeharto dalam pidatonya pada peresmian ladang minyak “Salawati” di Irian Jaya, dan belum berhasil mengatasi masalah-masalah sosial. Tuduhan lain yang lebih berat lagi, ialah bahwa masalah tersebut belum terpecahkan karena merajalelanya korupsi.

“Saya minta kita berhati-hati dalam menilai masalah ini,” kata Presiden menegaskan. Dalam membandingkan dengan negara-negara Timur Tengah yang sedang menikmati petro dolar itu, Presiden mengingatkan dengan menunjuk beberapa perbandingan.

Arab Saudi berproduksi 9 juta barel sehari dengan penduduk sekitar 9 juta. Iran berproduksi 6 juta barel sehari dengan penduduknya sekitar 32 juta. Kuwait berproduksi 1,7 juta barel sehari dengan penduduk hanya 650.000 jiwa. Sedangkan Indonesia, berproduksi hanya 1,6 juta barel sehari namun penduduknya 135 juta.

“Kita wajib bersyukur telah dikaruniai sumber alam yang begitu vital dan memberi manfaat yang sangat besar. Namun janganlah kita takabur, dan mempunyai anggapan yang keliru. Seolah-olah dengan hasil minyak itu kita dapat menyelesaikan segala masalah pembangunan,” kata Presiden.

Produksi Minyak Naik

Presiden dalam pidato peresmian ladang minyak “Salawati” itu membenarkan adanya kenaikan produksi minyak Indonesia sebesar 1,6 juta sehari. “Suatu lonjakan yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan angka-angka produksi sebelum kita melaksanakan Repelita”, katanya. Dari sektor minyak, menurut Presiden, Indonesia banyak mendapatkan devisa. Bahkan dapat dikatakan, sebagian terbesar dari seluruh penerimaan devisa berasal dari sektor minyak.

Peningkatan penerimaan devisa sendiri sangat penting artinya bagi usaha menggerakkan pembangunan. Keadaan tersebut akan terns ditingkatkan, dalam satu dasa warsa mendatang sampai berhasil memiliki industri yang kokoh yang dibangun dengan kekuatan sendiri dan didasarkan pada penggalian sumber-sumber alam sendiri.

Jangan Mengkhayal

Dalam bagian lain pidatonya, Presiden menegaskan kembali landasan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila baru akan dicapai setelah melaksanakan 5 atau 6 kali Repelita secara berlanjut. “Karena itu, untuk kesekian kalinya saya ingin mengingatkan kepada kita semua, jangan kita mengkhayal yang bukan2. Lebih-lebih kita jangan mengharapkan sesuatu yang bukan-bukan,” tegas Presiden.

Dalam peresmian ladang minyak yang berkapasitas 50 barel sehari itu, Presiden mengajak untuk melihat ke depan. Betapapun banyaknya minyak yang terkandung dalam bumi, kekayaan itu terbatas dan akan tiba saatnya akan habis. Oleh karena itu, Presiden mengharapkan agar minyak bumi itu dimanfaatkan seefektip dan seefisien mungkin untuk kepentingan rakyat.

Ladang minyak “Salawati” yang diresmikan Presiden Soeharto kemarin berkapasitas 50 barel sehari. Penggalian dan pengolahan minyak ditangani secara patungan dengan Philips Petroleum Company. Sesuai dengan perjanjian kontrak bagi hasil, Philips Petroleum Company mendapat bagian 15 1/2 dari seluruh hasil minyak setelah dipotong berbagai pajak, dan biaya, sementara Pertamina mendapat bagian 85%. (DTS)

Sumber : SUARA KARYA (09/12/1977)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 492-494.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.