PRESIDEN : JANGAN GUNAKAN POLA PIKIR PERS ASING

PRESIDEN : JANGAN GUNAKAN POLA PIKIR PERS ASING[1]

Jakarta, Media Indonesia

Presiden Soeharto mengingatkan kalangan pers nasional agar tidak menggunakah pola berpikir pers asing dalam meliput peristiwa dalam negeri. Karena pola pikir semacam itu akan mewarnai cara pandang kita terhadap perkembangan diri dan sekeliling diri kita sendiri.

“Saya minta perhatian mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam kerangka pikir pers asing dalam meliput peristiwa dalam negeri Indonesia. Nilai-nilai ini kelihatan makin sering dipakai begitu saja oleh sebagian pers nasional. Padahal kerangka pikir dan nilai-nilai itu bagaikan kacamata yang mewarnai persepsi kita dalam memandang perkembangan diri dan sekeliling kita.” kata Presiden Soeharto ketika memberi sambutan pada upacara peringatan Hari Pers Nasional 97 di Istana Negara, kemarin.

Tampak hadir sejumlah menteri dan tokoh-tokoh pers nasional, termasuk para ketua cabang PWI dari seluruh Indonesia serta sejumlah pimpinan media massa cetak nasional. Antara lain Menpen Harmoko, Ketua PWl Sofian Lubis. Ketua Dewan Kehormatan Pers Jakob Oetama, dan Sekjen PWI Parni Hadi. Acara diakhiri dengan ramah-tamah dalam rangka Idul Fitri, antara Kepala Negara dengan seluruh peserta.

Menurut Kepala Negara, penggunaan ‘kacamata’ asing dalam peliputan pers seperti terlihat akhir-akhir ini mendorong meningkatnya dramatisasi peristiwa,

pengambilan kesimpulan yang tergesa-gesa atau ketidakseimbangan dalam pemberitaan mengenai perkembangan dalam negeri sendiri.

Selain itu, lanjut Kepala Negara, liputan yang dibuat dengan ‘kacamata’ asing tidak mempertimbangkan nilai-nilai yang dianut masyarakat awam.

“Dengan pemakaian ‘kacamata’ yang tidak cocok itu, dapat dimengerti mengapa masyarakat awam banyak yang gelisah dan resah menghadapi perkembangan atau perubahan.” kata Presiden.

Kepala Negara juga mengingatkan peran penting pers nasional, terutama menghadapi abad ke-21 yang tinggal tiga lahun lagi. Untuk itu, pers nasional harus membudayakan dan meningkatkan pelaksanaan kode etik kewartawanan.

“Dengan etik profesi kewartawanan yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila, mudah-mudahan jajaran pers Indonesia dapat berkembang secara profesional dan dengan tetap menjaga jati dirinya ke masa depan.” tegas Presiden.

Menurut Kepala Negara, pembudayaan itu sangat penting agar generasi muda wartawati Indonesia yang tidak mengecap pengalaman sebagai wartawan pejuang, akan dapat meneruskan perjuangan pers nasional untuk mencapai cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sebelumnya, Presiden juga menyinggung pentingnya peranan pers dalam era informasi, sebagai wahana pengembangan dan penegakan nilai Pancasila. Pers termasuk media elektronik perlu menyaring nilai yang perlu ditonjolkan guna diterapkan dan yang tidak dapat dibiarkan masuk dengan bebas.

“Andaikata pun ada nilai yang tidak sesuai tapi berhasil masuk, maka pers dapat membangkitkan kewaspadaan nasional tentang bahayanya, serta menunjukkan bagaimana menangkalnya.” kata Presiden.

Menurut Kepala Negara, kedudukan pers nasional sama sekali tidak terpisah dari tatanan masyarakat di Tanah Air. Pers bukanlah lembaga yang diistimewakan, yang menduduki tempat sebagai kekuasaan tersendiri.

“Pers tidak mempunyai kedudukan yang istimewa apalagi setingkat dengan lembaga kenegaraan yang dibentuk melalui pemilu, dan dengan cara-cara serta wewenang konstitusional.” kata Presiden.

Sebelumnya Menteri Penerangan Harmoko dalam sambutannya mengatakan, pers nasional akan senantiasa melaksanakan tugas, kewajiban dan tanggungjawabnya dengan menempatkan diri sebagai sumber informasi dan penyalur pendapat umum serta menjembatani aspirasi masyarakat.

Namun, menurut Menpen berbagai hambatan, baik eksternal maupun internal, masih sering dihadapi oleh pers nasional.

“Masalah wawasan daya nalar maupun potensi sumber daya manusianya yang dapat menentukan bobot profesionalisme dunia pers, selalu menjadi tumpuan dan prioritas pemecahannya.” kata Harmoko.

Sumber : MEDIA INDONESIA (02/041/1997)

______________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 663-665.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.