PRESIDEN ISTIRAHAT PENUH

PRESIDEN ISTIRAHAT PENUH[1]

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Presiden Soeharto melakukan istirahat penuh selama sepuluh (10) hari, sesuai dengan nasihat Tim Dokter Ahli KePresidenan, dan tetap menjalankan tugas-tugas kenegaraan.

“Sampai hari ini, keputusan beliau akan beristirahat di kediaman saja, di Jalan Cendana.” kata Mensesneg Moerdiono menyampaikan pengumuman di Gedung Utama Sekretariat Negara Jakarta, Jumat (5/12) sore.

Menurut Moerdiono, dalam melakukan istirahat penuh tersebut, Kepala Negara memberi petunjuk kepada Menteri Sekretaris Negara bahwa tugas-tugas kenegaraan akan tetap dijalankan.

“Bapak Presiden memberi petunjuk kepada saya, kepada Sekretaris Negara, untuk meneliti semua surat-surat yang masuk, hanya surat-surat yang sangat-sangat penting, yang dianggap perlu diketahui dan diberi keputusan oleh Bapak Presiden yang akan diajukan dan mohon keputusan dari Bapak Presiden.”  katanya.

Tim dokter ahli kePresidenan, kata Mensesneg, telah memberi nasihat kepada Presiden Soeharto untuk melakukan istirahat penuh, karena hampir sepanjang tahun ini, Presiden Soeharto melakukan kegiatan yang sangat padat, baik di dalam maupun di luar negeri. Lebih-lebih setelah mengadakan perjalanan yang sangat panjang baru­-baru ini ke Namibia, Afrika Selatan, kemudian menghadiri pertemuan para Pemimpin Ekonomi APEC di Kanada, dan diakhiri dengan menjalankan ibadah umroh beserta seluruh keluarga.

“Dapat saya beritahukan untuk catatan, Bapak Presiden melakukan penerbangan, di atas pesawat terbang saja sekitar 63 jam, ditambah dengan waktu pengisian bahan bakar, misalnya di Rio, Brazil, kemudian di Zurich, Eropa dalam perjalanan dari Vancouver ke Jadah, seluruh waktu pengisian bahan bakar itu sekitar dua jam, sehingga seluruh perjalanan Presiden di pesawat terbang meliputi 65 jam. Kalau dihitung dari sudut kilometer saja, perjalanan Bapak Presiden yang terakhir ini meliputi tidak kurang dari 28.500 km. Dapat dibayangkan betapa beratnya perjalanan tersebut.” jelasnya.

 

Dengan alasan yang sama, Presiden Soeharto juga, kata Moerdiono memutuskan untuk membatalkan rencana kunjungan ke Iran. Semula direncanakan Kepala Negara akan menghadiri KIT Organisasi Konferensi Islam (OKI), yang sedianya berlangsung tanggal 9-11 Desember 1997.

“Seperti dimaklumi, tatkala Menlu Iran beberapa bulan lalu datang ke Indonesia dengan membawa surat khusus dari Presiden Iran yang mengundang Bapak Presiden untuk hadir dalam OKI yang dianggap penting ini, beliau telah menyatakan kesediaannya untuk hadir. Akan tetapi, rencana tersebut tidak dapat terlaksana. Untuk itu, bapak Presiden menugasi Menteri Luar Negeri mewakili beliau dan hadir di KTI OKI. Di samping itu, Menlu juga membawa surat pribadi dari bapak Presiden kepada Presiden Iran, untuk menyatakan permintaan maaf beliau, penyesalan beliau karena ternyata tidak dapat hadir pada konferensi OKI seperti yang direncanakan semula.”

Menjawab pertanyaan mengenai kondisi Presiden Soeharto, Mensesneg mengatakan Tim Dokter KePresidenan berpendapat bahwa kesehatan Presiden dalam keadaan yang bagus.

“Sekali lagi karena kegiatan-kegiatan kenegaraan sepanjang tahun yang sangat padat, khususnya perjalanan ke luar negeri terakhir, yang seperti saya katakan tadi, sehingga Tim Dokter Ahli KePresidenan memberi nasihat kepada Presiden untuk melakukan istirahat.” katanya.

Mengenai pertemuan informal para pemimpin ASEAN yang akan diselenggarakan di Kuala Lumpur minggu depan, Moerdiono belum dapat memberi keterangan.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (06/12/1997)

_____________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 96-97.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.