PRESIDEN INTRUKSIKAN PENAMPUNGAN EKS BARANG ASIA DI CAKUNG

PRESIDEN INTRUKSIKAN PENAMPUNGAN EKS BARANG ASIA DI CAKUNG [1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto menginstruksikan agar barang-barang yang dibongkar dari kapal yang melakukan pemuatan pertama di atau memulai pelayaran tahap pertama dari pelabuhan di Asia, penimbunannya harus dilakukan di proyek pergudangan Pemerintah di Cakung.

Instruksi Presiden ini diberikan kepada tiga menteri yaitu Menteri Keuangan, Perhubungan dan Perdagangan dalam rangka peningkatan pelayanan arus barang melalui pelabuhan Tanjung Priok serta selesainya pembangunan proyek pergudangan Cakung oleh Pemerintah,

Dalam instruksi yang berlaku sejak 24 Desember 1977 itu, kepada Menteri Keuangan diberikan hak untuk menetapkan pelaksanaan lebih lanjut tentang penunjukan barang-barang eks-Asia yang ditempatkan di Cakung.

Direktur Pabean Ditjen Beadan Cukai F.H. Punu dalam penjelasan umum kepada para petugas Bea dan Cukai yang akan ditempatkan di Cakung hari Selasa menegaskan, untuk tahap pertama barang-barang yang ditimbun di Cakung adalah yang dibongkar dari kapal yang pemuatan pertama atau memulai pelayaran tahap pertama dari Jepang, Hongkong dan Singapura.

Sebagai contoh ia menyebutkan sebuah kapal yang untuk pertama kali bertolak Tokyo. Dalam perjalanan ke Tanjung Priok singgah di Korea dan Pilipina, sehingga kapal bersangkutan membawa barang eks-Jepang, Korea dan Pilipina.

Sesuai dengan Instruksi Presiden, semua barang yang dibawa kapal bersangkutan harus diangkut ke proyek pergudangan Cakung dan penyelesaiannya juga dilakukan melalui Kantor Wilayah X Ditjen Bea dan Cukai.

Sebaliknya kapal yang memulai pelayaran pertama dari Amerika dan dalam perjalanan singgah di Jepang dan Singapura, maka penumpukan barang dan penyelesaian barangnya dilakukan pada Kantor Wilayah IV Ditjen Bea dan Cukai Tanjung Priok.

Cara Pengangkutan

Direktur Pebean itu menjelaskan pula, pengangkutan barang bersangkutan dari pelabuhan Tanjung Priok ke Cakung dilakukan melalui truk.

Barang dari kapal sedapat mungkin dibongkar langsung ke truk untuk selanjutnya dibawa ke Cakung. Jika tidak memungkinkan, maka barang dapat ditimbun di kade pelabuhan Tanjung Priok paling lambat dalam 2 x 24jam sudah harus diangkut ke Cakung.

Di lain pihak Pemberitahuan Umum tentang barang bersangkutan oleh pihak pelayaran yang mengagem kapal pembawa barang harus diserahkan kepada Kantor Wilayah X Ditjen Bea dan Cukai Cakung.

Sedangkan barang yang diangkut dengan truk ke Cakung sejauh 12 km dan Tanjung Priok harus dilindungi Dokumen Pengangkutan Barang yang dibuat dalam rangkap empat.

Dalam dokumen itu harus dicantumkan mengenai jumlah tokoh dan jenis barang. Selain itu juga disebutkan kapal yang membawa barang, nomor polisi dan truk pengangkut barang, nama supir serta jam berangkat dari Tanjung Priok danjam tiba di Cakung.

Lembaran pertama dari dokumen itu dipegang petugas Bea dan Cukai, lembaran ke dua oleh pihak Bonded Warehouses (BWI) yang mengelola proyek pergudangan Cakung, lembaran ketiga oleh pihak pelayaran dan ke empat sebagai arsip.

Selama dalam perjalanan, barang bersangkutan akan mendapat pengawalan dan petugas Bea dan Cukai. Di jalan antara Tanjung Priok dan Cakung akan ditempatkan pula pos-pos berjalan dari Bea dan Cukai yang sewaktu-waktu dapat melakukan pemeriksaan atas angkutan barang yang dibawa ke Cakung

Entrepot Umum

Selain menampung barang-barang dari negara Asia, pergudangan Cakung juga menjadi entrepot umum, yang menampung barang-barang yang tidak bertuan serta barang tahanan baik di pelabuhan Tg. Priok dan Cakung sendiri.

Menurut Punu untuk menampung barang-barang tersebut, disediakan dua buah gudang yaitu satu untuk barang-barang tidak bertuan (melewati masa timbun 30 hari) di pelabuhan Tg. Priok dan satu lagi untuk barang-barang eks Cakung sendiri.

Khusus untuk penimbunan barang eks Tg. Priok, penyelesaiannya tetap dilakukan di pelabuhan Tg. Priok termasuk penyelesaian di bidang Bea dan Cukai, sedangkan barang eks Cakung diselesaikan di Cakung.

Proyek pergudangan Cakung dapat pula dipergunakan untuk penimbunan barang­barang untuk ekspor dan antar pulau.

Dengan dijadikannya Cakung sebagai Kantor Wilayah X Ditjen Bea dan Cukai, pengelolaan entrepot partikelir dilakukan oleh Kantor Wilayah X Ditjen Bea dan Cukai Cakung. Sehingga 89 buah entrepot partikelir yang tadinya dikelola Bea dan Cukai Tg. Priok dan Halim, mulai Januari 1978 dibina dan dikelola Kantor Wilayah X Ditjen Bea dan Cukai Cakung.

Organisasi Kanwil X

Sementara itu Sekretaris Ditjen Bea dan Cukai Khusmayadi menjelaskan, Kantor Wilayah X Ditjen Bea dan Cukai Cakung, sesuai dengan keputusan Menteri Keuangan, terdiri dari Bidang Tarip. Harga, Pemeriksaan Wilayah, Entrepot dan Pemberantasan Penyelundupan.

Untuk mengelola Kantor Wilayah itu akan ditempatkan 450 orang pegawai Bea dan Cukai termasuk Kepala Kantor Wilayah Tarumaselly, dua orang kordinator sebagai pembantu Kanwil, lima kepala Bidang, 31 orang kepala seksi dan 101 orang golongan II dan 316 orang golongan I sebagai tenaga pemeriksa.

Menurut data yang ada untuk tahap pertama proyek pergudangan Cakung akan menampung 1,3 juta kg barang umum (general cargo) yang berasal dari Jepang, Hongkong dan Singapura, sehingga mengurangi volume yang masuk Pelabuhan Tg. Priok yang sebelumnya berjumlah 5,6 juta ton setahun. (DTS)

Sumber: ANTARA (27/12/1977)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 494-497.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.