PRESIDEN INTRUKSIKAN AGAR SEGERA TERTIBKAN TEBU RAKYAT BEBAS

PRESIDEN INTRUKSIKAN AGAR SEGERA TERTIBKAN TEBU RAKYAT BEBAS

Presiden Soeharto hari Selasa menginstruksikan kepada Menteri Pertanian dan para administratur pabrik gula agar segera mengatasi masalah serta menertibkan Tebu Rakyat Bebas (TRB) yang meskipun jumlahnya kecil namun cukup mengacaukan jadwal penggilingan tebu di pabrik-pabrik gula, terutama di Jawa.

Hal itu diungkapkan Menteri Pertanian Ir.Achmad Affandi setelah ia mengantar lebih dari 40 administratur pabrik gula se Jawa menghadap Presiden Soeharto di Bina Graha Jakarta.

Kepala Negarajuga memerintahkan agar masa penggilingan tebu dipersingkat, karena ia mensinyalir ada pabrik-pabrik gula yang masa penggilingannya sampai enam bulan. Padahal masa penggilingan tebu di Indonesia mestinya paling lama lima bulan.

Kepada para administratur pabrik-pabrik gula, Presiden juga memerintahkan agar pihak pabrik menyediakan bibit untuk keperluan Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI) dengan nanti baik.

Dalam pertemuan hampir satu jam itu Kepala Negara mengemukakan penilaianya, bahwa produktivitas tebu per hektar kini semakin menurun, antara lain akibat pemakaian bibit yang kurang memenuhi syarat.

Menteri Pertanian mengungkapkan, para petani peserta TRI akan dianjurkan memakai tiga jenis bibit (berumur pendek, menengah dan panjang), agar secara alamiah jadwal penggilingan sesuai dengan kematangan tebu.

Presiden Soeharto juga mendorong agar pabrik-pabrik gula segera memikirkan dan membimbing pemanfaatan sisa produksi tebu, antara lain pucuk tebu untuk mak:anan temak. "Ini dibuktikan bisa dipakai dan hasilnya positif’, kata Affandi.

Atas pertanyaan wartawan, Menteri Pertanian mengungkapkan sebagian besar TRB dibiayai "cukong-cukong" (pemilik uang). "Kini akan diusahakan agar para pemilik tanah sendiri yang menanam agar pendapatan mereka meningkat, bukan oleh cukong-cukong", tambahnya.

Menteri juga mengatakan, TRB juga nanti akan dimasukkan dalam program penggilingan tebu dan disesuaikan dengan kemampuan pabrik gula setempat. ”Agar tidak ribut lagi seperti dulu", lanjutnya. (RA)

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (18/10/1983)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 451.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.