PRESIDEN INSTRUKSIKAN MENTERI PERTAMBANGAN AMBIL LANGKAH2 MENINGKATKAN PRODUKSI MINYAK BUMI

PRESIDEN INSTRUKSIKAN MENTERI PERTAMBANGAN AMBIL LANGKAH2 MENINGKATKAN PRODUKSI MINYAK BUMI

Presiden Soeharto menginstruksikan Menteri Pertambangan dan Energi dan Dewan Komisaris Pertamina mengambil langkah2 meningkatkan produksi minyak bumi, baik melalui peningkatan eksplorasi maupun dengan cara "secondary recovery" lapangan minyak yang sudah berproduksi selama ini.

Dalam usaha meningkatkan produksi minyak bumi ini, Kepala Negara menugaskan kepada Dewan Komisaris Pertamina untuk menggarap pemikiran2 agar Indonesia dalam waktu dekat meningkatkan produksi minyak sehingga dapat dimanfaatkan bagi usaha2 pembangunan.

Instruksi untuk meningkatkan produksi minyak bumi ini dikemukakan Presiden dalam pertemuan dengan Dewan Komisaris Pertamina yang diketuai Menteri Pertambangan dan Energi Prof. Dr. Subroto di Bina Graha, Jakarta, Kamis pagi.

Pertemuan ini selain dihadiri anggota Dewan Komisaris lainnya seperti Menteri Keuangan Ali Wardana, Menhankam/Pangab Jendral M. Jusuf, Menko Ekuin Widjoyo Nitisastro, Menteri Perindustrian Ir. A.R.Suhud, dihadiri pula oleh Menpan Sumarlin, Mendagkop Radius Prawiro, Menteristek Prof.Dr.B.J. Habibie, Ketua BKPM Ismail Saleh, Ketua Dewan Komisaris Caltex Pacific Indonesia Tahiya, Dirut Pertamina Piet Haryono dan Dirut Caltex Harun Al Rasyid.

Menteri Subroto selesai pertemuan dengan Presiden itu menjelaskan kepada pers, bahwa Indonesia perlu meningkatkan produksi minyak buminya.

Menteri mengatakan, peningkatan produksi yang harus segera dilaksanakan itu di luar rencana peningkatan produksi yang sudah direncanakan mencapai 1,8 juta barrel per hari dalam Repelita Ill.

Salah satu cara meningkatkan produksi minyak ialah dengan meningkatkan eksplorasi. Eksplorasi yang akan dilakukan itu merupakan eksplorasi baru.

Menteri Subroto mengatakan, dari 40 cekungan cadangan minyak yang diketahui terdapat diIndonesia baru sebagian kecil saja yang telah dieksplotasi atau diusahakan.

Krisis minyak yang ditimbulkan peperangan yang terjadi antara Irak dan Iran diperkirakan akan menyebabkan terjadinya kekurangan minyak baik untuk memenuhi keperluan negara2 industri maupun negara2 sedang berkembang.

Menurut Subroto, kekurangan suplai minyak itu untuk sementara waktu dapat dipenuhi dengan adanya peningkatan produksi minyak oleh beberapa negara anggota OPEC seperti Arab Saudi dan Kuwait.

Namun di lain pihak diperkirakan keperluan akan minyak bumi sebagai sumber energi akan jauh lebih meningkat lagi karena setelah resesi ekonomi dunia berakhir pertumbuhan dan kegiatan ekonomi di berbagai negara maju akan pulih kembali.

Menteri Subroto mengatakan, kebutuhan akan sumber energi ini kemungkinan dapat dipenuhi dengan sumber energi nuklir, air dan gas. Tapi dalam jangka waktu 20 sampai 25 tahun mendatang ini minyak masih akan tetap merupakan sumber energi utama dalam memenuhi kebutuhan negara industri.

Namun kata Menteri Subroto, produksi minyak bumi Indonesia sudah dirasakan manfaatnya terutama dalam menunjang usaha pembangunan.

Dengan produksi minyak bumi sebanyak 1,5 juta barrel per hari itu, Indonesia telah dapat membantu memenuhi kebutuhan minyak bumi beberapa negara anggota ASEAN, bahkan juga negara Asia lainnya seperti Korea Selatan dan Bangladesh.

Dalam usaha menjamin kelancaran suplai minyak ke negara2 ASEAN, Indonesia meminta kepada negara2 ASEAN lainnya untuk ikut-serta dalam meningkatkan eksplorasi.

Negara2 yang nantinya ikut-serta dalam eksplorasi ini, akan didahulukan mendapat suplai minyak. Tapi jika eksplorasi itu tidak berhasil, resikonya ditanggung oleh negara bersangkutan.

Teknologi Baru

Presiden juga menginstruksikan untuk meningkatkan produksi melalui lapangan minyak yang selama ini sudah berproduksi, dengan menggunakan teknologi baru.

Ketua Dewan Komisaris CPI Tahiya menjelaskan bahwa Caltex yang sudah mencoba penggunaan teknologi baru meningkatkan produksi dari lapangan minyak yang sudah ada itu telah berhasil meningkatkan produksi dari lapangan minyak enam sampai tujuh kali lipat.

Dari satu lapangan minyak yang cadangannya diperkirakan 100 barrel misalnya dengan cara2 dan metode yang biasa hanya menghasilkan 12 barrel. Tapi dengan teknologi baru itu dapat menghasilkan 20 sampai 25 barrel.

Secondary recovery lapangan minyak yang sudah ada ini dilakukan dengan tidak merusak cadangan. Dirut Pertamina Piet Haryono menjelaskan bagaimana teknologi baru produksi minyak itu digunakan dalam melaksanakan secondary recovery ini.

Piet Haryono menyebutkan beberapa teknologi yang digunakan dalam secondary recovery. Pertama dengan memasukkan air, kedua memastikan uap air panas dan ketiga dengan menyedot lebih keras.

Dengan cara menyedot lebih keras atau akselerasi produksi itu cadangan minyak di suatu lapangan akan rusak dan cepat habis. Tapi dengan cara memompakan uap panas ke dalam sumur sehingga minyak mentah yang kental dapat lebih dekat pada pipa penyedot, cadangan minyak di suatu lapangan tidak akan rusak.

Selain itu sudah pula dicoba penggunaan cara injeksi gas dalam melakukan secondary recovery sebagai salah satu cara meningkatkan produksi minyak.

Manfaat Usaha Peningkatan Produksi

Menteri Subroto menyatakan bahwa dengan usaha peningkatan produksi minyak selain akan terjadi kenaikan produk dan kenaikan produksi sehari2 di lapangan, lapangan kerja akan bertambah.

Di samping itu pendapatan dan penerimaan negara akan bertambah, akan terjadi pengalihan teknologi, lebih banyak lagi barang dan jasa yang harus diproduksi yang dapat dimanfaatkan dunia usaha nasional serta akan timbulnya kutub baru pembangunan di daerah bersangkutan.

Dalam kesempatan menjelaskan kepada wartawan itu, Menteri Subroto menunjukkan di peta cekungan2 minyak yang terdapat di wilayah Indonesia.

Sampai sekarang cekungan minyak yang sudah diketahui jumlahnya mencapai 40 cekungan. Cekungan2 minyak itu antara lain terdapat di wilayah Sumatera bagian Utara, Sumatera Tengah, Sibolga, Bengkulu, 5umsel, Natuna, Jawa, Kalbar, Kutai, Barito, Selat Malaka, Tarakan, Sulawesi, Bone Sulsel, Banggai, Timor, Sawu, Halmahera, dan Waropen di Irian Jaya. (DTS).

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (16/10/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 819-822.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.