PRESIDEN INSTRUKSIKAN BULOG LAKSANAKAN OPERASI PASAR

PRESIDEN INSTRUKSIKAN BULOG LAKSANAKAN OPERASI PASAR[1]

 

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto memerintahkan Kepala Bulog Beddu Amang melakukan operasi pasar bulan November, Desember serta Januari guna memenuhi kebutuhan pokok rakyat dan agar inflasi tetap rendah.

“Bulog diminta memperhatikan operasi pasar” kata Menpen Harmoko kepada pers di Bina Graha, Rabu ketika menjelaskan hasil Sidang Kabinet Terbatas Bidang Ekku, Wasbang dan Prodis yang dipirnpin Kepala Negara.

Dengan melakukan operasi pasar selama tiga bulan mendatang, Kepala Negara menginginkan kebutuhan pokok rakyat seperti beras, gula, terigu, serta minyak tersedia dalamjumlah yang cukup di pasar.

Instruksi kepada Bulog itu dikeluarkan Kepala Negara agar inflasi yang minus 0,04 persen pada bulan September bisa tetap dipertahankan hingga akhir tahun ini.

Dengan inflasi yang minus 0,04 persen itu, maka inflasi selama tahun anggaran 1996/97 mencapai 1,68 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya 3,75 persen. Sementara itu untuk tahun takwim 1996, inflasi 4,94 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya 6,79 persen.

Harmoko mengatakan deflasi pada bulan September itu disebabkan menurunnya indeks kelompok makanan 0,76 persen akibat penurunan subkelompok bumbu 7,01 persen, sayur 2,87 persen, serta daging 0,73 persen.

Deflasi 0,04 persen itu juga disebabkan kenaikan harga pada kelompok perumahan yang hanya 0,52 persen, dan sandang 0,16 persen.

Bulog diperintahkan melalukan operasi pasar selama tiga bulan untuk memenuhi kebutuhan natal, tahun baru, persiapan bulan puasa dan lebaran, serta musirn hujan.

Dicontohkan oleh Kepala Negara, jika beberapa bulan lalu masyarakat kesulitan memperoleh cabe akibat hujan lebat, maka sejak sekarang cabe harus sudah ditanam di daerah yang curah hujannya tidak terlalu tinggi. Karena itu, Presiden baru-baru ini telah mengirimkan bibit cabe ke Sulawesi Selatan sehingga sekitar bulan Desember­Januari sudah bisa dipanen, saat kebutuhan meningkat.

Harmoko mengatakan sidang yang dihadiri Wapres Try Sutrisno, Menko Polkam Soesilo Soedarman, Menhankam Edi Sudradjat serta Pangab Jenderal TNI Feisal Tanjung juga membahas neraca perdagangan.

Ekspor Indonesia pada bulan Juli mencapai 4,066 miliar dolar AS yang terdiri atas rnigas 909,7 juta dolar dan komoditi nonmigas 3,156 miliar dolar AS. Sementara itu impornya 3,557 miliar dolar AS yang terdiri atas migas 272,4 juta dolar AS dan nomigas 3,285 miliar dolar AS sehingga tercatat surplus 508,5juta dolar AS.

Ekspor selama periode Januari-Juli tahun ini berjumlah 27,548 miliar dolar AS yang terdiri atas rnigas 6,337 miliar dolar AS dan nonmigas 21,211 miliar dolar AS. Sementara itu impornya mencapai 24,818 miliar dolar AS yang terdiri atas migas 2,073 miliar dolar AS serta nonmigas 22,811 miliar dolar AS sehingga terjadi surplus 2,729 miliar dolar AS.

Ketika mengomentari perkembangan ekspor, Presiden minta seluruh jajaran terkait untuk meningkatkan pelayanan mereka kepada para eksportir karena salah satu tugas utama pemerintah adalah meningkatkan ekspor semaksimal mungkin.

(T.Eu02/Eu05/ 2/10/9613:57/RUI).

 

Sumber: ANTARA (02/10/1996)

__________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 437-439

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.