PRESIDEN INGATKAN, PEJUANG TAK MENGENAL PENSIUN

PRESIDEN INGATKAN, PEJUANG TAK MENGENAL PENSIUN

Presiden Soeharto mengingatkan bahwa veteran adalah pejuang, apapun kedudukan dan pekerjaannya sekarang. Pejuang tidak mengenal masa pensiun, karena batas perjuangan adalah kematian.

Berbicara di Istana Negara Sabtu pagi pada acara pengukuhan Dewan Paripurna Pusat dan Pimpinan Pusat Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) selanjutnya Presiden mengingatkan.

"Karena itu selama hayat di kandung badan kita tidak akan berpangku tangan, lebih-lebih bila Pancasila terancam."

Veteran yang mengetahui betapa besar pengorbanan rakyat untuk merebut, mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan bangsa, menurut Presiden Soeharto, tidak mungkin membiarkan rakyat terjerumus pada usaha-usaha untuk berpaling dari Pancasila.

"Pemantapan Pancasila kita rasakan sebagai perampungan tugas historis pada veteran pejuang kemerdekaan." katanya, "karena makin hari makin dekat saat peralihan generasi secara menyeluruh."

Diingatkan peralihan generasi adalah kodrat yang tidak mungkin dihindari. Pada babak-babak terakhir perampungan tugas dan peranan sejarah tersebut, para veteran pejuang tidak ingin mewariskan kehidupan bangsa dan negara di mana Pancasila sebagai ideologi nasional masih belum mantap.

"Kita tidak ingin generasi mendatang menanggung beban sejarah ketidak mantapan ideologi, seperti kita alami dengan segala kepahitannya," tegasnya.

Mengenai pemantapan Pancasila yang paling penting bagi Presiden adalah benar-benar melaksanakan Pancasila dalam nafas, gerakan, arah dan wujud pembangunan di segala bidang seperti yang telah menjadi tekad nasional dalam GBHN.

Presiden Soeharto, Sabtu pagi itu, mengukuhkan Dewan Paripurna Pusat dan Pimpinan Pusat Legiun Veteran, RI untuk masa bakti 1984-1988 dalam suatu upacara di Istana Negara Jakarta.

Pimpinan Pusat Legiun Veteran masa bakti 1984-1988 yang dipimpin Ketua Umum Letjen TNI (Purn) H. Achmad Tahir itu terpilih berdasarkan kongres ke-V Legiun Veteran, di Medan pertengahan Desember 1983.

Sedang Dewan Paripurna Pusat yang turut dikukuhkan itu beranggotakan 75 orang tokoh veteran dari seluruh Indonesia antara lain Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Ali Said SH, Sumitro, M. Karis Suhud, Sudiro, Ny. Arudji Kartawinata, TB Simatupang, OB Sjaaf dan lain-lain.

Achmad Tahir dalam laporannya menyebutkan bahwa warga veteran pejuang yang tercatat secara sah adalah 704.977 orang yang sebagian besar telah lama hidup di tengah-tengah masyarakat sebagai rakyat biasa. Di antara mereka ada yang mampu mandiri, tapi ada pula yang perlu mendapat perhatian. (RA)

Jakarta, Merdeka

Sumber : MERDEKA (30/07/1984)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 779-780.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.