PRESIDEN : IMPOR  JANGAN BERLEBIHAN

PRESIDEN : IMPOR  JANGAN BERLEBIHAN[1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto minta Bulog dan para pengusaha untuk memperhatikan manajemen impor guna menghindari terjadinya kelebihan pemasokan seperti yang terjadi pada impor daging sapi dari Australia.

“Impor jangan sampai berlebih.” kata Kepala Bulog Beddu Amang kepada pers setelah menemui Kepala Negara di Bina Graha, Selasa untuk melaporkan persiapan penyediaan berbagai kebutuhan selama puasa dan lebaran.

Kepala Negara mengungkapkan kebutuhan daging sapi untuk DKI Jakarta dan sekitarnya adalah 37.000 ton yang kemudian ditambah hingga menjadi 46.000 ton/bulan guna memenuhi kebutuhan yang meningkat selama bulan puasa dan lebaran.

Namun ternyata akibat tidak teraturnya impor maka sekarang saja di pasar tercatat persediaan sebanyak 63.000 ton.

Akibatnya, kata Presiden, daging itu tidak akan dapat dipasarkan seluruhnya. Hal itu bisa merugikan importir karena ada di antara mereka yang menggunakan kredit bank.

Tiadanya manajemen impor juga mengakibatkan harga sapi di Australia meningkat karena mereka melihat importir Indonesia berlomba-lomba membeli daging sapinya.

“Karena seorang importer membeli sapi Australia maka yang lain juga ikut-ikutan.” kata Beddu ketika menggambarkan tiadanya perencanaan/manajemen impor.

Sementara itu, ketika ditanya tentang persediaan beras, Beddu Amang mengatakan jumlahnya mencapai 1,8 juta ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan selama sembilan bulan disamping operasi pasar selama lima bulan.

Beddu Amang yang disertai Mensesneg Moerdiono ketika menemui Kepala Negara mengatakan operasi pasar tahun 1995 mencapai 1.1 Juta ton. Pada tahun ini, operasi pasar mungkin hanya memerlukan beras sekitar 600.000 ton.

Alasan Bulog tentang mengecilnya kebutuhan untuk operasi pasar itu adalah karena hasil panen sekarang ini cukup baik.

Perhepi

Sebelum melaporkan kegiatan Bulog, Beddu Amang juga menemui Kepala Negara sebagai Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) bersama beberapa pengurus lainnya antara lain Ir. Dillon.

Perhepi pada bulan November 1995 mengadakan pertemuan ilmiah guna membahas berbagai masalah pertanian di tanah air.

Kepala Negara mengatakan sekalipun pusat perhatian pemerintah dan petani sekarang ditujukan pada pangan khususnya beras, perhatian juga seharusnya dicurahkan pada sektor lainnya seperti kelapa sawit dan hortikultura .

Ketika mengutip ucapan Presiden tentang masalah ini, Beddu Amang menyebut masalah sawit. Indonesia sekarang memproduk si 4,5 juta ton minyak sawit mentah/ CPO tiap tahunnya.

Sementara itu Malaysia telah mampu memproduksi tujuh juta ton CPO. Peluang Indonesia di pasar dunia cukup besar karena produksi Malaysia sudah hampir mencapai puncak atau mengalami kejenuhan.

Karena itu, Presiden minta Perhepi memberikan masukan secara konkret tentang peningkatan produksi berbagai komoditi pertanian perdaerah/kawasan serta per komoditi.

Sumber : ANTARA (16/01/1996)

_____________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 266-267.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.