PRESIDEN: IAIN PERLU LAKUKAN KAJIAN KEISLAMAN BERWAWASAN MODERN

PRESIDEN: IAIN PERLU LAKUKAN KAJIAN KEISLAMAN BERWAWASAN MODERN[1]

 

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto minta IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta IAIN-IAINnya untuk mengembangkan kajian keislaman secara akademis yang berwawasan modern tanpa menghilangkan unsur-unsur khas ke-Indonesiaannya.

“Ajaran Islam yang bercorak universal itu dapat ditelaah dengan menggunakan berbagai pendekatan untuk lebih memperkaya wawasan dan pemahaman kita.” kata Presiden di kampus IAIN Syarif Hidayatullah di Ciputat, Jakarta, Selasa, saat upacara HUT ke-40 institut itu.

Kepala Negara, yang didampingi Menteri Agama Tarmizi Taher serta Rektor IAIN Quraish Shihab, menyebutkan IAIN Syarif Hidayatullah harus menjadi perguruan tinggi Islam yang tidak hanya terkemuka di tanah air tapi juga sejajar dengan perguruan tinggi Islam di negara IAINnya.

“Unsur khas keislaman dalam kajian akademis keislaman yang kita harapkan dari institut agama Islam ialah kajian yang berkaitan dengan Pancasila yang kita pegang teguh bukan hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai pandangan hidup dan falsafah bangsa kita.” kata Presiden.

Kepada ribuan mahasiswa dan mahasiswi IAIN Syarif Hidayatullah, Kepala Negara mengingatkan,

“Warisan khasanah intelektual Islam yang sangat kaya memerlukan kajian dan telaahan untuk menemukan relevansinya dengan problematika zaman sekarang dan yang akan datang.”

Kepada para dosen dan seluruh civitas akademika perguruan tinggi Islam ini, Presiden menyebutkan pula bahwa kajian keislaman yang diharapkan itu adalah kajian yang menghargai kemajemukan masyarakat, aliran dan kecenderungan pemikiran keagamaaan yang berbeda-beda.

 

Kurang perhatian

Dalam acara Lustrum ke-8 IAIN Syarif Hidayatullah itu, Presiden Soeharto mengatakan ajaran Islam sebenarnya sangat menekankan asas musyawarah dalam menyelenggarakan kehidupan bersama.

“Namun, sayangnya, dalam khasanah pemikiran Islam di masa lalu, pemikiran tentang konsep musyawarah agak kurang mendapat perhatian sebagaimana mestinya.” kata Presiden.

Karena itu,dalam rangka menghadapi berbagai perubahan masyarakat ke arah yang lebih demokratis, maka institut agama Islam diharapkan memberikan sumbangan dan gagasan-gagasan segar untuk memperkaya wawasan demokrasi berdasarkan Pancasila yang telah disepakati bersama.

Kepala Negara juga mengemukakan, AI-Qur’an telah menyatakan bahwa Allah SWT menciptakan manusia dari seorang lelaki dan seorang wanita, dan kemudian menjadikan mereka berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya mereka dapat saling mengenal.

Umat manusia makin menyadari perbedaan-perbedaan. Namun dialog antar peradaban perlu terus ditingkatkan untuk menumbuhkan perdamaian dan suasana saling pengertian .

“Dalam suasana kemajemukan masyarakat itulah, saya mengharapkan institut agama Islam ini dapat menjadi pusat kajian Islam yang berprestasi tinggi, namun penuh toleransi.” Kata Presiden.

Universitas Islam

Sebelumnya, Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Prof Quraish Shihab melaporkan lembaga pendidikan yang dipimpinnya ini telah menetapkan Rencana lnduk Pengembangan Jangka Panjang Kedua.

“IAIN Syarif Hidayatullah diarahkan pada upaya pengembangan yang tidak hanya menjadikannya sebagai pusat keunggulan keilmuan Islam, tetapi juga pusat keunggulan keilmuan modern dalam panduan moral agama.” kata Quraish.

Karena itulah, IAIN ini sedang memikirkan penataan kembali semua fakultas dan jurusannya agar sesuai dengan tuntutan perkembangan IPTEK dan peningkatan kualitas SDM bangsa.

“Inilah yang berada di balik gagasan transformasi IAIN Jakarta menjadi Universitas Islam negeri Jakarta.” katanya.

Ia mengatakan pula bahwa dengan transformasi itu, maka Indonesia dapat tampil sesuai dengan harapan umat Islam internasional agar Indonesia mampu tampil menjadi pelopor dalam kebangkitan tata dunia baru yang lebih agamis.

(T.Eu01/RS01129/07/9713:54/0K01/B)

Sumber: ANTARA (29/07/1997)

______________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 534-536.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.