PRESIDEN: HURU-HARA TAK BISA ATASI KESULITAN

PRESIDEN: HURU-HARA TAK BISA ATASI KESULITAN[1]

 

 

Jakarta, Republika

Presiden Soeharto menegaskan, huru-hara tidak dapat membantu pemerintah dan bangsa Indonesia dalam mengatasi kesulitan yang sedang kita hadapi.

“Hanya dengan pikiran yang jernih dan dengan keikutsertaan kita semua, kita akan keluar dari kemelut ini dalam waktu yang tidak terlalu lama,” tandas Kepala Negara ketika membuka Musyawarah Nasional V Dharma Wanita di Istana Negara, Senin (13/4).

Selain menanamkan dan memelihara kesehatan lahir batin di dalam keluarga serta mendorong penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh kaum muda. Presiden mengingatkan adalah menjadi kewajiban kita bersama untuk tetap memelihara kejernihan berpikir kita semua terutama dalam situasi yang sulit sekarang ini.

“Kita patut bersyukur, bahwa walaupun ada berbagai gejolak dan unjuk rasa di sana sini, namun seluruhnya itu masih diresapi oleh rasa tanggungjawab yang besar terhadap segala kemajuan yang sudah kita capai selama ini,” tegas Kepala Negara.

Menurut Presiden, sejak dilantik 16 Maret lalu, seluruh jajaran Kabinet Pembangunan VII telah bekerja keras merumuskan berbagai kebijakan reformasi ekonomi dan keuangan yang diperlukan. Seluruhnya itu dilakukan bekerja sama dengan badan-badan PBB yang terkait serta dengan negara-negara sahabat.

Pada dasarnya, kebijakan reformasi ekonomi dan keuangan itu akan dilaksanakan dengan konsisten. Ditambahkannya, hanya dengan sikap yang konsisten itulah kita akan dapat keluar dari kemelut ekonomi dan keuangan secara bertahap.

“Saya yakin jika kita semua seluruh lapisan dan golongan dalam masyarakat bersatu padu mengerahkan segala kemauan dan kemampuan kita, maka kita pasti akan dapat mengatasi semua tantangan dan ujian yang kita hadapi, betapapun beratnya tantangan dan ujian tadi,” tambahnya.

Kepala Negara juga meminta agar ibu-ibu Dharma Wanita terus membantu para suami serta meringankan beban mereka dalam mengabdi kepada nusa dan bangsanya. Dalam situasi yang berat seperti sekarang, sambung Pak Harto, tugas para suami yang menjadi pegawai negeri memang bertambah berat.

“Mereka dituntut untuk bekerja lebih keras dan lebih tekun lagi dengan sarana dan prasarana yang semakin terbatas dan dengan penghasilan yang pas-pasan,” kata Presiden.

Dalam acara yang dihadiri Wapres BJ Habibie danNy Hasri Ainun Habibie serta sejumlah Kabinet Pembangunan Vll, lebih lanjut Kepala Negara meminta dalam situasi serba sulit sekarang ini, hendaknya para ibu anggota Dharma Wanita mampu menumbuhkan sikap gotong royong dalam mengatasi masalah-masalah bersama yang dihadapi oleh kaum ibu.

Pada awal sambutannya, Presiden Soeharto menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dharma Wanita atas pemberian tanda penghargaan kepada almarhumah Ny Tien Soeharto.

“Tanda penghargaan yang diberikan kepada istri saya sebagai ungkapan penghargaan dan terima kasih atas jasa-jasa yang diberikan almarhumah kepada Dharma Wanita semasa hidupnya, itu sungguh membanggakan kami sekeluarga. Mudah-mudahan, hal-hal yang telah dilakukan oleh almarhumah bagi Dharma Wanita dapat terus membawa manfaat bagi organisasi ini,” ujar Presiden.

Sementara itu, dalam laporannya Ketua Umum Dharma Wanita masa bakti 1993-1998 Ny Hartini Hartarto, Musyawarah V Dharma Wanita yang akan berlangsung selama dua hari 14-15 April, diikuti 267 orang. Terdiri atas presidium masa bakti 1993-1998, presidium masa bakti 1998-2003, utusan dari Unit Dharma Wanita tingkat pusat, Utusan dari Dharma Wanita provinsi, dan unsur pengurus pusat Dharma Wanita. (dam)

Sumber: REPUBLIKA (14/04/1998)

____________________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 264-265.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.