PRESIDEN : HINDARI SIKAP DAN PERILAKU EMOSIONAL

PRESIDEN : HINDARI SIKAP DAN PERILAKU EMOSIONAL[1]

 

Jakarta, Media Indonesia

Presiden Soeharto mengingatkan semua pihak harus mampu menempatkan kepentingan bersama, kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan.

“Kita semua harus berpikir lebih jernih, bersikap lebih lapang dada serta menjauhi sikap dan perilaku emosional.” tandas Kepala Negara saat menyampaikan Pidato Akhir Tahun 1996 melalui Siaran Televisi dan RRI yang dipancar teruskan ke seluruh Tanah Air.

Untuk itu, kata Presiden, di masa mendatang bangsa Indonesia harus mencegah terulangnya berbagai gejolak seperti yang terjadi selama tahun lalu.

Dalam tahun 1996, ungkap Kepala Negara, kita mengalami berbagai gejolak di masyarakat. Gejolak tersebut, tutur Presiden, ada yang dilatarbelakangi oleh sebab­-sebab sosial, budaya, politik, ekonomi, maupun agama.

“Kita harus menyadari bahwa sekecil apa pun gejolak yang terjadi di tengah masyarakat, jika tidak segera diatasi, dapat membawa akibat yang merugikan kepentingan bangsa Indonesia secara keseluruhan.”

Menurut Presiden, memang tidak mudah memelihara stabilitas nasional dalam suatu negara kepulauan dengan tingkat kemajemukan yang sangat tinggi seperti Indonesia. Masyarakat yang majemuk, jelas Kepala Negara, memiliki bibit kerawanan, yang kalau tidak ditangani dengan sungguh-sungguh dapat menimbulkan berbagai gejolak.

Presiden mengemukakan, kendati selama 1996 terjadi berbagai gejolak, namun secara umum telah dicapai kemajuan yang sangat berarti. Di bidang politik, kata Kepala Negara, berbagai gagasan muncul ke permukaan untuk lebih menyegarkan kehidupan demokrasi.

Dalam tahun 1996, ujar Presiden, kekuatan sosial politik dan ormas melakukan rangkaian kegiatan konsolidasi organisasi.

“Sebagai wadah partisipasi warga negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, kita semua berkepentingan agar orsospol dan ormas kukuh dan berfungsi dengan baik, terlebih karena tahun 1997 ini akan diselenggarakan pemilu.” tutur Kepala Negara.

Pemerintah mendorong keterbukaan dan kegiatan lainnya untuk meningkatkan mutu demokrasi. Namun, Kepala Negara mengingatkan, harus tetap memperhatikan rambu-rambu agar gagasan dan aspirasi baru itu jangan sampai lepas kendali.

Di bidang ekonomi, ungkap Presiden, dicapai berbagai kemajuan penting dengan pertumbuhan yang tetap tinggi yaitu sekitar 7,8%. Laju inflasi bisa ditekan hingga hanya mencapai 6,7%, yang berarti lebih rendah dibanding laju inflasi tahun 1995 yang mencapai 8,6%.

Kepala Negara memperkirakan, perekonomian tahun ini akan mengandung berbagai kemungkinan yang sulit diramalkan dan harus menjadi perhatian bersama.

Sumber : MEDIA INDONESIA (02/01/1997)

______________________________________________________________________
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 10-11.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.