PRESIDEN: HARUS BERANI MENGATAKAN YANG BENAR DAN YANG SALAH

PRESIDEN: HARUS BERANI MENGATAKAN YANG BENAR DAN YANG SALAH

 

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto menegaskan kembali, pengalaman sejarah di masa lampau harus dijadikan pelajaran dengan sebaik dan sebijaksana mungkin untuk menjadi bangsa yang kukuh dan kuat. Tetapi segera diingatkan oleh Presiden, bahwa agar pelajaran yang dipetik dari sejarah masa lampau memberi makna positif, tidak sebaliknya menjadi beban yang berkepanjangan, diperlukan keberanian untuk mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah.

“Dengan mengatakan yang benar adalah benar, kita akan dapat terus melanjutkannya dengan penuh keyakinan. Dengan mengatakan yang salah adalah salah, kita akan dapat menghindarkan kesalahan yang sama dengan penuh kesadaran,” demikian antara lain diamanatkan Presiden pada upacara peringatan Hari ABRI, Rabu, di Jakarta.

Kepala Negara mengatakan, sejarah menunjukkan bahwa dengan berpegang teguh kepada Sapta Marga, dengan kesetiaan yang sebulat-bulatnya kepada Pancasila dan dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, ABRI bersama kekuatan­kekuatan Pancasila berhasil menumpas pemberontakan G 30S/PKI pada akhir tahun 1965. Sadar akan tanggungjawab sejarahnya bagi kebahagiaan dan ketenteraman rakyat Indonesia di masa datang, ABRI mengajak seluruh bangsa Indonesia untuk merenung ulang seluruh pengalaman sejarah sebelum tahun 1966 dan mengoreksinya. Inilah latar belakang lahirnya Orde Baru yang sejak semula diperjuangkan secara demokratis dan konstitusional.

Presiden menegaskan, bangsa Indonesia telah bertekad agar tragedi nasional yang berpuncak pada pemberontakan G30S/PKI di tahun 1965 itu merupakan pengalaman pahit yang terakhir dan tidak akan terulang kembali sepanjang zaman. Tekad ini harus dipertebal lagi setiap kali memperingati Hari Kesaktian Pancasila pada tanggal 1 Oktober.

“Kebulatan tekad itu marilah kita wujudkan dengan mengamalkan Pancasila sebaik-baiknya dan melanjutkan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila. Sesuai dengan Sapta Marga yang diucapkan dan diyakini oleh setiap Prajurit ABRI, maka hidup dan matinya Prajurit ABRI adalah untuk Pancasila,” ujar Kepala Negara.

Pada kesempatan itu Presiden juga mengatakan, Repelita V nanti akan merupakan kurun waktu yang berat. Situasi ekonomi dunia diperkirakan masih akan tetap tidak menguntungkan pembangunan.

Di dalam negeri sendiri masih harus diatasi masalah-masalah sosial ekonomi yang besar, seperti perluasan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, pemerataan hasil-hasil pembangunan, peningkatan derajat kesejahteraan rakyat, pendidikan, perumahan dan masalah­masalah sosial lainnya.

 

Membangun

Panglima ABRI Jenderal TNI Try Sutrisno menjawab pertanyaan wartawan selesai upacara parade dan defile Hari ABRI ke-43, mengatakan, Dwi Fungsi adalah semangat, tekad dan pengabdian ABRI bersama-sama seluruh komponen bangsa Indonesia untuk membangun. “Yang jelas Dwi Fungsi ABRI harus berhasil,” katanya.

Dengan berdwifungsi menurut Panglima, kita tetap konsekuen dan selalu correct pada jalur yang benar yaitu, Pancasila baik sebagai filosofi, sebagai dasar negara maupun sebagai ideologi, yang diatur dalam UU dan aturan lainnya. Jadi harus dalam satu kerangka, yang tidak menyimpang dan tidak ditarik-tarik ke kanan atau ke kiri.

Sementara itu, Kasau Marsekal TNI Utomo kepada Suara Karya mengatakan, sampai saat ini belum ada rencana pengadaan baru peralatan TNI-AU kecuali pembelian dan pengadaan pesawat F-16 Fighting Falcon.

Menurut Kasau, peralatan yang ada sekarang masih dalam kondisi cukup baik. Karena itu, kata Marsekal berbintang empat yang juga menjabat Ketua Umum Federasi Aero Sport Indonesia ini, upaya yang dilakukan oleh TNI-AU adalah melakukan pemeliharaan secara intensif terhadap peralatan yang dimiliki.

 

Parade Dan Defile

Keseluruhan proses upacara parade dan defile Hari ABRI ke-43, berlangsung dalam suasana sederhana dan penuh khidmat.

Atraksi perkelahian sangkur yang diperagakan oleh satuan Brigade Infantri Lintas Udara (Brigif Linud) 17 Kujang I Kostrad, melibatkan 500 prajurit TNI-AD dipimpin Sertu Eko Muntoro (Bintara Pelatih Kie Senapan A Yonif Lindu 328).

Secara garis besar, atraksi yang menampilkan kemampuan dasar keprajuritan ini mengetengahkan gerakan dasar perkelahian sangkur, gerakan rangkaian, dan gerakan perkelahian bebas. Pada gerakan yang disebut terakhir, selain dilakukan dengan tangan kosong juga menggunakan alat bantu seperti, tongkat, masker dan baju pelapis.

Sedangkan, perkelahian sangkur memeragakan pengetahuan bela diri militer. Pada atraksi terbang lintas satuan udara TNI-AU, 12 pesawat yang masing­masing terdiri dari 4 pesawat HS Hawk, 4 pesawat A-4 Sky Hawk dan 4 pesawat F-5 Tiger,melakukan terbang bersama dalam mass formation, lalu secara berturut­turut ketiga jenis pesawat milik TNI-AU ini membentuk Formasi Box dan Arrow Head.

Tim HS Hawk, A-4 Sky Hawk dan F-5 Tiger masing-masing dipimpin oleh Mayor Pnb Ida Bagus Sanubari, Mayor Pnb Suprianto dan Mayor Pab Basri Sidehabi.

Bertindak komandan upacara parade dan defile Hari ABRI ke-43, Kolonel Inf Haris Sudarno, Komadan Korem di Surabaya, sedangkan pembaca Sapta Marga, Letda Inf Nurdin Noatji, Pama Batalyon 20 1/Jaya Yudha Brigif I/Jaya Sakti Kodam Jaya.

 

 

Sumber : SUARA KARYA (06/10/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 425-427.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.