PRESIDEN HARAPKAN PENINGKATAN KERJASAMA DENGAN PAKISTAN

PRESIDEN HARAPKAN PENINGKATAN KERJASAMA DENGAN PAKISTAN

Indonesia sangat prihatin terhadap terjadinya suasana permusuhan antara Irak dan Iran karena berkelanjutannya peperangan tersebut tidak hanya akan membawa penderitaan kepada rakyat kedua negara, tapi juga akan mengganggu dan merusak perdamaian dunia.

Keprihatinan terhadap pertikaian bersenjata antara dua negara yang merupakan sahabat Indonesia itu dikemukakan Presiden Soeharto dalam pidato balasannya pada jamuan malam kenegaraan yang diselenggarakan Presiden Pakistan Zia Ul Haq di Benteng Lahore, kota Lahore, Pakistan Jumat malam.

Presiden menyatakan bahwa kenyataan ini menyadarkan semua pihak bahwa dunia harus dihindarkan dari bahaya kehancuran yang diakibatkan oleh perang.

Presiden mengharapkan semua negara menyadari dan tidak mengambil langkah­langkah yang memperburuk keadaan yang sudah rumit itu.

Meskipun kemungkinan ada perbedaan ruang lingkup dan penekanannya, Presiden menyatakan keyakinannya bahwa pembangunan suatu masyarakat merupakan masalah paling besar yang dihadapi umat manusia dewasa ini, lebih-lebih lagi di negara-negara sedang berkembang.

Lebih dari dua pertiga umat manusia masih menghadapi perjuangan maha besar untuk mengatasi keterbelakangan dan kemiskinan serta penyakit dan bahaya kelaparan. Namun keadaan umum dunia dewasa ini belum mencerminkan pemusatan perhatian dan semua usaha menanggulangi keterbelakangan dan kemiskinan tersebut.

Presiden memaparkan masih terus berlangsungnya ketidakadilan dalam perekonomian dunia dan keadaan terus semakin timpang karena negara-negara maju semakin maju sementara negara-negara berkembang kelihatannya semakin terbelakang.

Ketidakadilan perekonomian dunia ini merupakan hambatan utama bagi kelancaran pelaksanaan pembangunan negara-negara di dunia, terutama sekali negara­negara berkembang.

"Ini juga merupakan halangan pokok bagi terciptanya suatu tata ekonomi dunia yang baru yang sama-sama kita cita-citakan", kata Presiden.

Sementara itu, kata Presiden, persaingan dan perebutan pengaruh antara kekuatan-kekuatan besar di dunia tampaknya meningkat kembali, yang sering berpengaruh terhadap kawasan dan negara lain.

Perkembangan akhir-akhir ini semakin mengancam perdamaian dunia, karena ada kekuatan asing yang melakukan intervensi dengan menggunakan kekuatan militer terhadap negara lain.

Dalam hubungan ini pula Presiden menyatakan bahwa sebagai sahabat dari kedua belah pihak yang terlibat dalam pertikaian, Indonesia sangat prihatin terhadap timbulnya suasana permusuhan antara Irak dan Iran.

Pentingnya Tukar Pandangan

Presiden mengharapkan semua negara hendaknya menyadari bahwa penggunaan kekuatan bersenjata tidak akan merupakan jalan keluar untuk memecahkan masalah.

Dalam kurun waktu sekarang ini, hubungan antar bangsa dan peradaban sudah sampai pada suatu tahap di mana tidak ada satu negara pun, bagaimanapun kuatnya yang mampu dan dapat memaksakan kehendaknya kepada negara lain.

Bahkan sebaliknya semua negara di dunia harus berusaha mengembangkan hubungan yang harmonis, yang dilandasi dengan asas saling menghormati dan saling mengambil manfaat.

Presiden menyatakan keyakinannya, sebagai dua negara berdaulat yang bersahabat, Pakistan dan Indonesia mempunyai jawaban terhadap masalah-masalah tersebut, apakah dalam hubungannya dengan pembangunan masin-masing negara, dalam hubungan dengan masalah regional dilingkungan masing-masing negara atau dalam hubungannya dengan masalah internasional.

Presiden mengatakan bahwa jawaban terhadap berbagai masalah tersebut kemungkinan tidak sama karena kedua negara mempunyai prioritas nasional yang berbeda. Tapi kedua negara senantiasa dapat mengambil manfaat dari pertukaran pandangan dan saling tukar pengalaman sehingga dapat dicari jawaban yang lebih dalam mengatasi masalah yang sama-sama dihadapi.

Dalam hubungan ini Presiden menekankan pentingnya pembicaraan-pembicaraan yang akan dilakukannya selama kunjungan di Pakistan.

Presiden mengharapkan kunjungannya di Pakistan kali ini lebih meningkatkan lagi hubungan persahabatan, memperdalam saling pengertian dan memperluas kerjasama antara kedua negara.

Inti Kelanjutan Perjuangan

Pada bagian awal pidatonya, Presiden menyatakan bahwa bangsa Indonesia selalu mengikuti dengan perhatian penuh kerja-keras yang dilakukan bangsa Pakistan dalam membangun hari depan yang lebih baik.

Sebagai sama-sama negara berkembang, kata Presiden, bangsa Indonesia tidak hanya mengerti aspek material dari usaha pembangunan tapi juga mengerti semangatnya yang paling mendalam karena bangsa Indonesia pun sedang berada dalam perjuangan besar untuk mendapatkan kehidupan material dan spiritual yang lebih baik.

Sama sibuknya dengan bangsa Pakistan sekarang ini, bangsa Indonesia pun sedang bekerja keras untuk memperbaiki kehidupan sosial dan ekonominya.

Bangsa Indonesia menganggap kata Presiden bahwa kemajuan dan kesejahteraan yang dilandasi dengan keadilan sosial, merupakan inti dari kelanjutan perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan yang berhasil dicapai dengan pengorbanan yang besar.

Presiden juga memaparkan falsafah negara Indonesia, Pancasila yang merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia lengkap dengan pengertian masing-masing dari kelima silanya. Dalam kesempatan itu, Presiden mengundang Presiden Pakistan dan Begum Zia Ul Haq untuk berkunjung ke Indonesia.

Hari Senin ini Presiden dan rombongan meninggalkan Pakistan untuk kunjungan kenegaraan sampai 4 Desember di India. (DTS).

Lahore, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (11/12/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 706-709.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.