PRESIDEN HARAPKAN PANDU WREDA WARISKAN SEMANGATNYA

PRESIDEN HARAPKAN PANDU WREDA WARISKAN SEMANGATNYA

 

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto hari Selasa mengharapkan kepada para Pandu dan Pramuka Wreda untuk mewariskan semangat serta jiwa kepanduan dan kepramukaan kepada anak-anak dan generasi muda agar mereka kelak dapat mengatasi segala tantangan yang mereka hadapi.

Dalam sambutannya ketika membuka Munas IV Himpunan Pandu dan Pramuka Wreda di lstana Negara, Jakarta, Presiden mengatakan bahwa pendidikan luar sekolah yang antara lain dilakukan melalui Gerakan Pramuka perlu ditingkatkan karena Gerakan Pramuka merupakan salah satu wadah penting untuk menggembleng tunas-tunas bangsa agar siap menghadapi masa depan.

“Pengalaman memang menunjukkan bahwa pendidikan bukanlah tanggung jawab sekolah semata-mata. Sebagian besar waktu anak-anak dan para remaja kita justeru di luar sekolah,” katanya.

Semua Pandu dan Pramuka Wreda, tambahnya, memiliki keyakinan bahwa apabila anak-anak dan remaja punya jiwa serta semangat pandu yang tinggi, mereka pasti mampu menjawab segala tantangan kehidupan dengan ketekunan, keuletan, ketabahan, kegairahan, dan tanpa mengenal putus asa.

Pada acara yang dihadiri Wakil Presiden Sudharmono dan beberapa menteri Kabinet Pembangunan V tersebut, Kepala Negara mengingatkan bahwa sama halnya dengan di masyarakat-masyarakat lain, masa remaja merupakan masa pancaroba dan penuh kepekaan bagi generasi muda Indonesia.

Lebih-lebih lagi karena kini mereka hidup dalam kurun waktu terjadinya perubahan-perubahan besar dalam masyarakat Indonesia, karena kemajuan­kemajuan yang dibawa oleh pernbangunan dalam persiapan memasuki tahap tinggal landas.

“Oleh karena itu kita berkewajiban membina dan mengarahkan perkembangan para remaja itu agar potensi dinamis mereka berkembang ke arah yang positif. Mereka adalah andalan dan harapan kita, mereka adalah rnasa depan kita,” tandasnya.

Menurut Presiden, Negara RI merupakan negeri yang terbuka, dan keterbukaan tersebut tidak mungkin dihindari meskipun disadari bahwa keterbukaan membawa risiko, terutama dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia.

“Melalui pendidikan dan juga Gerakan Pramuka, kita berusaha memperkukuh ketahanan mental dalam menjawab berbagai tantangan yang harus mereka hadapi,” demikian Kepala Negara.

Ketua Umum Himpunan Pandu dan Pramuka Wreda (HPPW), Suwarma, melaporkan bahwa Munas yang dijadwalkan berlangsung beberapa hari di Jakarta itu diikuti utusan dari 20 daerah.

HPPW dibentuk tahun 1973 oleh para aktivis kepanduan zaman dulu.

Namun, sejak Munas Gerakan Pramuka di Dili, Timor Timur, tahun 1988, himpunan tersebut diakui sebagai bagian otonom Gerakan Pramuka.

Sebelum ada Gerakan Pramuka, yakni pada masa penjajahan Belanda, ada sejumlah organisasi kepanduan di Indonesia, antara lain KBI, Hisbullah, Hisbulwathan, Pandu Rakyat, Natipey dan IPO, di samping NIPV yang dibentuk oleh Pemerintah Hindia Belanda.

 

 

Sumber : ANTARA(07/03/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 594-595.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.